MY LORD MY LOVE PART 3

 Judul              : My Lord My Love

Author            : Nidya (pulpen_ijo@yahoo.com)

WEB               : lembarandaunhijau.wordpress.com

Genre             : paranormal, romance

Rating             : 18+

Main Cast      :

Siwon as Hades  (God of Underworld)

Sooyoung as Persephone (Goddess of Harvest)

Other Cast     :

Hyo yon (SNSD) as Demeter

KyuHyun (SUJU) as Cerberus       

Lee Teuk (SUJU) as Zeus

hades_and_persephone_2_by_sandara-d3hkrew - Copy

“I want morning and noon and nightfall with you. I want your tears, your smiles, your kisses…the smell of your hair, the taste of your skin, the touch of your breath on my face. I want to see you in the final hour of my life…to lie in your arms as I take my last breath.”
― Lisa KleypasAgain the Magic

Siwon menjeblakkan pintu kuat-kuat tanpa mendorongnya. Kakinya melangkah dengan tegas memasuki ruang duduk, menandakan kalau mood nya sedang tidak baik.

“PERGI.”

Leeteuk tertawa terbahak-bahak. Bahunya berguncang hingga air mata bergulir pelan dari matanya. “Aku…” tawanya terdengar menggelegar lagi. “Aku tidak menyangka kalau reaksimu sampai seperti ini.” Siwon mengerutkan dahi. Ia berjalan kearah mejanya, dan melemparkan buku tebal dengan cepat kearah Leeteuk yang mampu menghindarinya dengan mudah.

“Kau Leeteuk, adalah masalah. Bila kau tidak pergi secepat kau datang, dengan sangat menyesal aku akan melemparkanmu keluar dari duniaku. Pergi.” Suara dingin Siwon yang mampu membekukan tulang terlihat tidak berpengaruh pada Leeteuk. Leeteuk masih duduk dengan santai sambil mengamati Siwon dengan ekspresi tertarik. Dan Siwon sangat membenci Leeteuk. Bila ia menemukan kenalan seperti pribadi lelaki didepannya ini, dengan senang hati Siwon lah yang akan memanggang orang itu. Dengan tangan sendiri.

Leeteuk melambaikan tangannya ringan. “Kau tidak punya teh? Aku haus. Dan kue kecil kalau ada. Ah, kuduga kau tidak punya? Ya ampun.” Leeteuk menghela napas pelan dan seketika dua cangkir dengan satu poci berukir sulur emas dengan uap mengepul serta satu nampan penuh kue aneka macam tersedia di meja. Siwon masih diam. Ekspresinya tidak terbaca, mencoba menebak maksud kedatangan Leeteuk kedunianya, yang bahkan para dewa lainnya, dalam berabad-abad dia memerintah dunia ini, tidak pernah berkunjung. Termasuk kedua kakaknya.”Kau tidak mau makan? Kue ini enak sekali.” Leeteuk menggigit pelan sekeping kue kering berlapis coklat dan gula putih. “Terlalu manis, tapi aku suka.” Siwon berusaha melemaskan pundaknya. Ia bersandar menyender pada meja lebarnya, melipat kedua tangan didepan dadanya sambil tetap memperhatikan makhluk necis berambut pirang didepannya.

“Apa tujuanmu?”

Leeteuk tersenyum dengan tampang polosnya sambil menyeruput cangkir tehnya. “Hmm.. hmmm. Kuberitahu. Tidak kuberitahu. Kuberitahu. Tidak kuberitahu. Kau tahu Siwon, kurasa kau tidak akan kuberitahu. Kau dingin sekali.” Jawab Leeteuk sambil tersenyum lebar. Ia mengambil sekeping kue kering lagi dan memakannya.

Siwon menegakkan punggungnya. “Kyuhyun.” Kyuhyun muncul disebelah Siwon, dengan wajah tampan, pakaian rapinya dan buku notes yang selalu ia bawa sambil tersenyum miring. Siwon menjentikkan jarinya pelan. “Dia makananmu.” Seketika bola mata Kyuhyun berubah merah, sosok Kyuhyun menghilang digantikan seekor anjing hitam raksasa dengan tiga kepala. Masing-masing kepala mempunyai gigi-gigi tajam dan beberapa taring yang terlihat sanggup mengunyah sebuah traktor. Dua kepala menggonggong penuh semangat, menyemprotkan air liurnya kesegala arah, membuat lubang-lubang dalam disetiap cipratan liur dan satu kepala terlihat tenang dengan bola matanya yang berputar-putar kesegala arah. Ekornya yang berlapis api biru melenting kesegala arah, dengan cakar-cakar yang siap menyerang menunggu satu jentikan jari Siwon untuk menyerang Leeteuk yang masih meneguk cangkir tehnya dengan nyaman, seakan tidak terganggu.

“Wahh waahhh! Kau punya mainan yang bagus!” Leeteuk bangkit berdiri. Mulutnya masih menyunggingkan ssenyuman sambil merapikan secarik rambutnya yang jatuh ke kening.

Siwon menatap dingin Leeteuk, ia mengangkat sebelah tangannya. “Maju.” Siwon menjentikkan jarinya, membuat serigala itu menerjang maju kearah Leeteuk. Gonggongan yang memekakkan telinga beresonansi dengan udara. Semua jiwa-jiwa yang terperangkap didunia bawah tanah menutup telinga mereka. Beberapa yang terlambat menutup telinga didapati dengan telinga bercucuran darah walaupun sekejap utuh lagi. Leeteuk menganggkat kedua tangannya, menciptakan dinding pemissah, membuat anjing didepannya tertahan sebentar. Jasnya mulai menghangus terkena cipratan liur. Anjing itu mencakar-cakar dinding yang diciptakan Leeteuk, perlahan-lahan mulai retak.

“Demi tuhan, Siwon! Singkirkan anjing ini!” teriak Leeteuk sambil mencoba mempertahankan dinding buatannya. Siwon menjentikkan jarinya, seketika keadaan hening. Leeteuk merapikan kelepak jaasnya yang agak kusut. Ia mendapati noda dilengannya dan mengernyit tidak senang. “Kau harus mengganti jas ku yang bolong ini.” Kata Leeteuk yang membuat Siwon mendengus.

“Jadi tujuanmu ?”

“Yeah. Benar sekali. Susah bila harus berurusan denganmu.” Leeteuk menghembuskan napas pelan, masih menatap lengan jasnya yang bolong. “Kalau aku mengingat jaman dulu saat kita berlarian berkeliling bersama, sambil memancing, menggoda dewi dewi muda yang lewat…”

“Hentikan omong kosongmu.” Jawab Siwon singkat.

“Aku ingin menitipkan Sooyoung padamu.” Kata Leeteuk. Ia kembali duduk dikursi yang ditempatinya sambil mengisi tehnya ladi.

“Alasannya?”

“Seperti yang kita tahu, dewa-dewa itu seperti anak kecil.” Mulai Leeteuk sambil mendesah lelah, membuat Siwon mengangkat sebelah alisnya. “Sooyoung terkenal dengan kecantikannya yang bersinar. Banyak sekali dewa-dewa yang mau memperistrinya. Walaupun aku juga berminat padanya..” Siwon mulai mengangkat jarinya lagi. “Hei, aku hanya bercanda! Para dewa muda membuat sebuah permainan.” Lanjut Leeteuk sambil menggerutu betapa Siwon benar-benar dewa yang kurang humor.

“Permainan?” Siwon menyilangkan kedua kakinya dengan sikap rileks, mengabaikan gerutuan Leeteuk.

“Yap. Permainan. Barang siapa yang berhasil merebut hati, jiwa dan tubuh Sooyoung maka ia akan mendapatkan separuh bagian dunia bagian Utara.” Kata-kata Leeteuk membuat Siwon kaget. “Hei Siwon, kau tidak mau mendengar pendapatku tentang kepribadianmu yang patut diubah?”

“Maksudmu Sooyoung diajadikan ajang taruhan ? Mereka benar-benar gila.” Leeteuk mengedikkan bahunya ringan, menerima dengan mudah kalau Siwon tidak mau dikritik. “Karena itu kau membuat skenario agar Sooyoung terluka jatuh dari tebing, ditemukan olehku, lalu aku dengan terpaksa membawanya keduniaku. Benar begitu, kan?” suara Siwon terdengar tenang. Otaknya berputar-putar dengan kecepatan mencengangkan. Leeteuk hanya mengambil sekeping lagi kue kering, sambil mengunyah pelan. “Kau bermain-main dengan benag takdir.”

Leeteuk menggeleng pelan. “Aku hanya berusaha mengamankan Sooyoung.”

“Aku bisa mengadili dan membunuhmu karena ini.”

“Tapi kau tidak akan melakukannya.”

“Tidak. Aku tidak akan melakukannya.” Jawab Siwon dengan kejujuran yang mencengangkan. “Karena pada waktunya nanti takdir sendiri yang akan membalasmu.”

“Itu sudah cukup untuk saat ini.” Leeteuk tersenyum puas. “Jadi, aku menyerahkan gadis kecil itu padamu.”

Siwon menghembuskan napas. “Kenapa aku?” katanya dengan suara tidak peduli. Ia memejamkan matanya sejenak dan sekali lagi melihat Leeteuk yang memutar bola matanya seakan-akan pertanyaan yang diajukannya benar-benar konyol.

“Aku hanya punya dua saudara. Bila aku harus memilih saudaraku yang dikenal selalu menghamili perempuan manapun yang ditemuinya dalam lima menit dengan satu lagi saudaraku yang walaupun terkesan kurang pergaulan tapi dikenal sebagai seorang yang kaku dan dingin dengan sprei ranjangnya yang selalu rapi tanpa kusut saat dia bangun…” Leeteuk melirik cangkir tehnya, “Tentu saja aku memilihmu.” Lanjutnya dengan nada suara final. Siwon mengerutkan dahi mendengar pernyataan Leeteuk. “Uh oh, sudah waktunya janji makan siangku dengan dewi-dewi nakal diatas. Aku pergi dulu saudaraku.” Leeteuk memamerkan sekilas senyum polosnya dan menghilang. Meninggalkan cangkir, teko the, dan remah-remah roti yang tersebar di karpet ruang kerjanya.

“Dasar sial.” Umpat Siwon.

“Lalu apa rencanamu selanjutnya, hyung?” Kyuhyun angkat bicara. “Kau bisa berlatih merayu gadis itu, Hyung. Karena gadis itu gadis pertama yang bisa membuatmu..”

“Jaga bicaramu, Kyu. Setelah mendengar semua omong kosong tadi, aku tidak mau mendengar omong kosong lainnya.” Perintah Siwon sambil menghempaskan tubuhnya di kursi beledu disitu. “Dan bersihkan sisa sisa sampah ini.” Lanjutnya. Kyuhyun mengabaikan peringatan Siwon, ia duduk dilengan kursi yang diduduki Siwon.

“Tapi hyung, ini bisa jadi kesempatanmu..”

“Diam.”

“Untuk menguasai dunia bagian barat..”

“Diam, Kyu.”

“Hanya Tuhan yang tahu kau sudah lama ingin menguasainya.” Lanjut Kyuhyun keras kepala. Dan menyebabkannya terjerembab dengan keras di lantai. Dilehernya terpasang kalung rantai tebal yang membuat Kyuhyun meringis menahan sakit saat kalung rantai itu mengecil di lehernya, menyebabkan darah mengucur deras dari lehernya.

“Sudah kubilang hentikan ocehanmu. Kau masih tidak menganggapku sebagai majikanmu ya?” Siwon tersenyum dingin sambil menarik lagi rantai yang mengitari leher Kyu. Kyu berteriak, melolong. “Aku benar-benar kesal sekarang. Jadi simpan suaramu dan tutup pemikiranmu yang tidak berguna itu. Mengerti?!”

“Maa.. afkan aku.. hyung.. maaf..” Kyuhyun mendesiskan kata-kata itu dengan lirih. Siwon melambaikan tangannya membuat rantai yang melingkari leher Kyuhyun menghilang. Siwon berlutut, mengusap rambut Kyuhyun dengan lembut dan meraba jejak darah dileher Kyuhyun. Dengan segera luka di leher Kyuhyun menghilang, membuat Siwon mengerang kesakitan. Luka yang ia sembuhkan akan terasa seratus kali lebih sakit saat ia menyerapnya dari yang dialami Kyuhyun.

“Jangan membuatku kesal lagi, Kyuhyunku yang manis.” Desah Siwon sambil memeluk Kyuhyun yang masih meringkuk kesakitan. Kyuhyun menganggukkan kepalanya lemah sambil menangis pelan.

Sooyoung mengusap keningnya, mencoba mengingat apa yang terjadi. Otaknya seperti mempermainkannya, memutar ulang kejadian beberapa saat tapi. Dadanya terasa terhimpit, sesak, malu. Ia menenggelamkan wajahnya ke bantal bulu empuk, ia mengangkat kepalanya dan menenggelamkan wajahnnya lagi, memerintah perasaan dan debaran jantungnya untuk tenang. Berulang-ulang. Hingga Sooyoung menyerah, ia menghembuskan napasnya keras-keras. “Kau, dasar lelaki brengsek. Beraninya mencuri ciuman pertamaku.” Sooyoung menunjuk langit-langit kamar dengan jari telunjuknya, membayangkan objek yang ditunjuk ada di depan matanya. “Seharusnya bukan begitu ciuman pertamaku! Aku ingin dikelilingi bunga-bunga! Lembut dan…” Sooyoung menjatuhkan lengannya menutupi kedua matanya. Ia memejamkan matanya, dan mengingatnya lagi. Ciuman pertamanya. Tidak lembut, sama sekali tidak hangat. Kasar, panas. Ya Tuhan. Suara ketukan pintu membuat Sooyoung tersentak dari lamunannya. Dua orang perempuan berpakaian pelayan masuk perlahan melalui pintu membawa troli yang digantung bermacam-macam pakaian dengan berbagai macam model. Kedua gadis itu membungkuk rendah dan mulai membantu Sooyoung bangun dari ranjang. Tanpa kata-kata mereka mencoba melucuti gaun tidur Sooyoung yang memberontak dengan keefisienan menakjubkan. Akhirnya Sooyoung hanya mampu berdiri pasrah saat mereka mulai mengelap tubuhnya dengan wangi-wangian langka yang saat Sooyoung mencium lengannya membuat bulu kuduknya berdiri karena wanginya.

“Umm.. anu.. apakah…” Sooyoung mencoba memulai pembicaraan dengan gadis berambut merah yang sedang menyisir rambut panjangnya dengan sisir berhiaskan mutiara. Gadis itu menggelang-gelengkan kepalanya dengan tampang ketakutan seakan-akan memohon Sooyoung untuk bertanya agar ia bisa memilih tidak menjawab. Sooyoung langsung mengatupkan mulutnya sambil mengerutkan dahi. Kenapa dengan kedua gadis ini, pikirnya. Mereka seperti ketakutan akan sesuatu. Apa Siwon yang mereka takutkan?

“Apa Siwon..” Sentakan kedua gadis itu yang nyaris bersamaan saat ia menyebut nama Siwon membenarkan dugaannya. Mereka cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya mendandani Sooyoung dan pergi dari kamar dengan teburu-buru. Suara klik pelan terdengar dari pintu yang ditutup. Ia mengerjapkan mata dan menggerakkan leher mengamati sekelilingnya. Pikiran untuk menjelajahi tempat barunya terbesit di pikiran Sooyoung.

Sooyoung bergerak menuju pintu, mencoba memutar kenop pintu yang ternyata terbuka dengan mudah. Ia menyusuri lorong batu dengan karpet tebal yang menggelitik kedua kakinya yang telanjang. Kastil ini bersih, tapi suram. Yang bisa lihat disekelilingnya hanya warna abu-abu dan hitam. Dua warna. Parah sekali pemilik tempat ini. Dinding-dinding yang ia lewati seperti terdiri dari susunan batu-batu, hanya saja ia sama sekali tidak merasakan aliran angin yang seharusnya menelusup sela-sela bebatuan. Ia melewati beberapa macam belokan, mengikuti insting dengan semangat membara. Kadang bingung memutuskan belokan mana yang harus ia pilih, apa harus membuka beberapa pintu tebal yang menghiasi dinding. Tapi mengingat tempat dimana ia berada, Sooyoung mengurungkan niatnya untuk mengintip satu persatu pintu yang ia temui.

Ia masih berjalan, sambil berpikir bagaimana keadaan ommanya yang pasti sangat histeris dan akan memarahi bahkan memukul kedua sahabatnya karena membiarkannya memghilang. Sooyoung terkikik geli tapi juga khawatir. Ia senang ‘gadis baik’ seperti dirinya pada akhirnya melenceng dari jalan yang telah ditetapkan ommanya, tapi sekaligus khawatir, karena bila ommanya sedang marah besar maka tidak akan ada panen yang akan membuat manusia sengsara. Semoga omma masih punya akal sehat, pikirnya.

Kakinya yang mulai pegal karena berjalan jauh. Bahkan pikiran rumit yang sengaja ia pikir tidak mampu mengalihkan rasa lelah kakinya. Dan tanpa sadar kakinya membawanya ke sebuah taman. Bunga-bunga warna warni dengan berbagai macam bentuk kelopak dan daun, sulur-sulur yang merambati tanah tempat berbagai macam tumbuhan itu tumbuh. Sooyoung menahan napas, terkesima. Lebih indah dibanding semua taman yang pernah ia lihat. Lebih berwarna. Lebih hidup. Sooyoung menghirup udara dalam-dalam, meresapi campuran harum alami wangi-wangian bunga-bunga yang tersebar disekelilingnya. Ia berjalan, tidak mempedikan kakinya yang kotor menginjak tanah. Ia menemukan sebuah jalan setapak datar dengan hiasan baru kerlip mengarah menuju sebuah gazebo. Tiang – tiang gazebo itu berwarna putih, berkilauan terkena sinar matahari dengan bangku batu putihnya yang terlihat dingin dan sejuk. Sooyoung menghempaskan tubuhnya ke bangku nyaman di gazebo itu. Ia menyandarkan punggungnya dan menaikkan kedua kakinya menyerap kesejukan bangku itu. Sambil menghela napas puas ia mengulurkan tangan mungilnya menyentuh bunga berkelopak lebar berwarna ungun dengan corak-corak kuning. Wangi manis menguar dari bunga itu.

“Kalau aku jadi kau, aku tidak akan mau menghirup wangi bunga itu.” Suara bariton menyadarkan Sooyoung dan menyentaknya. Siwon, ah bukan, lelaki brengsek yang berani-beraninya mencuri ciuman pertamanya tanpa permisi tampak berdiri dengan setelan jasnya yang pas badan, tampak nyaman dibawah tatapan tajam menuduh yang diarahkan Sooyoung.

“Mengapa ?” Sooyoung memaksakan diri bertanya. Tatapannya masih memaku Siwon yang sekarang sudah duduk di bangku didepannya. Sooyoung menahan keinginan untuk menurunkan kedua kakinya yang bertumpu dibangku yang diduduki Siwon.

“Bunga itu hadiah dari kakak keduaku. Bunga yang cantik kan? Tapi mematikan.” Siwon tersenyum menatap Sooyoung yang menatapnya tidak percaya. Ia mengulurkan tangannya dan memetik sekuntum bunga yang menjadi objek pembicaraan mereka. “Bunga ini akan merayumu, menarikmu dalam pesona wewangiannya. Ia akan membujukmu untuk terus menghirupnya. Dan tidak akan lama hingga kau akan menemukanmu berada dibalik penjara dengan otakmu menuntut bunga ini. Keinginan untuk terus, terus dan terus menghirupnya. Tenggelam dalam dunia yang kau buat, dimana tidak ada kesedihan, kesengsaraan. Kosong.” Siwon memutar-mutar bunga itu ditangannya, lalu menyodorkan bunga yang ia petik kepada Sooyoung, “Jadi, kau masih mau menghirupnya ?” tanyanya dengan senyum manis. Sooyoung bergidik.

“Jauhkan bunga itu dariku.” Jawab Sooyoung, membuat Siwon tertawa halus.

“Kau benar-benar pengecut.” Ujar Siwon dengan nada terhibur. Ia terkekeh geli melihat Sooyoung yang dengan ahlinya memutar bola mata.

“Bukan urusanmu, Yang Mulia.” Jawab Sooyoung. Tiba-tiba ia ingat tujuan awalnya untuk marah karena telah membawanya ke tempat asing dan menciumnya tiba-tiba. “Kau..!” Suaranya terputus melihat Siwon yang menatap kakinya. Kakinya yang lecet-lecet karena berjalan menerjang taman tanpa alas kaki. Ia bisa melihat alis Siwon yang mengeryit. “Ini bukan apa-apa.” Sooyoung menggerakkan kakinya untuk menurunkan kakinya. Sepasang tangan menahan gerakannya. Siwon mengelus-elus lecet di kakinya, lalu secara tiba-tiba lecet itu menghilang. Rasa sakitnya juga menghilang.

“Sudah tidak sakit, kan?” Tanya Siwon sambil tersenyum lembut. Sooyoung menggelengkan kepalanya pelan. Ia masih merasakan jari tangan Siwon membelai kakinya yang sekarang sudah mulus seperti sedia kala. “Kalau kau ingin berkeliling tempat ini, ayo akan kutemani berkeliling.” Siwon memunculkan sepasang sandal cantik didepan Sooyoung.

“Terima kasih.” Kata Sooyoung pelan. Diam-diam memperingatkan hatinya kalau Siwon adalah orang jahat dan bukan orang yang tepat untuk dijadikan cinta pertama. Siwon menegakkan tubuhnya lalu mengulurkan tangannya. Sooyoung ragu. Dan memutuskan untuk mengabaikan uluran tangan Siwon. Siwon tertawa dengan keras hingga Sooyoung mengira kalau sebenarnya Siwon, penguasa bawah tanah ini sebenarnya orang yang sinting.

“Kau kira duniaku sebegitu sempitnya ya, hei gadis nakalku? Aku akan membawamu ke pemberhentian pertama kita.” Siwon menangkap pergelangan tangan Sooyoung dengan cepat dan mereka langsung berpindah tempat. Sekeliling mereka sunyi, beragam jenis tipe manusia berbaris di barisan mereka sendiri. Berbagai macam golongan, berbagai macam barisan, berbagai macam ekspresi wajah, berbagai macam jenis pakaian, semuanya penuh sesak tapi teratur. Sama sekali tidak ada yang bersuara. Semua manusia-manusia disini seperti menunggu sesuatu. Sooyoung memperhatikan dengan seksama keadaan yang terjadi.

“Apa yang mereka tunggu?” tanya Sooyoung dengan suara pelan kepada Siwon yang masih menggenggam tangannya. Siwon mendekatkan wajahnya di telinga Sooyoung membuat Sooyoung membisikkan kata-kata simpatik kepada jantungnya yang mulai berdebar.

“Mereka… akan pergi ketempat pengadilan mereka. Dengan kapal.” Kata Siwon

“Kapal? Aku tidak tahu ada yang seperti itu. Kukira mereka langsung dijebloskan begitu saja kalau jahat saat mereka hidup.” Jawab Sooyoung.

“Ah, bahkan manusia jahat pun pasti pernah melakukan perbuatan baik, sayang. Ditempat tujuan mereka berikutnya, jahat baiknya mereka akan ditimbang. Bahkan manusia yang membunuh manusia lain pernah diselamatkan dari jurang api karena dia menyelamatkan seekor kelinci yang terkena jebakan pemburu.” Siwon menjawab sambil mengelus pergelangan tangan Sooyoung. Sooyoung tampak tak menyadarinya. Ia masih memperhatikan barisan manusia yang maju satu demi satu secara perlahan dengan kemuraman kedalam sebuah kapal besar.

“Mereka terlihat… muram.” Ujar Sooyoung tanpa sadar. Siwon tersenyum tipis.

“Tentu saja. Mereka akan dihadapkan pada semua perbuatan mereka saat masih hidup. Kenangan indah, kenangan buruk. Semuanya akan tumpah kembali pada mereka. Manusia memiliki hati yang lemah. Mereka cenderung melupakan kenangan buruk dan mengingat kenangan indah.” Sooyoung mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kita pindah.”

Pemandangan didepan Sooyoung digantikan lagi dengan pemandangan lain.  Mereka berada di seberang sungai yang barusan mereka datangi. Seorang lelaki ramping tampak berjalan mendatangi mereka dengan mata bersinar dan senyum nakal. Sepertinya lelaki ini normal, pikir Sooyoung. Lelaki itu membungkuk pelan dan mencium sekilas punggung tangan Sooyoung. Siwon mengeryitkan dahi melihat tingkah laku Kyuhyun yang hanya dibalas Kyuhyun dengan tatapan balas dendam.

“Aku tidak mengira dibalik wajah penuh debu anda tersimpan kecantikan yang mengguncang dunia. Perkenalkan, namaku Kyuhyun.” Kyuhyun melancarkan senyum manisnya, membuat wajah Sooyoung memerah.

“Aaku…Sooyoung.” Jawab Sooyoung, ia menolehkan kepalanya sedikit kearah Siwon yang melihat menerawang kearah lain.

“Ah, aku tahu pikiranmu. Dia benar-benar orang yang sulit ya.” Kata Kyuhyun dengan nada bersekongkol. Sooyoung tersenyum lebar dan mengangguk bersemangat.

“Kau tidak takut padanya?” Tanya Sooyoung pelan. Melirik sekilas kearah Siwon yang pura-pura sedang sibuk memperhatikan kapal dari seberang sungai yang semakin mendekat. Kyuhyun menelengkan kepalanya.

“Kenapa aku harus takut padanya?” Tanya Kyuhyun. Sooyoung meringis.

“Yah, dua orang gadis yang ketakutan saat aku menyebut namanya saja sudah cukup membuktikan kalau dia itu kejam.” Ujar Sooyoung. Kyuhyun tertawa pelan, jarinya memutar-mutar pena ditangannya.

“Dia kejam, tapi adil. Dia kejam, tapi penyayang. Kau tahu apa maksudku?” jawab Kyuhyun. Sooyoung mengerutkan dahi.

“Aku tidak tahu kata yang bertolak belakang bisa digabung dalam satu kalimat.” Gumam Sooyoung.

“Dan ternyata bisa, kan?” Kyuhyun mengedipkan sebelah matanya dan berjalan menuju Siwon. “Hyung sebaiknya kau bawa nona Sooyoung ke tempat lain. Sebentar lagi aku harus mendata penumpang yang turun dari kapal itu.” Siwon mengangguk.

“Jadi, apa tugasmu?” tanya Sooyoung bersemangat sebelum memelototkan matanya karena Siwon sudah menarik tangannya.

“Waktunya pemberhentian selanjutnya, sayang.” Kata Siwon sambil bersenandung kecil, menghilang meninggalkan Kyuhyun sendirian. Kyuhyun masih bisa mendengar dengusan Sooyoung dan ia tersenyum. Firasatnya gadis itu akan mampu melelehkan baja di hati hyungnya. Kyuhyun tersenyum memikirkan betapa menyenangkannya bila hal itu terjadi.

“Leeteuk!! Aku memanggilmu kesini sekarang juga!!” Suara seorang perempuan dengan wajah cantik khas setengah baya menggelegar di tengah langit biru yang luas. Sesaat hanya terdengar desiran angin, cicitan burung dan kepakan dauh-daun jatuh, lalu petir mulai menyambar tanah didekat perempuan itu, memunculkan sesosok namja tampan dengan wajahnya yang selalu tersentum.

“Halo Hyoyon. Kau tampak err perkasa seperti biasanya.” Leeteuk meringis melihat salamnya dibalas dengan hempasan kaki yang membuat cicitan burung berhenti. Hyoyon tampak kacau. Matanya yang seindah danau berdasar dalam tampak kemerahan, tanda ia telah lama menangis. Matanya juga berkantung. Leeteuk juga baru mendengar baru-baru ini negara beriklim tropis mengalami hujan salju. Terkutuklah Hyoyon karena melampiaskan kesedihannya dengan mengutuk balik manusia.

“Kau! Kau dewa brengsek! Kau kemanakan Sooyoungku yang malang? Kemana dia? Kemana?” Hyoyon menunjuk Leeteuk yang masih menatapnya tanpa ekspresi. “Dan aku tidak akan menerima jawaban penuh teka-tekimu! Kesabaranku kali ini sudah habis! Aku ingin gadisku yang malang!” Hyoyon mengucurkan air matanya, membuat tetes demi tetes air hujan jatuh dari langit.

Leeteuk tetap diam. Menimbang pilihan-pilihan yang akan ia ambil. Dan ia memutuskan. Tidak ada salahnya membuat manusia-manusia sedikit menderita. “Aku tidak tahu dimana gadis kecil itu, Hyoyon. Dan kalau boleh kusarankan, tenangkan dirimu. Tangisanmu yang berkelanjutan bisa menyebabkan banjir, kau tahu.” Ujar Leeteuk sambil mengedikkan bahunya. Hyoyon menangis meraung-raung.

“Kau tidak tahu… rasanya kehilangan sesuatu yang kau cintai.. Sooyoungku…” Hyoyon terjatuh berlutut. Air matanya terus mengalir, hujan pun turun semakin deras. Leeteuk menghembuskan napas menderita. Ia menangkupkan tangannya ke wajah Hyoyon yang sembab dan mengucurkan air mata.

“Apa kau bisa tenang untuk sementara? Aku berjanji akan menemukan Sooyoung untukmu.” Leeteuk mengucapkannya dengan kata-kata menenangkan. Ia membilas kucuran air mata di pipi Hyoyon. Hyoyon merengut jas Leeteuk yang basah kuyup.

“Benarkan? Kau mau menemukan gadis malang itu untukku?” Tanya Hyoyon, ia mengehentikan tangisannya. Hujan perlahan-lahan reda, hanya menimbulkan tetes-tetes air sisa hujan. Leeteuk mengangguk.

“Aku akan membawanya kembali padamu, Hyoyon.” Jawab Leeteuk sambil mengusap pelan butir-butir air mata yang bercampur dengan hujan di pipi Hyoyon. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat. Bersabarlah Hyo…, pikir Leeteuk sambil tersenyum pahit.

~TO BE CONTINUED~

Maaf kalau ada salah kata, kalimat,atau typho, atau tidak ada adegan ciumannya #halah-hahhaa

tapi aku janji part selanjutnya pasti ada kok ciumannya #ketawa nyaring.

oke oke.. jangan lupa komentar ya.. *wink :P

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s