WICKED ANGEL [TWO SHOOT] – PART 1

Konnichiwa!! Kali ini author Nidya (aku maksudnya) coba-coba buat two shoots. Dan tentu saja masih dengan genre Fantasynya ! Walau kurasa juga kurang mengena di hati dan banyak typo dan lain lain serta kurang detail, tapi aku minta sumbangan saran-saran adegan dunk untuk shoots keduanya.. HAHAHAHA (Ciri” author kekurangan ide :P ). Soooo.. diharapkan yang udah baca jangan ngelewati kotak komentarnya ya.. #lirik kanan-lirik kiri.. hayooo#. saran kalian sangat berarti bagi perjalanan saya yang sedang melintasi Amazon ini untuk menulis FF ini #perumpamaan… tenang aja.. :D #

edit cover yes

#Judul  : Wicked Angel

#Author  : Nidya (pulpen_ijo@yahoo.com , @nidyavina)
#Genre   : Paranormal Romance
#Rating  : Semua usia, asal jangan bayi aja,, :D 
#Main Cast  : – Siwon as Siwon the dark angel
                          – Sooyoung as Sooyoung the vampire
#Other Cast  : Silahkan dibaca sendiri XD

I smile again like I did yesterday
I hide it as if nothing happened
Without permission, I looked into your heart
I guess it’s my part to take your heart
Now I want you

Have you ever loved to death?
Just once, just once, please look back
I cry out and call you but it doesn’t reach you
I love you, I love you

~~~~XIAH JUNSU – LOVE IS LIKE A SNOW~~~~

Sooyoung menekan pelatuk pistolnya, menimbulkan klik pelan, lalu ia mengecek kumpulan peluru cadangan di saku belakangnya. Ia berharap tidak akan menggunakan peluru cadangan ini. Semoga saja, pikirnya. Ia menelusurkan telapak tangannya didinding dimana ia bersembunyi. Pandangannya menelusuri ringan vampir gila yang telah menjadi targetnya sejak dua minggu lalu. Ia melirik jam tangannya, kakinya melangkah dengan hening, trik yang dipelajarinya saat ia mendapat pelatihan dari kakaknya. Suara televisi menggaung keras di ruang duduk. Ia melihat sekeliling, mencari tanda-tanda yang tepat untuk menghambur ke depan.

“Uh oh… Lihat apa yang kutemukan.” Suara berat dibelakang tubuhnya membuat Sooyoung seketika berbalik. Tapi tidak cukup cepat, belakang kepalanya dihantam dengan keras. Sakit. Ia tersungkur ke lantai, menelungkup. Lelaki itu telah memukulnya dengan sesuatu yang bahkan bisa membuat kerbau pingsan. Sial. Ia bisa melihat sepatu bot coklat yang berhiaskan lumpur saat pandangannya mulai menghilang.

****

Ia  merasakan air yang mengguyur tubuhnya. Air itu terasa perih saat bersentuhan dengan luka cambuk di punggungnya yang dihadiahkan lelaki itu kemarin. Sooyoung mengerang pelan, berusaha membuka matanya untuk melihat takdir terburuk kedua yang pernah menghantui kehidupannya.

“Bangun!” Nada kasar itu membuat pikiran Sooyoung seketika. Ia bisa merasakan tangan dan kakinya yang terikat erat. Ia menghunjamkan tatapan tajam kepada lelaki yang telah mencambuknya seharian penuh, membuat sebagian besar pakaiannya koyak dan kulitnya luka. Ia bisa melihat lelaki gila ini memegang secarik fotonya dan kak Yunho yang sedang tersenyum. “Apa kau punya hubungan dengan lelaki di foto ini ?? JAWAB!!” Sooyoung mengatupkan mulutnya rapat-rapat, menahan sakit saat lelaki itu menjeduk-jedukkan kepalanya di lantai batu. Darah mulai mengalir membasahi lantai, wajahnya penuh berlumuran darah. “Pasti kau adiknya.” Sooyoung bisa melihat senyum menyeringai menghiasi wajah didepannya. Tebakan yang tepat.

*****

-Sooyoung POV-

 Gelap.

Sudah berapa lama aku pingsan? Tubuhku sakit. Kepalaku sakit. Sekujur tubuhku sakit.

Aku mencoba menggerakkan jari-jari tanganku. Nihil. Kakiku. Dimana kakiku ? Aku tidak bisa merasakan kakiku. Aku mencoba membuka mataku, menggerak-gerakkan bola mataku, membuat kelopak mataku membuka sedikit. Buram. Aku mencoba lagi, dengan sisa sisa kekuatanku. Rasa sakit menyerang kepalaku, membuatku bisa melihat sekelebatan cahaya putih pada kelopak mataku yang tertutup.

Aku bsa merasakan darah kering yang mengucur dari belakang kepalaku. Sakit. Tahan Soo. Jangan menyerah tubuhku, please. Untuk kali ini aku membutuhkanmu bertahan. Dalam seratus lima puluh tahun ini, aku belum pernah memohon padamu. Jadi, please bertahan. Jangan hancur. Jangan dulu. Kak Yunho masih menungguku. Satu-satunya orang yang mau mengakui aku sebagai saudara saat yang lain menjauhiku.

Ingatanku berkelebat kembali seratus lima puluh tahun lebih yang lalu. Penyesalan. Rasa sakit yang melebihi rasa sakit yang kualami saat ini. Saat tergelap dalam hidupku. Aku menghembuskan napasku dengan lemah, mencoba menggapai sisa-sisa udara, membuat rusukku perih. Makhluk terkutuk itu mencapku sebagai miliknya saat pertama kalinya ia melihatku, menarikku di lorong gelap saat aku mengantarkan segelas ale kepada pelanggan, membekap mulutku, membawaku kerumahnya dengan paksa dan mengurungku selama setahun.  Hari dimana ia memaksaku untuk melayani nafsu sintingnya, membunuh jiwaku dan mengubahku sama seperti makhluk kotor sejenisnya.

Sialan. Sialaan!! Dan sekarang peristiwa menjijikkan ini terjadi lagi. Aku bisa merasakan daerah diantara kedua pahaku yang perih, mengucurkan banyak darah. Membuatku lemas. Darah. Aku membutuhkan darah. Aku bisa merasakannya berulang kali mencambukku, menggigitku disemua tempat, menghisap semua esensi hidupku. Kemarin. Sudah berapa lama aku ditempat ini ? Seminggu ? Sebulan? Semuanya terasa sama mengerikannya. Sebentar lagi aku akan mati. Mati sebagai vampir. Aku mengingat kak Yunho. Tawanya. Senyumnya. Maafkan aku, kak. Maaf. Aku…

“Uh Oh, Kau gadis yang kuat yaa.” Daguku serasa seperti ditarik, memaksaku mendongak. Aku bisa merasakan wajahku diteliti. Mungkin lelaki ini ingin mencari tempat diwajahku yang belum bengkak, membiru, atau mengucurkan darah. Aku bersiap menerima tinjuan darinya. Lemas. Pasrah. Lelaki brengsek ini menamparku, membuatku melonjak karena kerasnya tamparannya. Kepalaku membentur tanah. Aku bisa mendengar gemerincing rantai yang mengunci kedua tangan dan kakiku. Beberapa lukaku yang sudah menutup, membuka lagi. Haus. Haus.

“Bila kau ingin menyalahkan seseorang atas ketidak beruntunganmu ini, salahkan kakakmu.” Tawa lelaki itu bergema di dinding sempit ruang bawah tanah. “Dia membunuh saudara perempuanku! Padahal dia hanya seorang gadis kecil, dan yang dibunuh adikku hanya beberapa puluh orang! Jumlah yang sangat sedikit mengingat dia masih sangat polos saat itu. Kenapa? Kenapa kakakmu yang terkutuk itu malah membunuh adikku?!” lelaki itu berteriak sambil berjongkok. Merengut rambutku, menekankan keputusasaannya yang menjijikkan. Psycho, pikirku. Selalu saja aku yang harus berurusan dengan orang seperti ini.

Ia menamparku lagi, berulang-ulang. “Gara-gara kau! Semua karena kalian! Kalian merengut adikku!”

Aku hanya diam. Tidak bergerak. Sepertinya syaraf rasa sakitku sudah putus. Kehampaan, kegelapan. Aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

Hilang.

Hampa.

Apa aku bisa masuk surga? Kudengar tempat itu indah. Lebih tepatnya, apakah makhluk terkutuk tidak berjiwa sepertiku bisa masuk surga? Aku ingin bertemu ibuku. Aku sudah tidak bisa mengingat wajahnya lagi, tapi aku mengingat pelukannya, ciumannya, kehangatannya. Ibu. Kak Yunho.

Aku berada di seberang sebuah sungai yang bening sekali. Langit disekitarku mendung seperti menjelang hujan badai. Anehnya aku bisa berjalan dengan ringan. Rambutku yang berwarna merah tua berkibar-kibar. Sejuk sekali. Aku memejamkan mataku, tersenyum senang sambil berputar-putar riang. Aku sama sekali tidak merasa sakit. Aku bersenandung kecil, kakiku menyusuri pinggir sungai. Ada yang melayang, jatuh dengan pelan saat aku menengadahkan kedua tanganku. Aku mengerutkan kedua alisku,

Bulu ?

Bulu hitam yang indah, berkilat disepanjang sisinya dengan warna hitam melebihi warna hitam yang ada. Benar-benar hitam.

Aku seperti ditarik. Aliran listrik yang dahsyat mengaliri tubuhku.

Ada yang membasahi bibirku. Setetes cairan. Rasanya manis sekali.

Darah ?

Kalau benar darah, ini benar-benar darah termanis yang pernah kurasakan. Aku membuka lemah mulutku. Manis. Nikmat. Perlahan mataku sedikit terbuka, pemandangan masih buram. Sosok didepanku buram. Seperti sayap. Sayap? Hitam? Sayap hitam? Bukankah malaikat bersayap hitam sudah punah berabad-abad yang lalu karena perang? Apa ia yang memberiku darah?

“Kau… mau.. menjemput.. ku..” bisikku. Aku mencoba mengulurkan tangan ku dengan lemah kearah dark angel didepanku. Setetes air mata jatuh menuruni pipiku. Pertama kalinya aku menangis. Tubuhku terasa ringan, seperti diangkat dengan mudahnya. Sekujur tubuhku yang nyeri dan ngilu terasa nyaman. Bila rasa nyaman ini adalah kematian, aku rela mati.

*****

Siwon mengatupkan mulutnya membentuk garis lurus. Luka sayatan kecil yang dibuatnya di ujung jarinya sudah mulai menutup. Hanya satu tetes, pikirnya. Tidak lebih. Ia memandang gadis yang tergolek lemas di pelukannya. Mengumpat dalam hatinya, tangannya memeluk ringan gadis ini. Ia merenggangkan otot-otot punggungnya, berhati-hati membuka lebar sayap hitam kelamnya. Pinggiran sayapnya terangkat membuat sederet goresan lantai yang dalam. Ia melirik kembali kepala yang tergeletak disudut ruangan dengan pandangan mata dingin, dan mendengus. Makhluk yang pantas mati, pikirnya. Sayapnya mulai mengepak dan membawanya terbang dengan kecepatan tinggi menyusuri lubang yang ia buat hingga membawanya kelangit malam yang hanya disinari bulan. Gadis dipelukannya masih bernapas dengan tenang, terlihat nyaman setelah segala penderitaan yang telah ia terima.

Gadis yang merepotkan.

****

Tajamnya pisau menggores tangannya, lengannya, setiap ujung jarinya, lehernya, dadanya, perutnya, pahanya. Darah keluar, mengucur deras. Tubuhnya basah kuyup oleh darahnya sendiri. Rambutnya berkali-kali dijambak, rambut merah kebanggaannya sudah hilang, digantikan dengan rambut merah kumal yang bau, berminyak, melengket satu sama lain oleh darah kering. Pipinya berulang kali ditampar, bengkak, biru. Ia belajar menerima rasa sakit itu, kedua tangan dan kakinya dirantai. Kebengisannya hilang. Taringnya sudah tidak mau muncul. Ia hanya bisa menunggu, diam. Diam saat ia dipukuli, diam saat ia lelaki gila itu menggores satu persatu anggota badannya untuk membuat tubuhnya kekurangan darah. Sakit. Sakit. Tolong. Tolong aku.

“Bangun! Bangun Sooyoung!” Suara yang ia rindukan. Ia mengenal suara yang memerintahkannya untuk bangun. Ia membuka matanya, dibawah tubuhnya bukan lagi tanah yang dingin, didepan matanya bukan lagi dinding batu bawah tanah, dan sosok lelaki yang berlutut disamping ranjangnya bukan lagi lelaki brengsek itu.

“Kak Yunho!” Yunho segera memeluk badan mungil Sooyoung, menenggelamkan Sooyoung yang menangis tersedu-sedu. Yunho mengelus lembut rambut panjang Sooyoung yang sudah dipotong hingga mencapai pundak.

“Ssstt.. tenanglah sayang. Kau sudah aman.” Sooyoung masih terus menangis, baju bagian depan Yunho basah kuyup karena tangisan Sooyoung. Yunho menggumamkan kata-kata menenangkan, terus mengelus rambut dan punggung Sooyoung. Seharusnya ia yang disiksa, bukannya Sooyong. Ya Tuhan. “Maaf… maafkan aku Soo. Aku tidak bisa menjagamu. Aku gagal sebagai kakak. Aku gagal dalam sumpahku.” Yunho mengeratkan pelukannya pada Sooyoung. Sooyoung terisak sambil menggelengkan kepalanya.

“Bukan…. salah kakak. Aku tidak… menyalahkan kakak…..” kata-kata Sooyoung terputus-putus, terendam didada Yunho.

“Maaf.”

 ****

“Aku ingin bertemu dengannya.” Sooyoung mematut dirinya didepan cermin yang menampilkan keseluruhan tubuhnya. Tidak ada lagi tanda kekerasan di tubuhnya. Satu tetes darah yang diberikan lelaki itu membuat organ-organ dalam tubuhnya pulih dengan mengesankan. Sooyoung berputar dan melirik kaca, dipunggungnya bekas-bekas goresan serta sayatan pisau sudah menghilang. Sooyoung tersenyum. Ia lalu berjalan sambil bersenandung kearah lemari pakaiannya, memilih kemeja kotak-kotak hitam serta celana jins biru. Dan ajaibnya, tubuhnya sama sekali tidak merasa lemas walaupun ia tidak minum darah selama seminggu. Sooyoung meringis, menyapu bibirnya dengan lip gloss berwarna pink lalu menyisir rambutnya yang telah berkilau seperti dulu.

Sooyoung menemukan Yunho sedang duduk sambil membaca koran dan suara televisi menayangkan berita pagi berkumandang di ruangan. Yunho tersenyum melihat Sooyoung yang menghampirinya sambil tersenyum ceria.

“Hai manis.” Ia mengulurkan tangannya kepada Sooyoung yang langsung menyambutnya dan mencium pipinya.

“Hmm hmm. Pagi juga tampan.” Sooyoung tersenyum jahil kepada kakaknya yang melipat korannya ke atas meja.

“Apa yang ingin anda makan hari ini, madam?” tanya Yunho sambil membungkuk. Sooyoung tertawa melihat kelakuan kakaknya. Ia meninju pelan dada kakaknya yang langsung duduk dikursinya sambil mengerang kesakitan.

“Kau tidak bisa menipuku, kak. Itu tidak sakit.” Ujar Sooyoung sambil mengambil teko teh dan cangkir. Ia menuangkan setengah cangkirnya dengan cairan berwarna merah yang hangat. “Kau mau tambah, kak ?” Yunho bergumam pelan kalau ia tidak bohong sambil mengelus-ngelus tempat dimana Sooyoung meninjunya. Ia tertawa keras saat Sooyoung mulai cemberut.

“Jadi, bagaimana keadaanmu?” Yunho membuka kembali surat kabarnya, menaikkan sebelah alisnya pelan saat mendengar tentang pemaparan saham di televisi.

Sooyoung mengedikkan bahunnya pelan. “Aku baik-baik saja.” Sooyoung menatap Yunho. Yunho melirik sekilas kearah Sooyoung. Sooyoung terlihat ragu-ragu.

“Ada apa?” tanya Yunho singkat. Sooyoung menggelengkan kepalanya pelan. Tidak mungkin kakaknya yang bahkan merahasiakan pekerjaannya darinya mau memberitahukannya, pikir Sooyoung. Yunho mengetukkan jari telunjukknya ke meja. “Ada apa, Sooyoung?” tanya Yunho dengan nada menuntut.

“Kakak janji mau menjawab dengan jujur ?” tanya Sooyoung dengan pandangan memohon.

“Tidak. Aku tidak mau berjanji.” Jawab Yunho. Ia mengalihkan perhatiannya pada surat kabarnya. “Akan kupertimbangkan saat aku mengetahui jenis pertanyaan apa yang kau tanyakan.” Lanjut Yunho. Sooyoung mendesah pelan. Kakaknya memang orang yang sulit.

“Kakak tahu siapa yang menolongku ?” tanya Sooyoung dengan nada pelan. Yunho memundurkan sedikit kursinya dan menyilangkan kakinya. Ia menatap Sooyoung.

“Kenapa kau ingin tahu ?”

“Aku,, aku hanya ingin berterima kasih.” Jawan Sooyoung sambil menatap termangu pada cangkir yang dipegangnya erat-erat.

“Dia berbahaya, Soo. Jauhi dia.” Yunho memijat pangkal hidungnya. “Sudah kuduga ini akan terjadi. Aku tahu ini akan terjadi.” Gumam Yunho pelan. Sooyoung menatapnya dengan pandangan bertanya.

“Aku ingin tahu.” Ujar Sooyoung. Ia menatap kakaknya yang masih terperangkap dalam pikirannya sendiri sambil mengeluarkan gumaman-gumaman pelan. “Kak, kau kenapa sih?”

“Percayalah, kau tidak ingin tahu. Akhir pembicaraan.”

“Tapi kak…”

“Kubilang akhir pembicaraan kan, Sooyoung.” Sooyoung terdiam. Dengan geram ia mengangkat cangkirnya yang sejak tapi belum ia minum. Ia meminumnya. Dan tersedak. Ohok! Ohok! Tenggorokannya panas. Pahit. Rasanya pahit. Yunho terkejut melihat Sooyoung yang tersedak berusaha mengeluarkan minumannya.

“Kau tidak apa-apa, Sooyoung?” Yunho menepuk pangkal kepala belakang Sooyoung. Sooyoung masih batuk-batuk pelan. “Kau ini kenapa sih? Apa kau sudah lupa cara minum darah?” tanya Yunho tidak sabar. Disekelilingnya menggenang darah merah, membuat keadaan kacau. Sooyoung masih memegang tenggorokannya, terlihat tersiksa.

“Panas kak. Tenggorokanku panas.” Kata Sooyoung lirih. Suaranya hampir hilang. Yunho segera menyambar cangkir Sooyoung yang terguling dan meminum sisa yang ada dicangkir. Ia mengerutkan kening dan menatap aneh pada Sooyoung.

“Kau. Apakah kau meminum sesuatu akhir-akhir ini? Apa yang kau minum?” Yunho memegang kedua bahu Sooyoung. Sooyoung membeku.

“Sepertinya… satu tetes darah.” Jawab Sooyoung ragu-ragu. Ekspresi kakaknya terlihat menakutkan.

“Darah siapa? Siapa?” tanya Yunho keras. Sooyoung masih menatap takjub pada kakaknya yang terlihat marah besar.

“Dia.” Jawaban Sooyoung membuat Yunho pucat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. Ia mendesah kecil dan menatap Sooyoung lurus-lurus.

“Kau berada dalam masalah besar, Sooyoung.”

*****

Sooyoung melarikan mobilnya dengan kecepatan seorang pembalap. Ia masih mengingat-ingat penjelasan kakaknya.

“Kita ini Soo, walaupun aku tidak pernah mengijinkanmu meminum darah langsung dari pembuluh darah manusia, sebenarnya sah-sah saja untuk meminumnya. Hanya saja, lebih aman bila kita tidak tahu sumber dari darah yang kita minum.”

“Kenapa begitu ?”

“Ketertarikan kedua belah pihak, soul mate, apapun sebutanmu. Ada satu jenis darah yang akan bersinkronisasi dengan sistem tubuh kita, darah langka yang hanya ditemui seumur hidupmu. Sekali kau merasakannya, sistem tubuhmu tidak akan bisa menerima darah lain selain darah itu.”

“Apa itu terbukti benar ?” tanya Sooyoung ragu.

Yunho memutar bola matanya. “Tentu saja benar. Itulah yang terjadi saat aku bertemu kakak iparmu, Sooyoung.” Jawab Yunho tidak sabar. Sooyoung kaget. Wajahnya menampakkan ekspresi aneh. Yunho menghela napas pelan.

“Victoria dulu manusia. Aku yang mengubahnya. Dia itulah yang menyebabkan aku tidak bisa makan selama tiga bulan penuh karena aku harus mencarinya ke seluruh penjuru negeri. Darah yang kupaksa masuk ketubuhku akan keluar lagi dan menyebabkan aku semakin lemas. Hampir saja ia menikah dengan lelaki lain saat itu.” Jawab Yunho dengan pikiran menerawang. “Tapi tentu saja aku berhasil merebutnya dan bisa kau lihat kemesraan kami hingga saat ini. Efek mengikat itu akan berakhir hingga seratus tahun kurasa. Butuh seratus tahun hingga kami tidak terlalu saling bergantung satu sama lain. Kami bisa minum darah dari orang lain sekarang, walau tentu saja hanya bertahan sehari. Bila aku minum dari Victoria, aku bisa bertahan tanpa darah maksimal lima bulan.” Lanjut Yunho.

Sooyoung menganga. Wajahnya pucat.

“Artinya, kau terikat dengan manusia bersayap berengsek itu.”katanya dengan nada final.

Sooyoung menyipitkan matanya, pikirannya memutar ulang adegan percakapan tadi pagi. Payah. Bila ia tidak minum dalam waktu dekat, ia bisa mati. Hancur. Menjadi tanah. Astaga. Ingin sekali ia menjedukkan kepalanya pada setir mobil. Ia berhasil mendapatkan nama dan alamat lelaki itu. Siwon. Apa yang harus kulakukan. Ya ampun.

****

Siwon membuka matanya. Ia mengelus-elus dahinya, mencoba memberi rasa nyaman pada sakit kepalanya. Tanda datangnya emosi. Dimulai sejak seminggu yang lalu. Datang disaat-saat yang tidak pasti. Dan saat sakit kepala ini datang, berbagai macam emosi langsung meluap. Biasanya emosi kesakitan dan ketakutan yang datang. Sekarang yang ia rasakan adalah kepanikan. Siwon mengabaikan rasa sakit kepalanya dan berjalan menuju westafel. Seminggu yang lalu. Tugas terakhir itu seminggu yang lalu. Ia memberikan darahnya kepada seorang gadis yang dipukuli hingga nyaris mati. Siwon menatap bayangannya di kaca buram. Ia menekankan tangan kanannya di uap yang membayangi kaca. Gadis itu. Kaca didepannya retak, satu persatu pecahan jatuh ke lantai, meninggalkan setengah lapisan kaca yang memantulkan setengah bayangan wajah Siwon. Tidak mungkin.

Siwon mendongakkan kepalanya. Ada penyusup. Satu orang dengan langkah ringan. Perempuan. Siwon menuju kebalik meja dan menggenggam belatinya dengan ringan.

****

Rumah didepannya suram. Terdiri dari dua lantai. Gelap dan suram. Sooyoung memperhatikan halaman rumah yang tidak terawat, pintu pagar yang sudah lepas dan hampir roboh. Ia memarkirkan mobilnya, lalu menjejakkan kakinya dengan ragu-ragu. Sarang laba-laba menghiasi langit-langit beranda. Kaca di setiap jendela bolong. Sooyoung memeriksa kembali alamat yang diberi oleh kakaknya. Mungkin ia salah alamat. Karena tidak mungkin pekerjaan dengan upah besar tinggal di rumah yang tidak terawat ini. Nomor 62. Sooyoung melihat papan nomor yang setengah tergantung di dinding beranda. Memang ini rumahnya, pikirnya dalam hati. Ia beranjak menuju kedepan pintu, memeriksa bel pintu dan kecewa karena rumah ini tidak dilengkapi dengan bel. Sooyoung memutar kenop pintu, dan terbuka dengan bunyi kriut keras. Ia bergidik. Angin dingin seperti sengaja bertiup di tengkuknya.

“Permisi…” Ia berjalan dengan perlahan. Sooyoung merogoh sakunya dan menggenggam erat pistol kaliber mini dengan daya penghancur kuat di tangannya. Sinar matahari menerobos melewati jendela kaca yang bolong. Sofa yang ditutupi kain putih tampak terbalik diujung ruangan. Ia terus berjalan. “Siwon..?” ia berbisik dengan lirih. Mengacungkan pistol mininya ke segala arah. “Siwon ? Halo ?”

Sooyoung bisa merasakan logam dingin dan tajam menyentuh kulit lehernya. Ia mencoba melirik kebelakang dan bisa menebak bahwa si malaikat hitam itulah yang berada dibelakangnya.

“Jangan bergerak,” suara dingin lelaki itu membuat bulu kuduknya berdiri. Sesaat ia menyesali perbuatan bodohnya dan perasaan kenapa ia begitu ingin bertemu dengan lelaki ini. Si iblis berkedok malaikat. Napas lelaki itu berhembus di tengkuknya, membuatnya merinding. Pikirannya berkabut, panik, mencoba mencari cara untuk melepaskan diri. Pisau yang ditempelkan di lehernya mulai menggotes kulit lembutnya, meninggalkan jejak darah. Kerah putihnya menyerap darah yang mengalir dari lehernya. Lelaki itu menggerakkan tangannya, menyentuh pelan leher Sooyoung yang tergores, jarinya bergerak pelan menelusuri lengannya, pelan hingga mencapai pergelangan tangannya. Tangan lelaki itu mengelus pelan pergelangan tangannya, membuat pegangannya pada pistol melemah. Secepat kilat, ia melepaskan pistol dari genggamannya dan melemparkan pistol itu keseberang ruangan. Sooyoung menunduk, menggertakkan giginya, lalu menyentakkan kepalanya kuat-kuat, tepat mengenai wajah Siwon. Siwon merenggangkan pegangannya pada Sooyoung, sooyoung segera mencabut belati yang sudah disiapkannya dibalik sepatu botnya. Ia bergerak menendang pisau yang dibawa Siwon. Sooyoung memanfaatkan kesempatan itu dengan mendorong Siwon hingga jatuh kelantai, dan menindih dadanya dengan belatinya yang ia tempelkan tepat di leher Siwon. Kali ini Sooyoung bisa melihat dengan jelas rupa Siwon yang sebenarnya. Ia menatap Siwon dengan sinar mata kemenangan. Siwon menatapnya balik dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.

“Keadaan telah berbalik ya.” Sooyoung tersenyum lebar. Senyumnya membeku saat dia dengan mudahnya dijungkir balikkan. Sekarang Sooyounglah yang berbaring di lantai dengan tubuh besar Siwon menindihnya. Siwon masih menatapnya tanpa emosi. “Sialan! Lepaskan aku! Atau setidaknya tunjukkan ekspresi kemenangan atau apa!!” Sooyoung berusaha memberontak, menggoyangkan tubuhnya kekanan dan kekiri, bertekad membuat Siwon melepaskan dirinya. Tapi percuma, Siwon terlalu kuat. Siwon menyapu darah yang masih menetes di leher Sooyoung, membuat ujung jarinya berlumuran darah. Siwon kaku. Ia baru menyadari sakit kepalanya hilang dengan tiba-tiba. Jangan-jangan…

“Apa kau ini…?”

Sooyoung mendengus. Ia masih berusaha mendorong dada Siwon yang mendudukinya dengan sekuat tenaga. Siwon lalu berdiri. Ia masih memperhatikan Sooyoung yang berusaha mengibas-ngibaskan debu di pakaiannya dengan gusar.

“Kita pernah bertemu.” Kata Sooyoung. Siwon menyipitkan matanya.

“Aku tidak ingat.” Jawab Siwon. Sooyoung memelototinya.

“Kau bohong. Kaulah yang menyelamatkanku.” Siwon menggelengkan kepalanya.

“Kau salah orang.”

Sooyoung mendengus. “Aku tidak mungkin salah. Aku mengenali aromamu. “ tandas Sooyoung. “Dan aku memutuskan untuk membalas jasamu dengan membantumu dalam pekerjaanmu.” Lanjut Sooyoung dengan nadanya yang paling ceria. Siwon diam.

“Tidak perlu.” Siwon membalikkan badan, memunggungi Sooyoung sambil merenggangkan lehernya yang kaku. Otot-otot punggungnya tampak bergerak dengan indahnya membuat Sooyoung tidak mampu mengalihkan pandangannya.

Sooyoung membelalakkan matanya. Kesal karena ia dianggap tidak berguna dan karena ia tertarik dengan malaikat kasar didepannya. “Aku akan membantumu.” Katanya memaksa.

“Tidak.”

“Sudah kubilang kalau aku akan membantumu. Aku cukup berguna.” Tandas Sooyoung keras kepala. Siwon menggelengkan kepala, bergerak menaiki tangga meninggalkan Sooyoung yang masih membelalakkan matanya di ruang depannya.

“Jangan meremehkan aku! Dasar malaikat sombong!” Jeritan Sooyoung yang terdengar hingga ke lantai dua membuat ujung bibir Siwon dengan pelan terangkat kearas.

****

Sooyoung menggerutu pelan. Jarinya menekan tuas pistol yang ia pegang secara berurutan, menghancurkan satu per satu kepala vampir-vampir gila didepannya. Ada dua tipe vampire yang hidup didunianya. Satu, jenis vampire yang sudah bersumpah untuk hidup dalam perdamaian dan melarang bangsanya untuk menghisap darah sembarangan. Dan yang kedua, Sooyoung bergerak dengan lincah mengisi lagi pistolnya dengan peluru, kedua tangannya menembak secara bersamaan, dan yang kedua adalah jenis vampire haus darah yang menganggap tidak masuk akal bangsa vampire mengingkari kodrat sebagai vampire. Sooyoung mengeryit saat ada darah yang terciprat di pipinya. Ia menghela napas lelah, melihat berberbagai macam kekacauan yang telah ia buat. Merasa jijik dengan mayat vampir yang bergelimangan dan bersyukur dalam hati. Ia benar-benar berterima kasih pada kak Yunho yang telah menyelamatkan dan menjaganya saat ia baru menjadi vampire. Yang lebih penting, kapan Siwon akan sadar kalau ia tidak akan bisa hidup tanpa dirinya?Pikiran gila itu membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak, lalu ia merasa sangat bersalah karena sempat berpikir seperti itu. Siapa juga yang akan tertarik dengan malaikat iblis yang sedingin es alaska itu? Semua spesies malaikat itu seperti bisul dibokong, membuat sakit saat duduk dan lama sekali menunggu pecah. Bukan berarti Sooyoung punya pengalaman dengan bisul dibokong, hanya saja keadaannya benar-benar mirip. Catat Sooyoung, kau hanya membutuhkan darahnya.

Sooyoung berlutut. Kakinya lemas seperti tidak kuat lagi menahan berat tubuhnya. Napasnya ngos-ngosan seperti habis berlari maraton. Dengan tangan gemetar ia menembakkan pelurunya ke vampire terakhir. Ia kelelahan. Rekor dalam hidupnya. Hampir sebulan ia tidak minum darah. Setetes pun. Dan sekarang ia rindu sekali dengan rasa manis darah terakhir yang ia minum. Ia tidak berani mencoba meminum darah yang disediakan dirumah, ngeri dengan rasa pahit dan sensasi tenggorokan terbakar yang pernah ia rasakan. Darah itu hanya akan membuatnya semakin lemah.

Pandangan Sooyoung menerawang, sekarang kak Yunho pasti sedang bermesraan dengan kak Victoria, istrinya yang baru pulang dari pertemuan para vampir petinggi wanita. Ia benar-benar tidak tahan saat acara makan malam mereka tadi. Mereka saling melontarkan pandangan panas dan janji-janji sensual dari seberang meja. Karena merasa mereka bergantian melirik Sooyoung dengan pandangan kau-mengganggu, Sooyoung yang tahu diri segera permisi untuk patroli lebih awal. Merasa bersyukur karena bisa menggunakan alasan patroli itu dan aku-tidak-makan untuk kabur dari jejak membara mereka. Alasannya diterima dengan terlalu cepat oleh mereka berdua. Ya ampun. Mereka benar-benar seperti pasangan yang baru menikah saja. Sooyoung duduk dibangku taman, memandang sinar bulan yang terang, bintang berkelip-kelip menemani si bulan. Sooyoung iri.

“Dimana ya bisa kutemukan hubungan seperti itu…”, desah Sooyoung lirih. Ia membayangkan Siwon yang memeluknya, menciumnya, membisikkan kata-kata manis. Bayangan itu membuat jantungnya berdebar-debar, dan wajahnya memerah. “Aku pasti sudah gila”, katanya keras-keras.

-Beberapa ratus kilometer dari tempat Sooyoung-

Aliran listrik kecil menyambar secara tiba-tiba di tubuh Siwon. Ia berhenti, sejenak merasakan kehangatan didadanya, dan sakit kepala itu muncul lagi. Ia hanya mengambang dilangit luas sambil berkonsentrasi pada gambar yang tiba-tiba melintas dikepalanya. Pertama kalinya ia membayangkan sesuatu yang janggal dan tidak pernah terpikirkan sama sekali di otaknya. Gambar yang melintas itu memperlihatkan ia yang menyentuh, mencium, menggumamkan kata-kata manis dan menenangkan, memeluk erat gadis itu. Siwon mengusap pelipisnya, menambah tekanan setiap kali bayangan itu semakin jelas. Ia berusaha menghilangkan gambar-gambar menyesatkan itu. Ini pasti pikiran yang terlintas di pikiran gadis itu, pikir Siwon. Siwon merasa emosi gadis itu yang sering berkelebat di benaknya sedikit menarik. Emosi para malaikat memang sering kali kosong. Mereka semua memiliki hati es. Dingin. Tidak pernah merasakan cinta, kasihan, rasa sayang. Sekarang ia jadi bisa merasakan bermacam-macam emosi. Jadi ini rasanya punya perasaan, pikirnya. Setelah gambar-gambar itu, sekarang ia bisa merasakan perasaan malu dan konyol gadis itu. Siwon bahkan hampir bisa membayangkan wajahnya yang merah meronanya. Pernah saat ia sedang mengangkat pedangnya untuk memenggal kepala mangsanya, perasaan kasihan menerpanya, membuatnya harus menutup sebelah matanya, membuang perasaan kasihan yang dialirkan gadis itu-mungkin gadis itu sedang melihat kelinci yang terluka karena berkelebat pula gambar kelinci yang terkena panah- ia mengayunkan pedangnya kuat-kuat untuk mampu memenggal kepala targetnya.

Gadis yang menarik. Tapi juga mengganggu. Lama-lama ikatan ini bisa berbahaya, pikirnya. Siwon mengayunkan kedua sayapnya kuat-kuat, membuatnya melesat dengan cepat di ketegelapan malam. Bulu sayapnya yang menyatu merangkai punggungnya membentuk satu kesatuan yang bahkan bisa membuat malaikat bersapap putih iri. Ia berkonsentrasi dalam pikirannya dan  sayapnya membawanya ke suatu tempat. Siluet gedung-gedung pencakar langit dengan gemerlapan lampu-lampu hanya memberikan pemandangan sekilas dengan kecepatannya terbang. Tiba-tiba ia berhenti, pandangannya menyelusuri objek yang dicarinya. Saat Siwon melihat kebawah, ia bisa melihat gadis yang membayangi dan menggelayuti pikirannya sedang duduk berselonjor di bangku taman.

“Apa kubunuh saja, ya ?” gumamnya.

— TO BE CONTINUED–

yappp.. selesai deh untuk shoots pertama. Inget, minta komentar yang mengandung unsur saran yaa.. “Wahh, bagusnya selanjutnya gini thor, misalnya aja….. #tap tap tap#” gitu dehh,,, hhahaa.. pengen tau ide ide kalian itu seperti apa… #author payah

maaff bungudzz kalo ada salah kata, salah typho, gag nyambung, ato terlalu sedikit menurut standar kalian.. :D

P.S sempatkanlah berkomentar setelah membaca. Istilahnya mengucapkan selamat tinggal setelah bertamu gitu :P :D  

HAPPY READING !!!

Advertisements

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s