My Lord My Love Part 5

1211

Title : My Lord My Love Part 5

Author : Nidya 123

Genre : Romance, Fantasy,

Type : Series

Main Cast :

Choi Sooyoung as Persephone

Choi Siwon as Hades

Hyoyon as Demeter

 

*Disarankan sudah baca atau akan baca chapter sebelumnya, kalo belom baca ntar ndak nyambung lohh ^^

MAAFFFF Laamaaa banget baru bisa ngepost sekarangg *BOW*

 

Happy Reading

 

Sooyoung.

Sooyoung membelalakkan matanya. Sejenak ia tidak mempercayai apa yang ada didepannya. Rumahnya. Ya benar, ini rumahnya. Ia tidak pernah melupakan pondok kayu dengan gulir-gulirnya yang menghipnotis, atapnya yang miring serta jendela tempat ia biasanya menopang dagu didalam kamar. Kamarnya. Apa ibu ada disana? Ibu?

Sooyoung.

Suara itu lagi. Tapi ia hapal dengan nada suara yang memanggilnya barusan. Melodi yang sama mengalun saat ia berumur lima tahun, mengalun mengalirkan sebuah cerita dongeng, menyuruhnya berhati hati dengan monster diluar rumah.

Ibu

“Ibu ? Kau dimana?” Sooyoung melihat sekelilingnya. Tidak ada. Ia hanya melihat rumahnya. Tanpa getaran apapun. Sepi. Sunyi. Senyap. Pikiran terlintas dibenaknya, inikah yang harus dialami ibunya semenjak ia menghilang ? pulang, menunggunya dalam keadaan sepi? Hati sooyoung seketika sakit, jantungnya berdebar kencang.

Sudah waktunya kau pulang, gadis kecilku Soo. Sekarang.

Air mata Sooyoung jatuh perlahan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.

“Aku- aku tidak bisa ibu. Aku-aku benar benar …”

Hush. Jangan pernah mengatakan satu kata itu. ingat Sooyoung, jangan pernah mengatakannya dihadapan monster itu. ia tidak akan pernah mengembalikanmu pulang.

“Bukan, ibu! Siwon bukan monster! Ia mencintaiku! Dan aku..”

IA TIDAK AKAN PERNAH MENCINTAIMU SOOYOUNG! HATINYA HITAM, GELAP SEGELAP JIWANYA! JIWA YANG SUDAH DIKOTORI OLEH BERBAGAI MACAM KENISTAAN DI NERAKA!!

“Bohong!!! Ia begitu lembut, ibu! Ia mencintaiku! Aku ingin bersama dengannya, mencintainya juga dengan segenap jiwaku, memeluknya…”

Kau tega kepadaku, Soo? Kau mau membiarkanku mati? Menjalani hidup ini hanya dengan menunggumu pulang? Hanya kau alasanku hidup, Soo. Pulanglah. Aku hanya ingin melihatmu sekali saja, merasakanmu di pelukanku. Aku ibumu Soo!

Sooyoung mendekap kedua tangannya kewajahnya, air matanya merembes. Ia tidak menyadari kalau ia juga merindukan ibunya. Ibu yang protektif dan selalu menyayanginya. Hanya sebentar. Ia akan kembali pada ibunya, lalu membujuk ibunya untuk merelakannya. Hanya saat itu ia akan bebas, kembali pada Siwon. Pada pangeran kegelapannya. Sekarang terlalu berbahaya.

“Bagaimana…. aku keluar dari sana ?” tanya Sooyoung lirih dari sela sela tangannya.

Kau ingin kembali padaku kan, Sooyoungku ?

Sooyoung mengangguk lirih.

Changmin memberitahuku. Ada satu jalan keluar dari neraka ke bumi ini. Amulet. Kau harus mendapatkan amulet yang disimpan oleh penyihir yang tinggal di dalam hutan. Lalu pergilah ke danau. Kau harus membayangkan rumah ini, Soo. Bayangkan aku, bayangkan kehidupan kita didunia ini. Itulah jalan satu-satunya kau bisa kembali ke bumi.

Sooyoung menegakkan tubuhnya, menatap nanar di kejauhan.

Kau harus kembali padaku, Soo gadis kecilku.

 

Sooyoung membuka matanya tiba-tiba. Debar jantungnya berdentum hebat. Ia menatap nyalang dari ranjangnya, melihat dengan lega kamarnya yang biasa. Ia merasa dirinya dirobek secara perlahan dan menyakitkan. Ia menghembuskan napas keras, menghempaskan kepalanya diatas bantal. Sooyoung menatap langit-langit kamarnya yang diiukir dengan indah. Ia merasa sayang meninggalkan dunia yang telah menjadi tempat tinggalnya selama beberapa waktu ini.

Sudah saatnya ia pulang.

****

Seohyun sedang mengatur ulang pondok kecilnya. Walau penampilan luarnya menjanjikan keselarasan dan sesuatu yang stagnan tapi sebenarnya ia orang yang gampang sekali bosan. Karena itu setiap minggu ia selalu mengatur perabotan dipondoknya untuk memberikan nuansa suasana baru, mungkin dengan memindahkan sofa itu ke samping kanan bara api atau memindahkan tungku ke bagian lain pondok dengan sekali jentikan jari.

Seohyun berpikir keras. Kedua lengannya terlipat dengan gerakan seorang anak kecil yang ingin dibelikan permen. Uhm, harus kupindahkan kemana ranjangku? Minggu lalu ia sudah memindahkan kearah timur, berarti sekarang… barat? Bukannya barat sudah tiga minggu lalu?

Ia sedikit terperanjat mendengar ketukan pintu di pondoknya. Sudah lama sekali sejak ia terakhir menerima tamu. Well, sejak beberapa abad yang lalu.

Seohyun menyeberangi ruangan pondoknya dan membuka pintu dengan hanya terbuka 5 cm, matanya menyelidik, menelusuri tubuh tamunya.”Siapa kau?” tanya Seohyun dengan ketus. Ramah tamah tidak ada dalam kamusnya, tidak di underworld ini.

Seorang gadis dengan pandangan mata gelisah mencoba tersenyum walau senyumnya malah membuat penampilannya semakin memprihatinkan. “Aku Sooyoung. Dewi musim semi.”

Seohyun ragu. Apa yang sedang dilakukan dewi musim semi di dunia kematian ini? Menggelikan.

“Aku tahu. Aku sendiri adalah dewi musim panas.” Jawab Seohyun dengan serius.

Sooyoung terperangah. “Benarkah ?”

Seohyun memutar bola matanya. “Tentu saja aku sedang mempermainkanmu. Ada urusan apa menjadi tamuku tiba-tiba ?” Memutuskan tampang polos tamunya itu nyata, Seohyun membuka pintu pondoknya lebar-lebar, isyarat ajakan masuk. Ia menuntun Sooyoung untuk duduk di sofa kuningnya yang miring melintang di ruang tamu pondoknya.

“Ada yang bisa kubantu? Walau aku belum tentu membantumu juga” tanya Seohyun dengan nada bersahabat.

Sooyoung merilekskan badannya di sofa, “Aku… sudah waktunya aku kembali ke dunia atas, maukah aku meminjamkan aku amulet yang bisa membawaku keluat dari sini ?”

Seohyun mengerutkan keningnya. Ia mengalihkan pandangannya pada kuku-kuku jarinya yang lentik, “Aku tidak bisa membantumu.” Ujar Seohyun ringan, “Karena aku tidak menyimpan amuletnya.”

Sooyoung mengeluarkan raut wajah kecewanya, “Lalu siapa yang membawanya ?” tanyanya dengan suara kaku, sedih karena tiba-tiba saja harapannya jatuh berkeping keping.

“Sang Poseidon, Yonghwa.” Jawab Seohyun. “Dan aku yakin ia tidak akan menyerahkannya. Sama sekali.”

Sooyoung mengangguk, “Aku pernah bertemu dengannya.” Jawabnya spontan,

“Yonghwa ? kau pernah bertemu Yonghwa? Kapan?” tanya Seohyun dengan keterkejutan yang besar. Sejenak Sooyoung terdiam, ia bimbang apa harus memberitahu yang sebenarnya, tapi setelah melihat sinar mata gadis didepannya yang bersinar sedih, ia terpaksa luluh.

“Baru-baru ini. Ia mengunjungi Siwon saat itu.”

“Sesuatu yang jarang sang Poseidon meninggalkan daerah kekuasaannya untuk pergi mengunjungi dunia kematian. Pasti dia punya urusan yang mendesak selain mengunjungi Siwon, kutebak ia sedang memilih-milih teman tidur saat itu.” sergah Seohyun dengan nada getir.

Sooyoung menggeleng pelan, “Aku tidak cukup mengenalnya sehingga dapat berkomentar tentangnya.” Jawabnya dengan nada halus. Seohyun menatap Sooyoung serius. Waktu berjalan lama dan yang bisa Sooyoung lakukan saat ini adalah menegakkan bahunya tegak tegak dan menatap balik Seohyun dengan serius.

“Seberapa serius kau ingin keluar dari dunia ini ?” tanya Seohyun tiba-tiba dengan suara serak. Kedua tangannya mengatup menandakan ia mempunyai ide dan sedang berusaha menyusun strategi.

Deadly*” (*sangat serius) ujar Sooyoung.

Seohyun berdiri lalu mengulurkan tangannya dihadapan Sooyoung, “Then, deal.”

“Mmm.. Lalu apa balasan dari bantuanmu padaku ?” tanya Sooyoung ragu.

Seohyun terdiam sejenak, dengan tersenyum kecil ia melambaikan tangannya dengan ringan, “Pada suatu hari, suatu saat nanti aku ingin kau membantuku melanggar beberapa aturan yang ada dan aku akan memastikannya.”

Sudah seminggu sejak hari dimana Sooyoung mengunjungi penyihir yang tinggal di dalam hutan itu, dan hingga sekarang ia belum mendengar sama sekali kabar dari Seohyun. Ada masalah apa, Sooyoung tidak tahu, yang jelas ibunya cukup sering mendatanginya didalam mimpi sehingga Sooyoung jadi merasa gugup untuk tidur. Sooyoung memilah milah roti yang ada di piring putih keramiknya dengan garpu, nafsu makanya sudah hilang sejak sepuluh menit yang lalu. Siwon pergi mengunjungi daerah neraka bagian Barat sejak dua hari yang lalu dan sekarang Sooyoung merasa bosan. Sooyoung melirik kedua pelayan berwujud manusia dengan seragam jas hitamnya, yang membedakan mereka dengan manusia adalah ekor panjang yang berada dibagian belakang tubuh mereka. Sooyoung sedang memilah bagian roti seperlimanya menjadi sepersepuluh saat ide melintas di kepalanya. Merasa bersemangat dengan ide itu, ia berbalik dan melambai penuh semangat pada satu pelayan yang berjaga di pintu.

“Um, Jonas ? Maukah kau menyiapkan aku seekor kuda? Aku ingin berjalan-jalan sebentar di hari yang cerah ini.” Kata Sooyoung dengan suaranya yang ceria.

“Baik nona.” Dengan sekejam mata, Jonas membungkuk dan menghilang meninggalkan Sooyoung yang kembali ke kamarnya untuk berganti baju dengan gaun berkuda. Walaupun gaun yang ia pakai sekarang cukup nyaman tapi gaun itu tidak dirancang untuk berkuda.

Sooyoung memakai sarung tangan cokelat lembutnya sambil berjalan ke pintu depan, tersenyum saat kuda hitam dengan dengusan api dipasang pelananya.

“Well, Halo Bason. Apa kabarmu hari ini.” Sooyoung mengusap sayang hidung kuda hitam didepannya dengan suaranya yang berdenting, membuat Bason menyundul tangannya dengan sayang. Dengan keterampilan yang mengejutkan, Sooyoung berhasil membawa dirinya berada di atas Bason dengan stabil dan memrintah Bason untuk berlari.

Angin menerpa ikal Sooyoung, kecepatan lari Bason dan insting si kuda untuk melindungi pengemudinya cukup membuat Sooyoung tenang. Siwonlah yang menjinakkan dan melatih kuda ini dan memberikannya kepada Sooyoung saat ia melihat Bason jatuh cinta pada pandangan pertama pada Sooyoung. Sooyoung bisa melihat geli di mata Siwon dan kerlingan bibirnya saat Bison yang sudah membuat berpuluh-puluh penjinak kuda Siwon melayang bisa mendengus sayang pada Sooyoung.

Sooyoung tersenyum dengan ingatan yang baru terlintas saat ia menangkap sesuatu di pinggir jalan setapak. Ia mengisyaratkan Bason untuk berhenti dan beranjak turun.

Sooyoung diam, benaknya berputar dengan cepat. Ia bisa melihat punggung lelaki dengan pakaian penuh debu dan goresan. Rambut pirangnya terlihat kusam dengan beberapa helai terkena lumpur yang mengering, tersebar diatas tanah yang hitam. Sooyoung bimbang, samar ia bisa mengingat perkataan Siwon untuk tidak pernah mempercayai siapapun khususnya di dunia bawah ini, tempat segala kejahatan di dunia dan di atas berkumpul. Sooyoung menguatkan pikiran dan mendekati lelaki itu. Ia menyentuhkan ujung sandalnya ke punggung lelaki itu, dan membuat suara erangan keluar.

 

Changmin mengerang. Badannya sakit semua. Dirinya yang merupakan dewa matahari, yang selalu memegang tempuk kekuasaan penuh atas dunia dan merupakan salah satu dewa yang banyak dipuja rakyat baru kali ini merasakan kesakitan seorang manusia. Terang saja, dia berada di dunia bawah kan? Nama lain dari neraka, hell, under world, center of ther world, dan bermacam-macam istilah manusia menggambarkannya. Tetapi satu hal yang jelas, disini dingin dan panas bercampur aduk sesuai dengan mood si penguasa. Siwon – sang Hades. Udara hangat dan riang di under world ini mungkin sedikit banyak dipengaruhi anak perempuan Hyoyon yang kabarnya diculik sang penguasa neraka.

Kepalanya sakit lagi karena terlalu banyak berpikir. Changmin sendiri heran kenapa dalam keadaan menutup mana seperti sekarang ini semua inderanya tetap bekerja, pikirannya berbicara sendiri dan saraf otaknya dipaksa mendengar. Tidak mengherankan kalau ia sering mendapat sakit kepala berkepanjangan. Demi Zeus.

Ia merasakan tekanan ringan di punggungnya, ia juga mendengar suaranya yang mengerang. Nah apa yang barusan kupikirkan tentang saraf-tanpa-istirahat ini ? Changmin memaksa otaknya memerintah kelopak matanya terbuka dan melihat seorang gadis dengan gaunnya yang indah menatap penasaran padanya. Ia pasti sudah jatuh cinta pada gadis ini kalau saja ia tidak datang ke dunia bawah ini dengan tujuan berbeda. Victoria. Gadis yang sudah ia berikan hatinya secara utuh.

“Kau bisa bangun kan ?” tanya Sooyoung, suaranya sedikit banyak membuat lelaki yang terbaring didepannya ini membuka kelopak matanya. Iris emasnya membuat Sooyoung sedikit tertegun dan terpana. Kenapa Changmin sang dewa matahari bisa berada di dunia bawah ? pikirnya cemas.

Changmin sudah beranjak ke posisi duduk sambil mengibas-ibaskan tangan ke rambutnya untuk membersihkan debu dirambut pirangnya. Sooyoung terdiam, ia penasaran tapi juga ragu untuk bertanya motif sang dewa berada disini. Gawatnya lagi, Siwon sedang tidak ada di kediaman.

“Jangan khawatir, aku berada disini bukan berniat membawamu pulang. Itu urusan ibumu dan kau sendiri.” Kata Changmin menyuarakan jawaban atas pertanyaan berkabut Sooyoung.

“Ada sesuatu yang membuat sang dewa matahari jatuh ke kegelapan ?” tanya Sooyoung dengan ringan, pikirannya berubah ceria.

Changmin mengangguk. Mata emasnya menatap Sooyoung dengan serius. “Aku sedang mencari seseorang.”

Sooyoung duduk di batu ceper di belakang Changmin sambil mengisyaratkan sang dewa melanjutkan ceritanya. Saat ia harus mendengarkan cerita, setidaknya ia harus berada di posisi nyaman, pikirnya.

“Seorang succubus* ?”

“Manusia.”

Sooyoung ternganga. Tidak mungkin Changmin memberikan kepeduliannya kepada manusia. Sooyoung sendiri mencintai manusia, tetapi dewa yang duduk ditanah dengan nyaman dibelakangnya ini terkenal sebagai dewa yang suka sekali mempermainkan, memecah belah suatu bangsa dan menganggap manusia adalah pion permainan catur untuk mengatasi kebosanan. Tetap saja Sooyoung penasaran, “Kekasih ?”

Changmin tidak menjawab. Ia memalingkan muka ke jalan disampingnya seakan dijalan itu ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Mereka terdiam beberapa saat.

“Ya.” Jawab Changmin mantap. Ia menatap Sooyoung yang menatapnya balik dengan curiga.

“Jadi dia sudah mati. Dan kau mau mengambilnya kembali.” Kata Sooyoung membuatnya menjadi pernyataan bukan pertanyaan. Sooyoung menggelek pelan, “Tidak bisa.”

“Tidak ?” Tanya Changmin dengan nada suara pilu.

Sooyoung menggeleng lagi, “Siwon itu dewa yang keras. Ia tidak akan pernah melepaskan roh yang sudah mati, ia merasa memiliki….. keterikatan yang kuat dengan roh roh itu. Ia tidak akan pernah membiarkanmu.”

Changmin memejamkan mata sejenak, dan saat membukanya kedua matanya berkaca, menampakkan sesuatu seperti penyesalan, penderitaan dan… cinta. Sooyoung bisa melihat cinta disana!

Sooyoung mengetuk-ngetukkan ujung jarinya didagunya, “Kau tidak akan bisa membujuk Siwon membiarkan kekasihmu lepas darinya, tapi mungkin aku bisa.”

Changmin menampakkan keraguan yang jelas. Seberapa besarkan kepedulian Siwon terhadap Sooyoung yang membuat Sooyoung dengan percaya diri mengatakan mampu membujuknya ?

Sooyoung mengangguk puas, “Tenang saja.”

Changmin menatap kosong. Tidak, ia tidak akan pernah tenang.

*****

Sooyoung menyisir rambut ikalnya yang panjang dengan sikat berbulu lembut dengan ganggang berhiaskan permata. Ia melihat seiiring tiap sikatan, rambutnya perlahan mulai berkilau. Sooyoung terlihat puas dengan pantulan bayangannya di cermin saat satu bagian rambutnya telah berkilau, Ia sedang memulai menyikat rambut bagian kirinya saat dengan tiba-tiba cermin menampakkan sosok Siwon tepat dibelakangnya, menampakkan senyum kecilnya yang khas. Sooyoung kaget tanpa sengaja tangannya menjatuhkan sikat rambutnya yang langsung ditangkap oleh Siwon.

“Aku yang akan menyisir rambutmu.” Bisik Siwon, sambil mencium telapak tangan Sooyoung yang masih kaku bertahan di tangannya dan melepaskannya.

Sooyoung menahan napas saat melihat sosok Siwon yang berkuasa, sang dewa kematian, sedang menyikat rambutnya, ia sendiri melihat kalau kulit wajah hingga pundaknya yang telanjang terlihat merona, tiba-tiba Sooyoung sadar kalau sejak tadi ia menahan napas dan dengan perlahan menghembuskan perlahan agar tidak terlalu kentara.

Siwon melirik Sooyoung dikaca, pandangan mereka bertemu, tatapan Siwon seakan menyiratkan bahwa ia mengetahui apa yang sedang Sooyoung pikirkan, membuat Sooyoung lebih merona merah.

“Kau kembali lebih awal.” Sooyoung heran suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar serak dan…. bergairah.

Siwon mengangguk sambil berkonsentrasi menguraikan ikal kusut di rambutnya, “Aku merindukanmu.”

Sooyung merasa bulu kuduknya berdiri, usapan pelan jari tangan Siwon yang mantap terasa menggelitiknya. Saat ingat ibunya saat ini sedang berjuang memaksanya pulang dan melarikan diri dari Siwon hampir membuatnya menangis. Sooyoung mengedipkan kilau air mata dimatanya dan tersenyum. “Aku juga merindukanmu.” Balas Sooyoung.

Siwon terpaku sejenak, dengan perlahan ia mengalihkan tatapannya ke mata Sooyoung di cermin, “Benarkah ?”.

Sooyoung mengangguk membuat Siwon menunduk perlahan dan mencium pelan lekukan leher Sooyoung. Sooyoung terkesiap dan terkejut saat Siwon perlahan mengusap rahangnya dan perlahan membalikkan kepalanya, tatapan mereka bertemu secara langsung. Siwon sedikit mengalihkan perhatian ke bibir Sooyoung yang sedikit terbuka dan ia bergerak. Pelan, menggoda tapi tanpa ragu.

Sooyoung menutup matanya, ia terbuai dengan usapan jari Siwon di rahangnya, ia menunggu. Sooyoung membuka sedikit matanya, bertanya-tanya mengapa Siwon tidak segera menciumnya, dan mendapati Siwon sedang menatapnya sambil tersenyum jahil.

“Siwon !” Bisik Soooyung dengan keras sambil mendorong Siwon dengan spontan ke belakang. Siwon tertawa, tawa yang semakin sering terdengar sejak ia membawa Sooyoung ke kediamannya. Sooyoung menatap Siwon dengan pelototan yang membuat Siwon semakin geli.

Siwon membawa dan mengusap tangan Sooyoung ke pipinya, menciumnya dengan lembut. “Aku benar-benar merindukanmu, my lady.”

Sooyoung tersenyum lebar membuat jantung Siwon berdetak kencang. Mendapatkan Sooyoung adalah satu-satunya hal yang paling ia syukuri. Tidak tahan lagi, ia menarik tangan Sooyong dan menempatkan Sooyoung di pelukannya dan mencium gadis di pelukannya hingga kehabisan napas.

Sooyoung menatap Siwon dengan pandangan berselimut gairah. Jari tangan Siwon merambah dan memereteli deretan kancing-kancing di punggungnya, ia sendiri tidak sengaja melihat kedua tangannya seakan punya jiwa sendiri-sedang bergerak melepasi kancing kemeja hitam Siwon.

“Aku menginginkanmu. Sekarang.” Bisik Siwon dan menelan jawaban Sooyoung dalam ciuman yang dalam.

*****

To be Continued.

 

Advertisements

6 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s