WICKED ANGEL [TWO SHOOT] – PART 2 END

 

Konbanwaaa!!!! Senang sekali bertemu dengan kalian! (Lagi ??)
Maaf banget ya buat yang bosen,, HAHAHA, hanya saja karena 11 Desembet ini adalah ulang tahun author, jadi author pengen meninggalkan satu saja tanda pas di pergantian hari kalau author ini eksis (ealahh apaan aja)
Nah maaf banget juga kalau FF ini kesannya terburu-buru yaa dan terima kasih juga bagi yang menyumbangkan ide ide menariknya untuk kelanjutan Shoot kedua ini. Oya baru-baru ini author juga nemu Kyuyoung nih, jadi kayanya ada lanjutannya yang bakalan dipost di Kyuyoung. Walau masih status freelance sih disana. Hehe. Oke aku sembahkan Wicked Angel TWO SHOOT PART 2.
Have a nice reading!!

 edit cover yes

I try to live each day well
So that I can endure through little by little
Because without you, there is no tomorrow
There is no hope, just like today

I hold out my hand to catch it but it always melts
From the moment I first saw you, it was always you
I take one step and again another step
Because to me, it needs to be only you

XIAH JUNSU – LOVE IS LIKE A SNOW

# Title : Wicked Angel Part 2

# Author : @nidyavina (pulpen_ijo@yahoo.com)

# Genre : Paranormal fantasy romance

# Rating : 17 th and open mind reader

# Main Cast : Siwon the dark angel and Sooyoung the vampire

# Other Cast : Changmin-maker of Sooyoung, etc. (cari dewe yoo–)

–FLASH BACK–

Siwon merasakan sayap putihnya yang berkilauan dialuri oleh rantai tebal berwarna merah. Ia mengeryit kesakitan, dari mulutnya menyembur darah segar, kepalanya pusing seperti baru dipukul beberapa ribu ton besi. Ia memandang sekelilingnya dengan pandangan merah. Ia tidak tahu kenapa dan mengapa ia bisa ditahan di penjara terdalam dineraka. Ia bisa mendengar langkah kaki seseorang, dengan pandangan matanya yang buram saat ini ia hanya bisa mengandalkan indra pendengarannya. Kepala Siwon dihempas membentur lantai batu, ditekan oleh kaki kiri penjaga kekar yang menangkapnya. Siwon menggeram, berjuang melepaskan diri dari himpitan kaki dikepalanya. Percuma. Sekarang ia hanya dipandang sebagai sampah  setelah ia membunuh malaikat gila itu. Ia sudah bukan lagi seorang jendral. Ia hanya malaikat buangan, dan sebentar lagi ia akan dihukum mati. Pintu penjaranya menjeblak terbuka, penjaga yang menginjak kepalanya sudah menyingkirkan kakinya. Siwon berjuang untuk berdiri, hanya saja tulangnya serasa remuk.

“Siwon, sahabatku. Apa kau marah? Apa kau merasa menyesal?” Sesosok malaikat bersayap abu-abu unik dengan ujung hitam keemasan berjongkok dan membelai wajah Siwon yang berlumuran darah. Siwon perlahan membuka kedua matanya, ia mencoba bicara dengan tenggorokannya yang seperti sedang terbakar. Siwon menyipitkan matanya, ia hanya mengenali Kyuhyun dari nada suaranya yang berlumuran madu.

“Kyu…hyun.. .Aku… tidak akan pernah… menyesal membunuh malaikat terkutuk itu…” jawab Siwon dengan tersendat. Kyuhyun tersenyum. Ia mengusir dua penjaga dan tetap memeluk Siwon yang kepayahan hingga pintu dibelakang mereka tertutup. Kyuhyun memeluk Siwon semakin erat lalu mendekatkan bibirnya di telinga Siwon yang masih bisa mendengarkan walaupun pengelihatannya telah sedikit demi sedikit menghilang. Tanda kehancuran malaikat.

“Aku punya penawaran untukmu.” Bisik Kyuhyun. “Tentu saja aku memaksamu untuk menerimanya, sahabatku.” Kyuhyun merogoh sesuatu disaku mantelnya lalu mengeluarkan gelang bertatahkan berlian hitam dengan barisan batu mirah delima. Ia lalu memakaikannya ke pergelangan tangan Siwon yang lemas dan seketika berlian hitam di gelang itu menyebar, menodai dan membuat sayap Siwon yang tadinya putih menjadi hitam kelam. Semua rantai-rantai yang membelit sayap Siwon hancur. Kyuhyun tersenyum. Ia mengelus lembut Siwon yang masih tertidur, kali ini dengan wajah rileks. “Maafkan aku. Hanya ini satu-satunya cara untuk menolongmu.”

–NOW—

Perasaan Sooyoung seperti ada yang sedang mengawasinya. Ia membangun kewaspadaannya dan melihat sekelilingnya. Matanya menelusup dibalik pohon-pohon, bayangan lampu, maupun bangku taman. Nihil. Ia tidak menemukan sumber pandangan menghujam yang masih dirasakannya saat ini. Jangan-jangan…. Sooyoung bergidik memikirkan kemungkinan tidak masuk akal itu. Ia perlahan mendongak dan benar saja, si malaikat hitam agung itu sedang mengawasinya dari langit, membentangkan sayap lebar dan kuatnya yang berwarna hitam, menghujamnya dengan pandangan mata tajamnya seperti biasa. Sooyoung berjuang menenangkan debaran jantungnya yang mulai menggila. Haruskah dia datang disaat yang tidak tepat? Persis setelah Sooyoung memikirkan “itu”. Sooyoung merasa wajahnya panas. Tenang, tenang Sooyoung. Sooyoung menghirup dan menghembuskan napasnya dengan cepat, lalu berdehem.

“Umm.. permisi.. Siwon ?” Sooyoung mengeraskan suaranya saat menyebut nama Siwon. Siwon terlihat tidak yakin, lalu mulai bergerak terbang mendarat ketanah, menimbulkan bunyi tap pelan. Siwon menaikkan sebelah alisnya dengan garis mulutnya yang lurus.

“Kau bisa melihatku ?” tanyanya datar. Pandangan mata Siwon masih tertuju pada Sooyoung yang menatapnya keheranan.

“Maksudmu semestinya tadi aku tidak bisa melihatmu ?” tanya Sooyoung. Siwon mengangguk pelan. Pikirannya berkelana membuat wajahnya semakin tidak berekspresi. Sooyoung tersenyum merasakan sesuatu yang menghangat didadanya. Ia meghempaskan kembali badannya di bangku taman menyelonjorkan kakinya dengan posisi santai. “Kau mau duduk disebelahku?” tanya Sooyoung sambil menepuk tempat disebelahnya. Siwon masih berdiri mematung, Sooyoung mengedikkan bahunya lalu kembali menatap langit yang masih berkilauan dengan ribuan bintang. Lama Sooyoung menatap langit. Bosan. Ia melirik Siwon yang masih berdiri mematung disebelahnya, menatapnya seakan-akan ia adalah sosok aneh dan patut diselidiki. Sooyoung menghembuskan napasnya kuat-kuat dan mulai beranjak dari duduknya. “Yah, baiklah. Kalau memang kau punya waktu untuk berdiri dan diam disana hanya untuk memandangku dengan tatapan aneh itu. Aku mau pergi.” Sooyoung menepuk pelan jaketnya saat ia melihat Siwon perlahan berjalan menuju kearahnya. Satu demi satu langkah, lalu berhenti tepat disebelahnya, dan duduk. Sooyoung nyengir lebar, memperlihatkan barisan gigi putihnya yang rapi. “Tidak sulit, kan?” Sooyoung kembali duduk ditempatnya semula.

Mereka berdua diam.

“Kudengar malaikat bersayap hitam adalah malaikat buangan dari malaikat bersayap putih. Jadi, alasan apa sehingga kau dianugrahi sayap hitam?” Tanya Sooyoung memecah keheningan. Ia mengalihkan pandangannya pada Siwon yang mulai merengut. “Kenapa?” Desaknya.

“Aku membunuh seseorang.” Jawab Siwon pelan.

“Kalau membunuh seseorang sudah mampu merubah derajat seorang malaikat, maka aku pasti sudah berubah menjadi iblis yang sesungguhnya.” Ujar Sooyoung dengan sinis.

“Aku membunuh seorang malaikat.”

Sooyoung terkesiap. “Kau membunuh sesama malaikat ??”

Siwon mengatupkan rahangnya. “Dia sudah memasuki fase kegilaan abadi. Tidak ada yang menyadarinya selain aku. Saat ia memerintahku untuk menghancurkan suatu peradaban, aku terpaksa membunuhnya.” Jawab Siwon dengan nada getir.

“Dan malah berakhir dengan pengasingan.” Lanjut Sooyoung sinis. “Well, kau senang dengan keadaanmu sekarang, tuan pembela kebenaran ?”

Siwon melirik Sooyoung yang masih menunggu reaksinya. “Aku lebih baik dibuang daripada menghancurkan peradaban tidak berdosa dengan tanganku sendiri.” Jawabnya dengan ketus. Sooyoung tersenyum lebar. Wajahnya melembut, sesaat membuat Siwon tidak mampu mengalihkan pandangannya.

“Kau baik sekali, Siwon.” Sooyoung menangkupkan tangannya ke tangan Siwon yang besar. Siwon kaku, tidak terbiasa disentuh maupun menyentuh.

“Kau salah.” Gumamnya dingin. Sooyoung tertawa lembut.

“Baru kali ini aku bertemu dengan seseorang yang tidak mau menerima pujian.” Kata Sooyoung disela-sela napasnya.  Siwon menatap Sooyoung bingung. Gadis yang aneh, tertawa karena hal-hal kecil, pikirnya. Sooyoung masih tertawa terbahak-bahak. Ia seketika terdiam. Siwon mengulurkan jari tangannya, menyentuh pelan pipi Sooyoung. Sooyoung terdiam dan menutup mata. Hangat jari Siwon yang perlahan mengelus pelan pipinya. Tubuhnya seketika bergetar. Padahal Siwon hanya menyentuhnya dengan satu ujung jarinya, dan tubuhnya sudah merespon seperti gunung yang akan meletus.

“Maaf.” Siwon menarik jarinya secepat kilat tapi Sooyoung masih bisa menangkap sekilas pandangan mata Siwon yang menggelap dan lalu digantikan dengan topeng tanpa emosi itu.

“Aku….” Sooyoung tiba-tiba berdiri. Wajahnya terasa panas. Kakinya lemas seketika membuatnya hampir ambruk. Siwon langsung menyangga lengan Sooyoung.

“Kau tidak apa-apa ?” tanya Siwon, sama sekali tidak menunjukkan nada khawatir. Jantung Sooyoung berdegup keras, sepertinya istirahatnya barusan masih belum mampu mengembalikan tenaganya yang semakin lemah, pikirnya. Sooyoung meremas bagian depan kemeja Siwon dengan tangannya.

“Siwon..” Sooyoung menatap nanar Siwon yang masih menatapnya dengan heran, lalu Sooyoung menarik bibir Siwon menyatukannya dengan bibirnya. Siwon kaget, ia diam. Sooyoung memanfaatkan kesempat ini dengan mengigit pelan bibir Siwon. Setetes darah, pikir Sooyoung. Sooyoung menjilat pelan bibir Siwon yang ia gigit lalu mencium lagi Siwon untuk menyamarkan motifnya. Siwon mencium balik bibir Sooyoung, mengecap dan merasakan kehalusannya. Astaga. Ia bisa gila, pikir Siwon. Ia lalu menjauhkan Sooyoung tiba-tiba.

“Kau.. apa yang..”

“Maaf karena aku sudah menciummu. Aku yang bodoh.” Potong Sooyoung cepat. Ia bergegas mundur dan berlari meninggalkan Siwon sendirian. Siwon masih termangu, jarinya memegang bibinya yang bengkak dan mngusap luka dibibirnya yang perlahan sembuh.

*****

Di suatu tempat yang gelap dan dingin…

Suara musik opera berkumandang di ruangan sempit dan gelap itu. Suara musik orchestra yang elegan itu dipadu dengan raungan suara seorang gadis yang terisak-isak sambil menangis. Kedua tangan dan kakinya diikat dibelakang. Kedua matanya berkantung dengan wajahnya yang dipenuhi jejak air mata.

“Mamaa!!! Tolong aku!!!” Berkali-kali gadis kecil itu terisak pilu. Ia dengan keras kepala menendang-nendang kakinya, dan seperti merasakan sosok manusia lain, sejenak ia terdiam. Kakinya mencoba menggerayangi kulit dan daging yang ia rasakan. Dingin. Mayat. Ya Tuhan! Ia akan mati! Ia menangis sejadi-jadinya, mengutuk dirinya sendiri karena tidak mendengarkan perintah mamanya untuk diam dirumah dan malah menyelinap kabur. Bodoh bodoh! Ia benar-benar bodoh! Ia merasakan tangan dingin menggerayangi bibirnya, lalu turun ke lehernya.

“Jangan bersuara gadisku… Tenang saja. Aku tidak akan menyakitimu.” Suara lembut seperti marshmallow yang ia dengar sangat menggoda. Ia sadar, semakin lembut suara yang membuainya itu ia jadi semakin merinding.

“Lepaskan aku..” katanya dengan suara mencicit diiringi degukan tangis. Lelaki itu tertawa lirih.

“Aku pasti akan melepaskanmu, dear. Cup cup cup. Jangan menangis ya.” Lelaki itu membelainya dengan tangan halusnya. Ia bisa merasakan senyum lelaki itu yang menempel di rambutnya. “Kau pasti akan kulepaskan. Setelah ini kau bisa merasakan dipeluk oleh mamamu yang tercinta.”

Ia masih mengelus-elus rambut gadis kecil dipelukannya ini. Gadis nakalku yang manis, pikirnya senang. Ia menelusurkan tangannya, melewati kehalusan rambut sutra gadis ini. Ia sudah bisa merasakan segarnya darah yang akan mengalir ke tenggorokannya. Ia haus. Sangat haus. Ia menjilat bibir atasnya dan menyurukkan mulutnya ke leher gadis kecil yang sudah mulai tenang ini. Suaranya yang merupakan kemampuan terbesarnya masih membuai lembut gadis ini. Gadis ini meronta keras saat ia menusukkan taringnya yang tajam ke leher indahnya. Nektar. Madu merah mengalir dan ia meneguknya dengan suara keras. Satu teguk, dua teguk. Rontaan gadis itu semakin pelan hingga akhirnya berhenti. Ia masih terus menghisap, terus dan terus. Ia bisa merasakan tubuh yang mulai mendingin dipelukannya.

Ia berdiri, melepaskan gadis kecil itu dengan bunyi keras saat menghantam tanah. Ia mulai menari, mengikuti musik yang masih berkumandang di ruangan kecil itu. Tenaganya melimpah, ia masih bisa merasakan sirup merah yang baru diminumnya. Tidak seenak yang pernah ia rasakan dulu. Ia masih bisa merasakan kehangatan gadis itu, manisnya darah virginnya. Hmm, Sooyoung. Ia satu-satunya gadis yang bisa melarikan diri darinya. Aku akan mengadakan reuni dengannya, putusnya. Dan siapa tahu ia bisa merasakan sekali lagi darahnya yang manis. Untuk terakhir kalinya.

*****

Sooyoung mendengar pintu kamarnya diketuk pelan. Kak Yunho. “Masuklah kak.” Ujar Sooyoung sambil menepuk pelan bantalnya lalu menelusup kedalam kehangatan selimut. Yunho masuk sambil membawa secangkir coklat hangat. Ia lalu menyerahkan cangkir itu kepada Sooyoung yang langsung menyesapnya dengan senang.

“Maaf karena aku tidak membawakan darah.” Ujar Yunho sambil mengamati Sooyoung. “Yang walaupun melihat ekspresi wajah segarmu, kuduga kau sudah berhasil meminum darahnya untuk kedua kalinya ?”

“Ah itu tidak akan terjadi lagi, kak. Aku hanya panik saat lututku lemas tadi, dan menggunakan cara paling bodoh yang terlintas begitu saja dipikiranku.” Jawab Sooyoung sembarangan. Coklat yang disesapnya tidak seenak darah, pikirnya.

“Benarkah ? Dengan cara apa kau berhasil membujuknya memberikan darahnya?” tanya Yunho dengan nada tertarik. “Dia itu malaikat yang sulit, kau tahu.” Lanjutnya. Yunho langsung bisa menebak cara yang dilakukan Sooyoung saat melihat wajah Sooyoung yang memerah. “Baiklah, jangan ceritakan. Satu hal yang membuat hidupku tenang adalah tidak mencampuri urusan percintaan siapapun.” Kata Yunho sambil melambaikan tangan membuat Sooyoung memprotes lemah.

“Ada apa kak? Tidak mungkin kau masuk ke kamarku hanya untuk menggodaku.” Ucap Sooyoung sambil menaruh gelas coklatnya di meja samping ranjangnya. Yunho melipat tangannya. Ekspresi wajahnya mendadak serius.

“Aku ingin minta tolong padamu.”

****

Sooyoung memperhatikan siluet sayap hitam Siwon. Ia membuka dan menutup telapak tangannya yang sudah terlapis sarung tangan kulit. Dipinggangnya menempel berderet peluru cadangan, dua pistol di kedua pahanya,dan sepasang belati di sepatu botnya. Ia nyaris tertawa melihat ekspresi Siwon yang menyiratkan sedang-apa-kau-disini-dasar-pengganggu.

“Aku tidak mengikutimu. Asal kau tahu, aku diutus oleh dewan vampire untuk bekerja sama denganmu menyelidiki kematian berturut-turut gadis muda yang diduga dilakukan oleh vampir.” Sooyoung spontan menyemburkan kata-kata saat Siwon sudah berada didekatnya. Siwon menaikkan sebelah alisnya.

“Aku tidak bertanya.”

“Tapi kau tampak seolah akan bertanya. Dan aku menjawabnya dulu untuk meringankan beban dihatimu.” Jawab Sooyoung. Siwon berbalik menekan dengan kuat keinginannya untuk tersenyum. Mereka memasuki gudang gelap dan kotor. Rumput ilalang tumbuh disekeliling gudang yang terletak dekat dengan hutan. Pintu besinya sudah miring, membuat Sooyoung gatal untuk menendang langsung dan menimbulkan bunyi apapun di keheningan malam itu. Sooyoung menggerutu pelan saat Siwon memandangnya dengan tatapan peringatan saat ia sudah mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Kewaspadaan mereka meningkat. Sooyoung bersiap dengan sebuah pistol di tangan kanannya. Keadaan di dalam gudang lebih berantakan lagi. Tali tambang dengan ruwet berserakan di lantai, kursi kayu dalam posisi terguling. Sooyoung bisa mendengar suara tikus yang mencicit. Ia memisahkan diri dari Siwon dan langsung menuju area belakang. Ia meraba-raba dinding lembab yang terasa dingin di tangannya. Ia merasakan sebuah tonjolan di dinding yang bergerak saat ia tidak sengaja menyentuhnya. Bunyi pergeseran dinding yang lembut, menampakkan tangga batu ke bawah. Ruangan bawah tanah.

“Siwon!! Ada ruangan bawah tanah disini!” Sooyoung berteriak lalu dengan hati-hati menapak tangga batu itu. Ia memeriksa sekelilingnya. Tangga ini sepertinya hingga sampai ke dasar, pikir Sooyoung. Ia terus melangkahkan kakinya sambil menempelkan tangannya di dinding untuk berjaga-jega bila tangga batu itu runtuh. Bau busuk menyerbu indera penciumannya yang tajam, membuatnya sebisanya menutup aliran udaranya dengan sarung tangan kulitnya. Sooyoung langsung merasa kakinya membentur sesuatu. Sudah kaku. Mayat, pikirnya. Ia melihat gumpalan rambut pirang yang menempel di kepala seorang gadis yang nyaris putus. Sooyoung mengeryitkan dahinya, ia melihat ujung kaki mayat gadis itu dan menemukan gumpalan rambut merah, hitam, pirang, coklat, semuanya dengan keadaan yang nyaris persis sama. Kepala nyaris putus. Kejam sekali, gumam Sooyoung. Tunggu. Sepertinya ia pernah melihat mayat seperti ini, pikirnya. Siapa ya.. siapa… Sooyoung merasa tanda peringatannya berbunyi. Ada seseorang di belakangnya. Ia berbalik secepat kilat dan menembakkan pistolnya dengan kecepatan yang mematikan. Lelaki dibelakangnya mengaduh pelan sambil mnempelkan tangannya ke bahunya yang terkena peluru Sooyoung.

“Setelah lama tidak bertemu kau jadi garang ya, Sooyoungku.” Nada suara menenangkan. Begitu tenang sehingga ia bisa mendengar aliran sungai di hutan yang tenang. Sooyoung terpaku, rona wajahnya pucat. Lelaki didepannya memasang ekspresi sedih. “Hei.. hei.. Aku tidak percaya kau sudah melupakanku.” Lelaki itu melangkah ke depan Sooyoung. Tangannya yang berlumuran darah bahunya yang terluka menyentuh pipi Sooyoung yang masih kaku tidak bisa bergerak, menempelkan darahnya di pipi Sooyoung yang mulus. Lelaki itu mencondongkan tubuhnya, mencium pelan dahi Sooyoung. “Padahal kan aku yang membuatmu menjadi vampire. Lihat kau jadi berlumuran darah begini.” Lanjutnya sambil menepuk pelan pipi Sooyoung.

“Chang…min..” Bisik Sooyoung. Seketika pikiran Sooyoung berputar balik. Gambar-gambar melintas dengan cepat membuat kepalanya pening. Gambaran jelas saat Changmin dengan kharisma dan suaranya yang menggoda itu membawanya ke rumahnya, percintaan pertamanya yang memuaskan, kesediaannya menjadi vampire untuk menemani Changmin menglewati hari-harinya. Bukan! Bukan begini! Gambaran ini bohong! Ia tidak pernah merasakan hal itu! Ia tersiksa! Dikurung di kamar yang gelap dengan rantai membelit pergelangan tangannya, aliran darah dari kedua pahanya yang mengalir terus setelah Changmin menidurinya dengan kasar! Gila! Ini semua gila! Bergerak! Bergerak Sooyoung!! Bergerak! Bersuaralah!! Pikiran Sooyoung menggaung, meneriakkan peringatan dengan keras. “Si..” Sooyoung mendesis, menguatkan dan mencoba lepas dari pengaruh hipnotis Changmin.

“Hm? Apa yang mau kau katakan Sooyoung?” Changmin membelai dagunya. Sooyoung menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan tenaga.

“SIWON!!” Teriakannya yang melengking menggema, membuat tubuhnya sadar dan lepas dari pengaruh Changmin. Sooyoung segera menarik pelatuknya dan menembakkan berulang-ulang pistolnya, membuat lubang-lubang didada Changmin. Changmin terperangah menatap dadanya yang tertembak pistol dan ke Sooyoung yang dengan panik menembaknya. Sooyoung merasakan kepuasan tersendiri saat peluru di pistolnya habis menimbulkan bunyi klik-klik pelan.

“Sooyoung… Beraninya kau… membunuh…ku….” Changmin memuncratkan darah dari mulutnya, lubang peluru yang menghantamnya juga mengalirkan darah. Sooyoung bernapas ngos-ngosan dengan detak jantungnya yang menggila. “Kau… Tapi bohong.” Changmin tersenyum. Luka didadanya perlahan menutup kembali dengan cepat. Sooyoung membelalakkan matanya, pucat. “Kau tidak akan bisa membunuhku, manis.” Changmin menyeringai lebar mulai berjalan kearah Sooyoung.

“Kalau begitu aku yang akan membunuhmu.” Suara dingin itu bergema. Siwon menempelkan sisi tajam pedangnya di leher Changmin.

“Ups.” Changmin menahan pedang Siwon dengan ujung jarinya, membuat pedang Siwon mental dan berpindah posisi dengan cepat. Ia tertawa dengan keras. “Kita akan bertemu lagi!” Ujarnya diselingi tawanya yang bergema.

Sooyoung berusaha menenangkan napasnya. Tenang. Tenang. Siwon mengulurkan tangannya.

“Kau tidak apa-apa?” Tanyanya.

“Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah datang tepat waktu. Ya Tuhan.” Sooyoung menerima uluran tangan Siwon dan menempelkan sebelah tanganya di dadanya.

“Siapa dia?”

Sooyoung menatap Siwon dengan pandangan khawatir. “Dia lelaki brengsek yang membuatku menjadi vampir.”

“Sepertinya reunimu tidak berjalan baik.” Kata Siwon. Sooyoung memasukkan pistolnya kembali di sarungnya yang dilekatkan di pahanya. Ia harus segera memberitahukan hal ini pada kak Yunho, pikirnya.

“Tidak. Aku membencinya.” Tandas Sooyoung tegang. Sooyoung melangkahkan kakinya dengan cepat, ingin segera menjauh dari tempat terkutuk ini. Kenangan buruk yang telah dikuburnya bermunculan.

Siwon mengikuti Sooyoung dari belakang. Ia tidak berkata apapun. Akhirnya mereka sampai diluar gudang kumuh itu. Sooyoung menendang batu-batu kerikil sambil mengurai pikirannya yang ruwet. Ia merasa seperti ditarik dan didekap dengan kuat membuatnya melongo.

“Astaga! Siwon! Apa yang kaulakukan?” Sooyoung berkata dengan aliran panik. Ia mencengkram kuat-kuat pegangan Siwon di pinggangnya. Ia mendongak keatasnya dan melihat Siwon yang terbang dengan konsentrasi penuh. Sejenak Sooyoung terpaku pada wajah tampan Siwon yang terpatri dan sayap hitam legam sebagai latar belakangnya.

“Membawamu.” Siwon mulai melancarkan manuver-manuver terbang yang membuat Sooyoung memekik lirih.

“Kau! Kalau kau berani melepaskanku, kau akan kubunuh!” Teriak Sooyoung kuat-kuat. Angin menerpa rambut panjang sebahunya membuatnya menjadi berantakan.

“Percayalah padaku.” Suara arogan Siwon entah mengapa membuat Sooyoung menjadi tenang. “Aku tidak akan melepaskanmu.” Lanjutnya datar.

Sooyoung tertawa dengan ringan. Tangan satunya memegang erat lengan Siwon dan yang satunya menelusup ke leher belakangnya. Ia mendekatkan matanya ke mata Siwon yang masih datar.

“Kalau ini caramu menghiburku, aku benar-benar tersanjung.” Bisik Sooyoung sambil tersenyum lebar. Ia melihat kekedalaman mata Siwon yang sekejap bersinar geli.

“Tujuanku bukan menghiburmu.” Jawab Siwon. Sooyoung mengibaskan rambutnya kebelakang membuat leher jenjangnya tampak tersaji menggiurkan didepan Siwon.

“Kau benar-benar malaikat pembohong.” Bisik Sooyoung lirih. Ia benar-benar tergoda untuk membuat Siwon tersenyum. Sekali saja.

*****

Sooyoung tersenyum dengan kejadian barusan. Pada akhirnya Siwon hanya mengantarnya dan langsung pergi lagi tanpa ia sempat mengucapkan terima kasih. Sooyoung bergegas menuju pintu kamar kak Yunho dan mengetuknya pelan. Ia bisa mendengar suara mendesah dan geraman dari balik pintu. Dalam sekejap Sooyoung tahu apa yang sedang dilakukan kakaknya meliputi aktivitas yang menghasilkan geraman dan desahan, hanya saja godaan untuk menggoda kakaknya sangat tidak tertahankan. Sekali lagi Sooyoung mengetuk pintu dengan senyum geli.

“Kak… boleh aku masuk?” Ia bisa mendengar suara benda terjatuh pelan, desahan dan geraman pun seketika berhenti.

“Kau… jangan Soo. Aku.. eh.. sedang membahas sesuatu yang penting.” Suara kak Yunho terdengar dari seberang pintu.

“Siapa yang sedang bersamamu kak ?” Sooyoung bertanya dengan suara manis. Hatinya tertawa dengan keras sekali.

“Tentu saja dengan kakak iparmu! Besok aku akan menemuimu!” jawab Yunho di sela-sela napasnya yang berpacu.

“Baiklah. Aku tidur dulu.” Ujar Sooyoung, tapi tidak beranjak dari depan pintu. Ia menunggu dan tertawa kecil mendengar desahan dan geraman itu terdengar lagi. Kali ini lebih keras.

****

Sooyoung merasa ujung jarinya kesemutan. Ia terbangun dari tidurnya karena sensasi mengigit seperti digigit ribuan semut merah. Ia menggeliat pelan, mencoba menggosok ujung jarinya tapi melah bertambah parah, menjalar keseluruh tubuhnya. Semua tulangnya ngilu, Jantungnya berdebar-debar dengan gila seperti mau copot. Dan Sooyoung tahu kalau ia sudah mencapai batasnya. Astaga! Siwon!

Tiba-tiba tubuh Siwon kaku. Ia tidak bisa bergerak. Mematung. Ia bisa merasakan emosinya yang camput aduk, tubuhnya mulai mengalirkan aliran panas. Ia merasakan keletihan, kesakitan luat biasa. Pikirannya pusing, otaknya seperti kelelahan, matanya mulai memburam. Siwon melihat kedua tangannya. Apa ini ? pikirnya. Ia menutup matanya, berpikir. Membayangkan sesuatu. Dipikirannya terlintas sosok Sooyoung yang menggeliat kesakitan sambil memeluk tubuhnya sendiri. Sooyoung mengucapkan sesuatu. Siwon mencoba berkonsentrasi lagi, menebak apa yang dikatakan Sooyoung. Sakit. Siwon. Darah. Tolong. Aku. Siwon menjeblakkan sayap hitamnya dan melesat dengan kecepatan tinggi menuju  kepada Sooyoung. Secepat kilat ia berhasil mencapai tempat Sooyoung sedang menggeliat tidak beraturan sambil berkeringat dingin. Ia mendarat di balkon kamar Sooyoung dan membuka lebar pintu kacanya.

“Dasar perempuan bodoh!! Kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau kau membutuhkan darahku?!” Siwon menyerbu kearah ranjang dan mengangkat Sooyoung kepangkuannya. Sayap hitamnya melebar menyesuaikan diri dengan dinding yang menghimpitnya. Sooyoung menghembuskan napas lega walau masih menggigil kesakitan. Sooyoung menggeleng-gelengkan kepalanya lemas.

“Aku… tidak mau.. memanfaatkanmu.” Jawab Sooyoung terbata-bata. Siwon marah. Ia menarik tipis kukunya di lehernya dan aliran darah pertama mulai tumpah dari goresan yang dibuatnya. Siwon mendekatkan kepala Sooyoung ke lehernya.

“Minum.” Ujarnya dengan nada memerintah. Sooyoung menggeleng-gelengkan kepalanya sambil  mencoba mendorong Siwon dengan kedua tangannya. Siwon mengetatkan pegangannya pada pinggang dan leher belakang Sooyoung. “Kubilang minum!”

Sooyoung mencium harum yang manis. Ia bisa melihat aliran darah merah yang mengalir di leher kekar Siwon. Tahan Sooyoung! Tahan! Siwon menekan bagian belakang kepalanya lagi, membuat hidungnya menyuruk pas kebagian aliran darah manis Siwon. Ya Tuhan. Ya Tuhan. Sooyoung mengeluarkan lidahnya, mencicipi sedikit. Sensasi manis, lebih manis dari apapun yang manis didunia ini, membuat kepalanya berputar dan otaknya memburam. Sooyoung menahan sebelah tangannya di pundak Siwon yang keras, lalu melingkupkan mulutnya ke leher Siwon, menyesap, menghirup. Surga. Ia serasa berada di surga. Lezat sekali. Sooyoung terus menyesapnya dengan kuat, tidak menyisakan titik-titik yang jatuh dari leher itu, ia bisa mendengar Siwon yang mengerang, masih mengetatkan pelukan tangannya ke pinggangnya.

“Sudah cukup.” Siwon menarik Sooyoung, menyebabkan Sooyoung duduk dipangkuannya dengan tatapan bingung. Mulutnya yang mungil berwarna merah darah. Darahnya. Sooyoung menjilat pinggir bibirnya mencari-cari darah yang masih tersisa.

“Terima kasih, Siwon. Lagi-lagi kau menolongku” Sooyoung tersenyum. Ia mencondongkan kepalanya dan membelai ringan luka di leher Siwon dengan lidahnya. Perlahan luka Siwon menutup dan sembuh. Sooyoung mengecup singkat leher Siwon lalu menarik diri. Siwon masih menahannya. Mereka saling bertatapan lama. Sooyoung masih berada di pangkuan Siwon, dan Siwon masih melingkarkan tangannya di pinggang Sooyoung.

“Kau. Sooyoung. Mengapa kau bisa membuatku menginginkamu?” Siwon menarik wajah Sooyoung hingga mendekatinya. Ia bisa melihat perubahan emosi di wajah Sooyoung mendengarnya menyebut nama Sooyoung untuk pertama kali. “Mengapa kau selalu membuatku memikirkanmu?” Siwon mengecup ringan pipi Sooyoung. “Mengapa kau bisa membuatku merasakan emosi lagi?” kecupan Swon mengarah ke kelopak mata Sooyoung yang menutup. Siwon menangkup rahang Sooyoung dan mengelus pelan jempolnya di pipinya. “Kau yakin?”

Sooyoung membuka matanya pelan. “Yakin apa?” Ia menatap kedalaman mata hitam Siwon.

“Aku… adalah malaikat yang dibuang. Kau yakin ingin terikat denganku ? Selamanya hanya bisa minum dariku, apa kau senang? Atau malah sedih? ”bisik Siwon dengan lirih. Wajahnya menyiratkan penyesalan yang mendalam dan kesedihan.

“Sekian lama aku hidup baru kali ini aku benar-benar hidup. Sejak kau memberikan setetes darahmu, aku berubah. Aku bangun dengan berpikir apa aku bisa bertemu denganmu, mengecapmu, rasa manismu, kulitmu maupun darahmu. Aku benar-benar bersyukur penderitaanku yang nyaris mati itu menuntunku padamu. Kaulah satu-satunya malaikat bagiku, Siwon.” Sooyoung mengucapkan kalimat itu dengan pandangan serius. Menatap langsung pada mata Siwon. Siwon menyatukan bibir mereka. Menguncinya hingga mereka bisa berbagi apa yang ingin mereka bagi. Penyatuan jiwa yang membuat masing-masing bisa mengerti kenangan buruk, bahagia, senang, sedih, jatuh.

“Kau milikku.” Gumam Siwon lirih. Dan didasar hati yang paling dalam, Sooyoung juga menyetujui pernyataan itu.

****

“Kita bertemu lagi ya!” Suara Changmin membahana membuat Sooyoung dan Siwon yang sedang berpatroli bersama waspada. Mereka melihat sekeliling, angin mendesis dengan suaranya yang khas.

“Dimana kau Changmin?” Teriak Sooyoung. Siwon berjaga dibelakangnya.

Cepat sekali ia mendengar teriakan kesakitan Siwon. Sooyoung segera menghampiri Siwon yang seang memegang bahunya. Ekspresinya menyiratkan kesakitan yang amat sangat. Tusukan di bahunya dalam sekali, pikir Sooyoung ngeri. Siwon berusaha menghentikan aliran darah di bahunya. Ada yang aneh dengan belati yang dipegang vampire gila itu. Changmin. Sepertinya tubuhnya tidak bisa meregenerasi dengan cepat dan malah memompa seluruh darah yang ada. Siwon terduduk pelan, darahnya mengalir membasahi lengannya. Changmin tertawa terbaha-bahak sambil menggenggam belati berukir yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

“Kenapa ? Kau kaget dengan belatiku? Lukamu malah mengeluarkan darah ya?” Changmin menari-nari sambil mengibaskan belatinya. Siwon mengeryit kesakitan, pandangannya mulai berkunang. “Kaget? Tentu saja kaget! Belati ini belati yang khusus dibuat oleh nenek moyang para vampir dulu saat bangsa kita masih bermusuhan! Aku sudah menunggu saat ini. Bukan, belati inilah yang telah menunggu saat untuk menusuk seorang malaikat untuk pertama kalinya! Kau senang kan, belatiku? Senang kan?” Changmin menjulurkan lidahnya, menangkap darah Siwon yang ada di belati itu. “Slurpp. Darahmu benar-benar kuat ya. Berbeda dari darah yang pernah kuminum.” Siwon menggenggam pedangnya yang licin karena aliran darahnya yang masih terus mengalir. Sooyoung menahan dada Siwon. Ia bisa merasakan Siwon yang sudah mulai sesak.

Changmin membalikkan badannya. Ia masih menjilat sisa-sisa darah Siwon di belatinya. “Hmm. Nah mana dulu yang akan kutebas? Sooyong manisku atau malaikat kecil ini?” Changmin tersenyum dengan ekspresi gilanya. “Mana du…”

Sekejap dan hanya sekelebat, Sooyoung bisa melihat panah cahaya yang melesat dan membagi menjadi empat, menusuk menembus tubuh pembuatnya. Tubuh Changmin kaku, pandangan matanya menatap ke Sooyoung dengan heran, lalu menundukkan pandangan matanya ke tubuhnya yang tertembus panah cahaya.

“Hancur.” Suara merdu itu bergema rendah. Changmin merasa tubuhnya kehilangan keseimbangan. Sedikit demi sedikit, dimulai dari ujung jari, merambat ke lengan, hancur. Angin kencang membantu penghancuran bagian-bagian tubunnya. Ia bahkan tidak sempat berbicara. Ia hanya mampu membalikkan badan, melihat sosok malaikat bersayap abu-abu. Abu-abu? Malaikat itu tersenyum lembut padanya sambil membawa busur cahaya. Malaikat sialan, pikiran itu terbesit untuk yang terakhir kalinya.

Sesosok lelaki tampan dengan senyum nakal yang menghiasi wajahnya mendarat dengan elegan. Busur emas ditangannya menghilang secepat munculnya. Sooyoung ternganga. Disebelahnya Siwon masih memegang lengannya yang terluka dengan kewaspadaan yang belipat ganda. Kyuhyun berjalan dengan langkah ringannya, melambung satu senti dari permukaan tanah. Sayapnya yang berwarna abu-abu mengkilat dengan ujung hitam disetiap helai melambai ringan diterpa angin malam. Satu bulu sayap abu-abu itu mendarat tepat di bahu Siwon yang terluka, menghilangkan efek memompa darah. Siwon bernapas lega saat lukanya mulai menutup. Siwon menatap Kyuhyun dengan tatapan peringatan, Kyuhyun mengabaikan tatapan peringatan dari Siwon dan langsung menuju kedepan Sooyoung. Sambil menopangkan tangannya sambil mengusap dagunya, ia menelengkan kepalanya untuk memperhatikan Sooyoung dari dekat.

“Ya ampun. Kau mirip sekali, miss.” Kyuhyun menyuarakan suaranya yang bahkan bisa membuat burung gereja mengerebunginya dengan nada nakal. Matanya mengerling ringan kepada Siwon yang masih menatapnya dengan tajam, menyuarakan jangan-macam-macam.

“Dengan siapa ?” jawab Sooyoung spontan. Ia bisa merasakan remasan tangan Siwon di lengannya yang membuatnya sadar akan pengaruh menghipnotis suara dan mata Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum lembut, ia lalu mendekatkan telapak tangan Sooyoung dan menciumnya ringan. Sooyoung kaku, tidak terbiasa dengan lelaki yang mencium telapak tangannya .

“Dengan istriku.” Jawab Kyuhyun pendek. “Yang sayangnya sedang bertengkar denganku terakhir kali kami bertemu.” Lanjut Kyuhyun sambil menghembuskan napas kecewa. Sooyoung tidak tertipu, ia masih bisa mendengar nada kasih sayang disuara Kyuhyun.

“Dan kenapa itu ?” tanya Sooyoung dengan nada menggoda dan penasaran.

“Karena aku terlalu tampan.” Kyuhyun terkekeh geli. Sooyoung menaikkan sebelah alisnya. Siapapun perempuan yang mirip dengannya dan telah jatuh ke perangkap Kyuhyun ini, ia merasa bersimpati dengannya.

“Bagaimanapun aku berterima kasih karena kau telah menyelamatkan kami.” Ujar Sooyoung dengan nada senang. Kyuhyun mengangguk ringan lalu mengalihkan pandang kearah Siwon.

“Kemampuanmu sudah turun ya, Siwon? Kau bahkan tidak bisa mengalahkan kecoa sepertinya.” Kyuhyun tertawa mengejek. Siwon memutar bola matanya.

“Diam kau.” Siwon mengulurkan tangannya kearah Sooyoung yang langsung menyambutnya dengan antusias. “Apa yang kau lakukan disini ? Seorang malaikat tinggi sepertimu tidak mungkin bersedia membunuh tanpa alasan yang jelas.”

Kyuhyun membungkukkan badan, memeriksa abu Changmin yang telah hancur. Ia tersenyum saat menemukan sebuah belati antik yang telah menusuk Siwon. “Aku hanya ingin memastikan ini dihancurkan. Belati yang berbahaya sekali. Belati ini bisa mengancam kehidupan para malaikat.” Jawab Kyuhyun sambil mengeluarkan api dari tangannya, membuat belati itu hancur seketika. Kyuhyun menepukkan tangannya. Ia menatap sekali lagi pada Sooyoung. “Kulihat kita memiliki selera sama ya. Aku bersyukur telah bertemu istriku di dimensi yang lain.” Kata Kyuhyun sambil terkekeh geli.

“Memangnya seberapa mirip istrimu dengan aku?” Tanya Sooyoung masih menggelayut dilengan Siwon.

“Ah.. dia adalah kau yang hidup di dimensi dunia yang lain. Jadi nama, maupun wajahnya sama persis denganmu. Hanya satu yang berbeda.” Kata Kyuhyun. Sooyoung menatapnya dengan mata berbinar, memberi isyarat untuk Kyuhyun melanjutkan ceritanya. “Dia bisa membuatku berdebar-debar.” Jawab Kyuhyun santai. Ia melirik kearah Sooyoung dan Siwon serta belitan tangan Sooyoung pada lengan Siwon. “Melihat kalian sepertinya aku harus segera pergi. Aku tiba-tiba mempunyai keinginan mendesak untuk bertemu istriku.” Kyuhyun membuka sayap abunya yang berkilau diterpa sinar bulan. “Adios buat kalian berdua.” Ujarnya sambil melesat dengan cepat.

“Dia benar-benar malaikat yang ramah, ya.” Ujar Sooyoung ceria. Siwon menggelengkan kepalanya pelan.

“Dia itu penghukum bagi para malaikat, hakim. Dan sifatnya saat serius berbeda jauh dengan yang kau lihat barusan. Dari semua malaikat, ia yang paling kuat.” Kata Siwon. Sooyoung mendesah lirih dan matanya melirik Siwon yang masih memasang ekspresi serius. Sooyoung melepaskan lengan Siwon lalu menarik kerah kemeja hitamnya, membuat kepala Siwon menunduk dengan tiba-tiba. Sooyoung lalu menempelkan bibirnya dengan penuh, membuat Siwon melumat dan membalas pagutan Sooyoung.

“Kau akan menikah denganku kan, malaikatku?” tanya Sooyoung disela-sela ciuman mereka.

“Mengapa aku harus menikah denganmu?” jawab Siwon lirih, tangannya menangkup pipi Sooyoung dan menyatukan kembali bibir mereka dengan lembut.

“Karena kau mencintaiku.” Ujar Sooyoung lirih. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Siwon.

“Jiwa terkutukku ini hanya untukmu.” Siwon melumat pelan bibir bawah Sooyoung, lidah nakalnya mulai mengeksplorasi.

“Begitu juga denganku.” Sooyoung tersenyum sambil memeluk erat leher Siwon yang masih menciuminya habis-habisan. Aku tidak akan melepaskanmu, malaikatku.

—-THE END —-

 Makasih yang sudah mau baca cerita picisan saya. Maaf juga kalau banyak kalimat yang sulit ya, jangan sungkan-sungkan bertanya padaku lewat komentar. Entah mengapa adegan favoritku itu saat aku mengetikkan kata ‘THE END’ HAHAHAHA.. Thanks berat lohh udah bacaa!

#Author bagi ciuman melayang satu-satu. Jangan lupa komentar ya rek!   

Saengil Chuka Hamnida buat ku. HAHAHAHHAHA

 

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s