Phantomhive Part 2- Kuroshitsuji Yaoi

kuuro

“Selamat pagi, Bochan.” Sebastian menyibakkan tirai gorden, membuat sinar matahari menyerbu masuk menerangi kamar. Ciel spontan menyipitkan matanya karena terangnya sinar matahari.

          Ah… sudah lama sekali aku tidak merasakan silaunya matahari, pikir Ciel sambil menggosok-gosokkan kedua kelopak matanya dengan jarinya. Ia memperhatikan Sebastian, butlernya yang sedang menakar daun teh dan mengucurkan air panas ke dalam teko keramik bermotif cina. Ia menoleh ke pemilihan baju hari ini, kemeja putih dengan jas biru tua.

          “Teh pagi ini adalah green tea yang diimport langsung pagi ini dari produsen teh terkenal di Cina.” Sebastian dengan lihai membantu masternya berpakaian, lalu berjalan menuju meja teh sambil menuangkan cairan teh ke dalam cangkir bermotif ukiran unik.

          Ciel menghirup aroma teh tersebut, mencicipinya sedikit dan mengeluh, “Teh yang dulu menjadi favoritku sekarang terasa seperti air pahit dilidahku.”

          Sebastian tersenyum geli sambari menerima cangkir teh yang habis dari tangan masternya, “Well, anda harus melatih ekspesi nikmat anda, Bochan. Jangan sampai anda terlihat tidak menikmati hidangan yang menjadi favorit manusia.”

          “Ya… aku tahu.” Jawab Ciel sambil berjalan menuju jendela kamarnya. Ia melirik ke tamannya yang tertata rapi seperti baru. Ia berbalik menghadap Sebastian, “Dan kuduga hari ini aku tidak mempunyai jadwal ?” tanya Ciel walaupun sebenarnya ia sudah mengetahui jawabannya. Entah mengapa saat ia tidur di kamarnya sendiri dan terbangun dengan aktifitas seperti saat ia masih berumur 13 tahun, ia masih merasa bahwa ia manusia. 50 tahun yang cukup cepat ini membuat pikirannya lebih cemerlang dan tentu saja tinggi badannya pun bertambah.

          Sebastian memegang dagunya, “Kemarin sesuai dengan perintah anda, saya telah mengosongkan jadwal yang berhubungan dengan dunia Iblis untuk sementara waktu.”

          Ciel mengangguk pelan sambil berjalan menuju Sebastian yang sudah bersiap memakaikan jasnya, “Kalau begitu mari kita hidupkan Phantomhive.”

          “Saya mengerti.” Jawab Sebastian sambil mengangguk.

.

.

“Saya membawakan surat dari sang ratu.” Sebastian mengulurkan surat yang tersegel dengan lilin di atas nampan. Ciel mengambil surat itu lalu merobek lilinnya. Ia membaca sekilas lalu mengangkat pandangannya ke arah Sebastian. Nyala api perapian membuat mata biru Ciel mengkilat memantul.

          “Ratu meminta kedatangan Earl of Phantomhive ke istana untuk membahas pengangkatan kembali gelar Earl kepada kepala keluarga Phantomhive.”

          Sebastian mengangguk pelan, “Akhirnya. Itu artinya anda sudah semakin dekat dengan tujuan anda semula.” Selama tiga hari ini masternya sudah mulai menempatkan dirinya kembali menjadi penguasa jalur bawah tanah dan surat dari Ratu sekarang inilah yang mereka tunggu.

          “Dan aku akan kembali menjadi Guard Dog lagi, yang akan dimanfaatkan dan akan dibuang saat Ratu mulai merasa bahwa aku mulai membahayakan dirinya.” Jawab Ciel kecut.

          “Dengan keadaan anda sekarang ini, kurasa anda tidak perlu khawatir. Bukankah Sang Ratu sekarang adalah anak dari Sang Ratu 50 tahun yang lalu.” Jawab Sebastian, “Umur manusia cepat bertambah, 10 tahun atau 50 tahun tidak ada artinya bagi kita.”

          Ciel mengangkat bahunya, “Tidak mungkin lebih parah dari Sang Ratu yang memanfaatkan Angel sebagai butlernya.” Dalam hidupnya, Ciel pernah bertemu dengan 1 angel yang bahkan lebih sadis daripada iblis sendiri.

          “Ah setelah anda menjadi iblis, anda lebih membela iblis yang notabene berada disisi gelap daripada malaikat yang berada disisi terang.” Bisik Sebastian tepat ditelinga sambil memegang bahu Ciel yang membelakanginya. Setelah 50 tahun dan sang Master bertambah tinggi memudahkannya untuk melakukan hal semacam ini.

          “Tidak masalah terang atau gelap karena jiwaku telah ternoda.” Jawab Ciel sambil menunjukkan kedua matanya yang sekilas berkilat merah. “Tidak ada simbol kebaikan didunia ini, yang ada hanya pemerintahan corrupt yang akan menghisap secara perlahan jiwa-jiwa murni.”

          Sebastian tersenyum, “Seperti anda, My Lord ?” Sebastian menggunakan telunjuknya untuk mengangkat dagu Ciel. “Anda mempunyai jiwa yang tetap suci walaupun telah tenggelam dalam di laut kegelapan. Karena itulah saya berada disisi anda, meramu anda dan mengarahkan anda saat anda tersesat.”

          “Merasa menyesal karena kehilangan jiwaku-makanan yang kau tunggu-tunggu-, Sebastian ?” bisik Ciel, menolak memalingkan pandangannya dari Sebastian yang telah berhasil menjulurkan tangannya menyentuh ringan pipinya.

          Sebastian terdiam seperti terhipnotis hingga akhirnya tersenyum tipis, “Hingga sekarangpun saya masih ingin mengetahui rasa jiwamu, My Lord.” Bisik Sebastian. Ia menjilat pipi Ciel yang membuat bulu kuduk Ciel merinding. “Apakah manis seperti rasa jiwa seorang bayi yang baru dilahirkan, Apakah segar seperti perawan gereja. Saya selalu bertanya-tanya saat memandang anda.”

          “Sebastian.” Ciel mengulurkan tangannya ke dada Sebastian lalu mencengkram lehernya. Sebastian tersentak. “Jauhkan pikiranmu dariku.” Kata Ciel dengan pandangan dingin.

          “Maafkan kata-kata saya tadi, My Lord.” Jawab Sebastian sambil berlutut didepan Ciel.

          “Pastikan untuk mengontrol dirimu, Sebastian. Aku tidak akan mentoleransi kesalahan  yang sama.” Kata Ciel dingin seraya beranjak pergi menuju kamar tidur. Sebastian mendengar bunyi kunci yang menandakan bahwa ia sudah tidak diperlukan lagi malam ini. Kedua bola mata Sebastian berkilat merah.

          Yes, my Bochan….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s