Phantomhive Part 1- Kuroshitsuji Yaoi

kuuro

In memory of

Ciel Phantomhive

Who died at Aug 26th 1889

AGED 13 Years

1939 – 50 tahun sejak kehancuran keluarga Phantomhive

          Mansion yang terletak didalam hutan tersebut merupakan mansion utama keluarga Phantomhive. Properti Earl of Phantomhive juga termasuk hutan dan desa-desa yang mengelilingi mansion. Saat ini mansion tersebut terlihat seperti reruntuhan. Mansion itu masih berdiri tegak walaupun terlantar selama 50 tahun sejak Earl of Phantomhive terakhir hilang tanpa jejak.

Dinding-dinding batu yang selalu digosok dan dibersihkan setiap hari sekarang dipenuhi lumut dan tumbuhan merambat. Pintu utama yang dulu selalu dipoles dan dipenuhi kesan mewah terlihat lunak dan menghitam karena cuaca. Taman mansion terlihat kotor, dengan daun-daun berserakan dan tidak terurus.

          Pemuda itu berdiri di depan mansion tersebut. Tubuhnya tegak dan terlihat dari bahasa tubuhnya bahwa saat ini ia merengut. Kedua bola matanya menatap dingin kerusakan dari mansion Phantomhive. Di belakangnya, seorang pemuda berambut hitam dengan tinggi 183 cm terlihat memperhatikan punggung pemuda didepannya. Matanya yang sewarna darah melirik mansion berupa reruntuhan tersebut dengan pandangan bosan.

          Pemuda berambut biru tersebut berjalan perlahan menuju taman yang dulu merupakan taman mawar. Pandangan matanya seperti menerawang saat mengarah ke jendela kamar yang dulu merupakan kamar tidurnya. Angin berhembus kuat, titik titik air hujan mulai mengucur dari langit.

          “Bochan…” pelan, suara lelaki dibelakangnya seakan menyadarkannya kalau ia terlalu terbawa suasana melankolis.

          “Sebastian.” Ia berbalik dan menatap lelaki dibelakangnya dengan pandangan tak terbaca. Sejak kecil ia memang sudah melatih dirinya untuk menetralkan ekspresi wajahnya, sampai sekarang kebiasaan tersebut menjadi kelebihan yang selalu menolongnya di setiap situasi yang rumit.

          “Anda menyesalinya ?” Senyum tersungging di wajah Sebastian. Setelah beberapa tahun terperangkap bersama sang master didepannya, akhir-akhir ini ia merasa ia harus menikmatinya.

          Ciel Phantomhive tersenyum. Senyum sang iblis berwajah malaikat. Kedua bola matanya berubah dari biru sekelam lautan menjadi merah. Ia menyibakkan rambut basah yang menutupi matanya karena angin dan hujan, membuat kesan iblis yang kentara. Sebastian bergidik senang.

          “Tidak ada yang patut disesali.” Jawabnya tegas. Ciel berjalan dengan langkah lebar dengan gaya khas bangsawannya, ia berjalan melewati Sebastian dan berbalik tepat saat Sebastian memutar tubuhnya. “Ayo kita kembali, Sebastian.” Senyum khas malaikatnya masih tersungging.

Sebastian tersenyum tipis sambil menundukkan tubuhnya. Bersama bochan tidak akan membuatku bosan, pikirnya geli.

“Yes, My Lord.”

—- —–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s