My Lord My Love [Part 5 Ver, 2]

seo

Title : My Lord My Love [Part 5 Ver. 2]

Author : Nidya 123

Genre : Romance, Fantasy,

Type : Series

Main Cast :

Choi Sooyoung as Persephone

Choi Siwon as Hades

Jung Yonghwa as Poseidon

Seohyun as Underworld Witch

Hi all ! Ini versi keduanya dari My Lord My Love Part 5. Tapi fokusnya kebanyakan buat Yonghwa dan Seohyun couple.  Happy reading !

Sooyoung.

Sooyoung membelalakkan matanya. Sejenak ia tidak mempercayai apa yang ada didepannya. Rumahnya. Ya benar, ini rumahnya. Ia tidak pernah melupakan pondok kayu dengan gulir-gulirnya yang menghipnotis, atapnya yang miring serta jendela tempat ia biasanya menopang dagu didalam kamar. Kamarnya. Apa ibu ada disana? Ibu?

Sooyoung.

Suara itu lagi. Tapi ia hapal dengan nada suara yang memanggilnya barusan. Melodi yang sama mengalun saat ia berumur lima tahun, mengalun mengalirkan sebuah cerita dongeng, menyuruhnya berhati hati dengan monster diluar rumah.

Ibu

“Ibu ? Kau dimana?” Sooyoung melihat sekelilingnya. Tidak ada. Ia hanya melihat rumahnya. Tanpa getaran apapun. Sepi. Sunyi. Senyap. Pikiran terlintas dibenaknya, inikah yang harus dialami ibunya semenjak ia menghilang ? pulang, menunggunya dalam keadaan sepi? Hati sooyoung seketika sakit, jantungnya berdebar kencang.

Sudah waktunya kau pulang, gadis kecilku Soo. Sekarang.

Air mata Sooyoung jatuh perlahan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.

“Aku- aku tidak bisa ibu. Aku-aku benar benar …”

Hush. Jangan pernah mengatakan satu kata itu. ingat Sooyoung, jangan pernah mengatakannya dihadapan monster itu. ia tidak akan pernah mengembalikanmu pulang.

“Bukan, ibu! Siwon bukan monster! Ia mencintaiku! Dan aku..”

IA TIDAK AKAN PERNAH MENCINTAIMU SOOYOUNG! HATINYA HITAM, GELAP SEGELAP JIWANYA! JIWA YANG SUDAH DIKOTORI OLEH BERBAGAI MACAM KENISTAAN DI NERAKA!!

“Bohong!!! Ia begitu lembut, ibu! Ia mencintaiku! Aku ingin bersama dengannya, mencintainya juga dengan segenap jiwaku, memeluknya…”

Kau tega kepadaku, Soo? Kau mau membiarkanku mati? Menjalani hidup ini hanya dengan menunggumu pulang? Hanya kau alasanku hidup, Soo. Pulanglah. Aku hanya ingin melihatmu sekali saja, merasakanmu di pelukanku. Aku ibumu Soo!

Sooyoung mendekap kedua tangannya kewajahnya, air matanya merembes. Ia tidak menyadari kalau ia juga merindukan ibunya. Ibu yang protektif dan selalu menyayanginya. Hanya sebentar. Ia akan kembali pada ibunya, lalu membujuk ibunya untuk merelakannya. Hanya saat itu ia akan bebas, kembali pada Siwon. Pada pangeran kegelapannya. Sekarang terlalu berbahaya.

“Bagaimana…. aku keluar dari sana ?” tanya Sooyoung lirih dari sela sela tangannya.

Kau ingin kembali padaku kan, Sooyoungku ?

Sooyoung mengangguk lirih.

Changmin memberitahuku. Ada satu jalan keluar dari neraka ke bumi ini. Amulet. Kau harus mendapatkan amulet yang disimpan oleh penyihir yang tinggal di dalam hutan. Lalu pergilah ke danau. Kau harus membayangkan rumah ini, Soo. Bayangkan aku, bayangkan kehidupan kita didunia ini. Itulah jalan satu-satunya kau bisa kembali ke bumi.

Sooyoung menegakkan tubuhnya, menatap nanar di kejauhan.

Kau harus kembali padaku, Soo gadis kecilku.

 

Sooyoung membuka matanya tiba-tiba. Debar jantungnya berdentum hebat. Ia menatap nyalang dari ranjangnya, melihat dengan lega kamarnya yang biasa. Ia merasa dirinya dirobek secara perlahan dan menyakitkan. Ia menghembuskan napas keras, menghempaskan kepalanya diatas bantal. Sooyoung menatap langit-langit kamarnya yang diiukir dengan indah. Ia merasa sayang meninggalkan dunia yang telah menjadi tempat tinggalnya selama beberapa waktu ini.

Sudah saatnya ia pulang.

****

Seohyun sedang mengatur ulang pondok kecilnya. Walau penampilan luarnya menjanjikan keselarasan dan sesuatu yang stagnan tapi sebenarnya ia orang yang gampang sekali bosan. Karena itu setiap minggu ia selalu mengatur perabotan dipondoknya untuk memberikan nuansa suasana baru, mungkin dengan memindahkan sofa itu ke samping kanan bara api atau memindahkan tungku ke bagian lain pondok dengan sekali jentikan jari.

Seohyun berpikir keras. Kedua lengannya terlipat dengan gerakan seorang anak kecil yang ingin dibelikan permen. Uhm, harus kupindahkan kemana ranjangku? Minggu lalu ia sudah memindahkan kearah timur, berarti sekarang… barat? Bukannya barat sudah tiga minggu lalu?

Ia sedikit terperanjat mendengar ketukan pintu di pondoknya. Sudah lama sekali sejak ia terakhir menerima tamu. Well, sejak beberapa abad yang lalu.

Seohyun menyeberangi ruangan pondoknya dan membuka pintu dengan hanya terbuka 5 cm, matanya menyelidik, menelusuri tubuh tamunya.”Siapa kau?” tanya Seohyun dengan ketus. Ramah tamah tidak ada dalam kamusnya, tidak di underworld ini.

Seorang gadis dengan pandangan mata gelisah mencoba tersenyum walau senyumnya malah membuat penampilannya semakin memprihatinkan. “Aku Sooyoung. Dewi musim semi.”

Seohyun ragu. Apa yang sedang dilakukan dewi musim semi di dunia kematian ini? Menggelikan.

“Aku tahu. Aku sendiri adalah dewi musim panas.” Jawab Seohyun dengan serius.

Sooyoung terperangah. “Benarkah ?”

Seohyun memutar bola matanya. “Tentu saja aku sedang mempermainkanmu. Ada urusan apa menjadi tamuku tiba-tiba ?” Memutuskan tampang polos tamunya itu nyata, Seohyun membuka pintu pondoknya lebar-lebar, isyarat ajakan masuk. Ia menuntun Sooyoung untuk duduk di sofa kuningnya yang miring melintang di ruang tamu pondoknya.

“Ada yang bisa kubantu? Walau aku belum tentu membantumu juga” tanya Seohyun dengan nada bersahabat.

Sooyoung merilekskan badannya di sofa, “Aku… sudah waktunya aku kembali ke dunia atas, maukah aku meminjamkan aku amulet yang bisa membawaku keluat dari sini ?”

Seohyun mengerutkan keningnya. Ia mengalihkan pandangannya pada kuku-kuku jarinya yang lentik, “Aku tidak bisa membantumu.” Ujar Seohyun ringan, “Karena aku tidak menyimpan amuletnya.”

Sooyoung mengeluarkan raut wajah kecewanya, “Lalu siapa yang membawanya ?” tanyanya dengan suara kaku, sedih karena tiba-tiba saja harapannya jatuh berkeping keping.

“Sang Poseidon, Yonghwa.” Jawab Seohyun. “Dan aku yakin ia tidak akan menyerahkannya. Sama sekali.”

Sooyoung mengangguk, “Aku pernah bertemu dengannya.” Jawabnya spontan,

“Yonghwa ? kau pernah bertemu Yonghwa? Kapan?” tanya Seohyun dengan keterkejutan yang besar. Sejenak Sooyoung terdiam, ia bimbang apa harus memberitahu yang sebenarnya, tapi setelah melihat sinar mata gadis didepannya yang bersinar sedih, ia terpaksa luluh.

“Baru-baru ini. Ia mengunjungi Siwon saat itu.”

“Sesuatu yang jarang sang Poseidon meninggalkan daerah kekuasaannya untuk pergi mengunjungi dunia kematian. Pasti dia punya urusan yang mendesak selain mengunjungi Siwon, kutebak ia sedang memilih-milih teman tidur saat itu.” sergah Seohyun dengan nada getir.

Sooyoung menggeleng pelan, “Aku tidak cukup mengenalnya sehingga dapat berkomentar tentangnya.” Jawabnya dengan nada halus. Seohyun menatap Sooyoung serius. Waktu berjalan lama dan yang bisa Sooyoung lakukan saat ini adalah menegakkan bahunya tegak tegak dan menatap balik Seohyun dengan serius.

“Seberapa serius kau ingin keluar dari dunia ini ?” tanya Seohyun tiba-tiba dengan suara serak. Kedua tangannya mengatup menandakan ia mempunyai ide dan sedang berusaha menyusun strategi.

Deadly*” (*sangat serius) ujar Sooyoung.

Seohyun berdiri lalu mengulurkan tangannya dihadapan Sooyoung, “Then, deal.”

“Mmm.. Lalu apa balasan dari bantuanmu padaku ?” tanya Sooyoung ragu.

Seohyun terdiam sejenak, dengan tersenyum kecil ia melambaikan tangannya dengan ringan, “Pada suatu hari, suatu saat nanti aku ingin kau membantuku melanggar beberapa aturan yang ada dan aku akan memastikannya.”

 

*****

Pemuda itu hanya memakai sesuatu yang sederhana, kemeja putih dengan lengan panjang yang dilipat kembali secara asal asalan sehingga memamerkan setengah otot lengannya dan celana panjang kain hitam yang mampu membalut kaki kuatnya secara sempurna. Rambut hitamnya yang kali ini dipotong pendek bergoyang santai tertiup angin. Disebelahnya sebuah trisula tampak bersender dengan nyaman pada pohon tua, ikut bersantai seperti pemilik disebelahnya. Yonghwa mendesah pelan, bersyukur ia tidak terlalu menyesali keputusannya memotong habis rambut panjangnya. Setelah memotong dengan brutal rambutnya ia merasakan rasa puas. Sekarang ia disini, masih di dunia bawah, dengan satu alat pancing yang sama sekali tidak pernah menghasilkan satu ekor ikan pun untuk ditangkap. Bukan berarti ia membutuhkan makan seperti manusia biasa lainnya.

Yonghwa menikmati semilir angin yang membawa kesan berbeda saat ia berada di dunia atas dan dunianya. Di dunia laut, dunia kekuasaanya, angin yang berhembus akan terasa asin dan membuat lengket rambut, didunia atas anginnya menyegarkan dan beraroma matahari. Tapi disini, angin dunia kematian yang berhembus terasa manis, sesuatu yang mampu menggoda dan manjerumuskan kedasar yang paling dalam.

Tapi ia masih disini. Tanpa melakukan apa-apa. Hanya memancing seperti menunggu sesuatu. Yonghwa mendesah, menyibakkan rambut depannya kebelakang dan bersiap bersantai lagi.

“Tuan Yonghwa, apa yang kaulakukan disini ?”

Yonghwa melirik kearah suara itu dan mendapati seorang pemuda berambut hitam dengan notes ditangan menatapnya dengan tatapan penasaran dan takjub. Senyum cepat menghiasi bibir Yonghwa, “Ah Kyuhyun. Sudah lama aku tidak melihatmu.”

Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya, “Setahuku kau tidak akan mau berada disini kalau tidak terpaksa, Milord. Apakah Siwon tahu mengenai kau yang menetap sejak..” Kyuhyun memeriksa notesnya sekilas, “… tepatnya seminggu yang lalu ?”

Yonghwa mengedikkan bahunya sekilas, “Aku yakin Siwon sudah mengetahuinya. Awal kedatanganku aku sudah memberi salam kepadanya dan kekasihnya.”

“Ah maksudmu nona Sooyoung. Pasti kau sengaja memilih saat mereka berduaan saat memberi salam.” Ujar Kyuhyun jahil. Nadanya memberitahukan Yonghwa dengan pasti bahwa Kyuhyun pun pernah melakukan hal yang sama. Yonghwa meringis geli.

“Hal yang bagus menurutku salah satu dari tiga dewa penguasa mengunjungi underworld. Walau aku tidak bisa mengkritik gaya pemerintahan Siwon karena dia memang sempurna dan adil tapi dia benar-benar kaku.” Kata Kyuhyun berdiri disamping Yonghwa.

“Kami semua memang kaku. Semua dewa kaku. Seorang dewa yang baik itu adalah dewa yang kaku. Persahabatan dan cinta itu akan menghancurkan keadilan dalan menegakkan hukum yang berlaku.” Yonghwa menyilangkan kakinya.

Kyuhyun tersenyum jahil, “Karena aku menyambutmu saat ini, suatu saat aku main ke dunia laut, kau akan mengijinkanku kan ?”

Yonghwa tersenyum balik dengan hangat, “Aku pasti akan memanggangmu dengan trisulaku saat kau menginjakkan satu kaki di depan gerbang pembatas dunia.”

Kyuhyun merengut sebal, “Jahat sekali. Akan kulaporkan pada Siwon.”

“Jangan coba-coba. Kalau kau masih sayang dua kepalamu yang lain, jangan coba-coba.”

“Touche.” Kata Kyuhyun sambil memutar bola mata.

******

Seohyun berdiri dengan napas tertahan. udara disekelilingnya mulai mendingin. Tubuh mungilnya terlindungi dengan berada tersembunyi dibalik pepohonan yang rimbun. Sambil bersembunyi dan mengatur energi yang keluar dari tubuhnya hingga keberadaannya tersamarkan ia memperhatikan tenda didepannya. Tidak ada yang istimewa dari tenda itu. Warnanya putih denga ukuran yang lumayan besar untuk satu orang. Seohyun yakin hanya satu orang. Ia ingat amulet itu berada di tangan Yonghwa. Seohyun sendiri yang memberikan amulet itu pada Yonghwa. Sebenarnya ia tidak perlu bersusah payah membantu Sooyoung, si dewi musim semi itu. Tapi ia penasaran dan butuh alasan. Alasan untuk mendekati Yonghwa dan bertanya dengan blak blakan mengapa The Mighty Poseidon, Yonghwa, mau tinggal di underworld tanpa para pelayan yang menjejerinya sambil  mengikir kuku jari tangan dan kakinya seperti di dunia laut.

Well, bukan berarti ia tahu para pelayan Yonghwa mengikir atau tidak karena nyatanya kuku tangan Yonghwa terpotong dengan bentuk sederhana dan rapi, ia hanya mengandaikan. Intinya, Seohyun ingin tahu apa yang ingin dicari Yonghwa sampai berkorban sebesar ini. Lagipula, memangnya tidak apa apa ia meninggalkan singgasananya selama ini?

Seohyun ingat saat ia memberikan amulet itu kepada Yonghwa. Saat Seohyun sendiri masih polos dan naif, ceroboh, bodoh serta memimpikan adanya cinta sejati sang pangeran. Tiba – tiba datang Yonghwa, dengan ketampanan klasik, terluka, sekarat dan lemah. Sang Poseidon yang terlempar ke dunia bawah karena pertarungan melawan Kronos. Keluarganya yang merupakan keturunan tabib penyihir tersembunyi underworld menurunkan bakat sihir penyembuhan dan kutukan padanya, membuat Seohyun ditakuti tanpa perlu bersusah payah. Ia menemukan Yonghwa didekat danau penghubung satu arah antara dunia atas dan dunia bawah. Seohyun sendiri menduga Yonghwa sudah berkali kali mencoba terjun didanau itu demi mencapai dunia atas yang malah membwanya kembali ke dunia bawah. Berulang-ulang. Salah satu aturan dunia bawah, kau dapat masuk dengan mudah tapi bermimpilah untuk dapat keluar. Hanya amulet itu yang bisa membuat Yonghwa yang saat  itu kehilangan sebagian besar kekuatannya untuk bisa kembali ke Olympus. Seohyun sendiri mengerti kenapa Yonghwa meninggalkannya. Yonghwa hanya bersembunyi untuk sementara karena luka-lukanya dalam perang Kronos dan setelah lukanya sembuh ia harus segera bergabung kembali dengan dua saudaranya. Yang membuat Seohyun marah, Yonghwa tidak mengatakan apapun saat meninggalkannya. Tidak ada surat, pesan atau apapun.

Seohyun menyelipkan seutas rambutnya yang jatuh ke dagunya dan mengerutkan bibirnya. Tenda didepannya sepi dan sunyi. Seohyun memejamkan matanya, memusatkan energinya dan memfokuskan pada apa yang ada didalam tenda itu. Diluar dugaan perabotan tenda itu tidak banyak, cenderung kosong. Seohyun melihat satu buah kursi dan satu meja, dengan kasur tipis dan selimut yang dilipat dan diletakkan di ujung. Dimana Yonghwa ? pikir Seohyun. Energinya menelusuri jejak makhluk hidup didalam dan diluar tenda. Ia hanya bisa merasakan dirinya sendiri.

“Hai goddess.”

Bisikan yang ia dengar dekat dengan telinganya membuat Seohyun langsung membalikkan badan. Napas tersengal keluar dengan spontan dari paru-parunya. Seohyun masih bisa merasakan gerakan bibir di telinganya yang sekarang terasa panas.

Didepannya sesosok lelaki dengan rambut hitam pendeknya, berbeda dengan rambut panjangnya dulu, berdiri dekat sekali sambil menumpu pada tongkat trisula. Diwajahnya terukir senyuman angkuh dan matanya. Demi Zeus, matanya masih sama mempesona seperti dulu. Mata itulah yang membuat Seohyun mampu melanggar sederet peraturan keluarganya dulu.

“Senang bertemu denganmu lagi, goddess.” Bisik Yonghwa pelan, ia membawa tangan Seohyun yang masih lemas dan mencium punggung tangannya, mengabaikan Seohyun yang masih terpaku melihatnya. Yonghwa penasaran apa yang dipikirkan Seohyun sekarang.

 

 

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s