IT HAD TO BE PART 4


“For thousands of nights I dreamed of making love to you. No man on earth has ever hated sunrise as I do.”

― Lisa KleypasAgain the Magic

Aku harus tidur. Tidur. Tidur. Autumn sekali lagi melihat kearah jam weker diatas meja. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Autumn masih gelisah. Ia memejamkan mata. Tidur. Tidur. Tidur.

Desember 1877

Autumn  merasakan kasur empuk kingsize dan benarlah ia terbangun lagi di tempat tidur Drill. Matanya menjelajah dikegelapan hingga ia dapat melihat punggung kekar Drill yang sedang duduk disofa, menghadap perapian.

“Drill ?” Autumn berkata dengan lirih. Drill langsung membalikkan kepala dengan tiba-tiba. Ia tersentak lalu tersenyum lirih.

“Mengapa ya, mimpi kau selalu muncul dan menghilang tiba-tiba ?” jawab Drill. Ia menyodorkan tangannya, secara tidak langsung memerintah Autumn untuk menghampirinya. Autumn ragu-ragu, ia menjejakkan kakinya di karpet bulu yang entah kenapa rasa berdesirnya terasa nyata dikakinya. Autumn berhenti sejengkal dari uluran tangan Drill. Bertekad mempertahankan dirinya untuk tidak jatuh kedalam rayuannya.

“Siapa kau ?” tanya Autumn. Drill menatapnya lekat. “Mengapa aku bisa berada disini ?” tanyanya lagi. Drill mengalihkan pandangannya kearah bara api sesaat lalu kembali menatap Autumn.

“Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau ? kenapa kau bisa ada di ranjangku setiap malam? “ tanya Drill. Matanya menyiratkan sorot jahil. Autumn mengernyit.

“Namaku Autumn. Aku juga tidak tahu alasan aku bisa sampai disini. Kau tahu ?” tanya Autumn dengan nada berharap. Drill menggeleng. Ia tidak menjatuhkan uluran tangannya seakan memaksa Autumn untuk menerimanya. Sekali lagi Autumn tergoda untuk terdampar di kehangatan Drill. Drill melihat keraguan Autumn, ia lalu beranjak sedikit dari tempat ia duduk dari sofanya dan menarik Autumn, mengabaikan pekikannya membuatnya mendarat dipangkuannya. Drill menyelubungi kecilnya tubuh Autumn dengan lengannya. Autumn terasa nyaman, dan nyata.

“Drill ?” Autumn mendongakkan kepalanya keatas, ingin melihat Drill dan memastikan nyata.

“Yang kutahu di malam aku merindukanmu, kau selalu ada disisku.” Ujar Drill mengelus rambut panjang Autumn, terpana dengan kehalusannya, ia lalu menopangkan dagunya di puncak kepala Autumn. Autumn terdiam. Ia menatap bara api, mendekatkan dirinya lebih dekat di pelukan Drill, ingin menyerap esensi dari Drill.

“Seandainya kau nyata… “ kata Drill lirih. Ia menelusurkan hidungnya ke cekungan antara leher dan telinga Autumn.

“Aku nyata.” tukas Autumn. Ia membalikkan kepalanya. “Sama seperti perasaanmu, aku juga ingin kau nyata.” tambahnya. Autumn memperhatikan emosi di mata abu-abu Drill. Ia mencondongkan kepalanya, melekatkan bibirnya dengan hati-hati. Hanya sebentar, lalu Autumn menarik kepalanya, mencoba melihat reaksi Drill dan terpana. Drill menatapnya dengan mata lapar, selapar serigala. Senang bisa mempunyai kekuasaan atas diri Drill, Autumn mengelus pelan bekas luka baru dipipi Drill. Ia mengusap tangannya menelusuri bahu Drill dan berhenti di lengan Drill. Drill mengernyit kesakitan.

“Mengapa kau terluka?” tanya Autumn, mengeryitkan dahinya. Autumn berkutat melepaskan kemeja yang dipakai Drill, menampakan sembulan otot-otot yang sudah ia kenal baik, lalu matanya mengarah pada lengan Drill yang dibalut perban baru. “Mengapa kau terluka Drill?” tanya Autumn panik. Ia mencari-cari jawaban di mata Drill. Drill menolak menatap mata Autumn, ia menggenggam tangan Autumn yang mengelus pipinya lalu membawanya ke bibirnya, menciumnya pelan, membuat Autumn sedikit gemetar. Drill tersenyum lambat.

“Ini bukan apa-apa lass. Jangan khawatir.” Drill membalikkan tubuh Autumn kedepan dan memeluknya dari belakang. “Ada hal yang sebaiknya tetap disimpan rapat-rapat.” Jawab Drill lirih. “Lagipula dengan memelukmu saja, aku sudah merasa jauh lebih baik.” Tambah Drill dengan nada nakal. “Aku… bukan orang suci Autumn.”

“Aku tahu siapa kau, Drill. Yah sedikit.” Kata Autumn. Autumn merasa Drill cemberut, membuatnya sedikit tersenyum. Ia menoleh pada Drill. Sorot mata Drill yang menatap ke api menampakkan rasa terluka yang dalam. Kepedihan, kesedihan. Autumn mencelos. Ia ingin berada disisi Drill. Memeluknya, menciumnya. Perasaan yang aneh karena mereka baru bertemu beberapa kali. Autumn merasa ia sudah mengenal Drill. Ia mengelus lengan Drill dengan pipinya.

“Aku ingin tetap disini. Boleh ?” bisik Autumn ragu-ragu. Ia merasakan tubuh Drill yang langsung menegang. Drill mengelus rahang Autumn lalu membuatnya menoleh kepadanya. Mereka bertatapan.

“Aku menginginkanmu Autumn. Tidak peduli bahwa aku bahkan baru mengetahui namamu lima belas menit yang lalu. Walaupun aku tahu kalau aku tidak pantas untuk memilikimu. Tapi kenapa? Kenapa seluruh tubuhku menjerit bila aku melihatmu? Aku tidak sabar menanti malam tiba. Aku selalu mengumpat bila pagi tiba, karena itu artinya kau akan menghilang. Terus khawatir dan bertanya-tanya apa aku akan bertemu denganmu lagi.” Drill mengelus pipi Autumn dengan lembut. “Aku bahkan menunggumu. Menunggu apakah kau akan kembali. Kau selalu menghilang. Seperti diperpustakaan saat itu. Aku benci melihatmu menangis. Aku benci melihatmu sedih. Bahkan aku ingin membunuh seseorang yang membuatmu sedih saat itu.” tambah Drill. Autumn hampir menangis. Selama hidupnya, ia tidak pernah mengenal seseorang yang pernah menganggapnya istimewa. Tidak pernah merasakan ikatan. Hanya Drill. Satu-satunya. Ia berjuang menahan tangisannya, berjuang membendung kegembiraannya yang meluap.

“Aku akan berada disini Drill. Bahkan bila kita terbangun nanti, aku akan berada disisimu.” Autumn memeluk leher Drill. Ia butuh merasakan Drill. Keduanya seakan menyerap kedekatan mereka, menikmati sensasi kehangatan nyala api. Kenyamanan dimana ada seseorang yang memeluk. Tidak bercinta, hanya memeluk. Kenyamanan dan kepastian bahwa ada seseorang yang berada disisimu.

Yang Autumn tahu, apartemennya tidak pernah terdengar suara burung berkicau saat pagi, dan tentu saja tidak sedingin sekarang. Autumn mengerang, merasa kedinginan. Ia menyelusupkan tubuhnya kekehangatan sebelahnya. Hangat, keras. Seingatnya ia belum sempat membeli guling, pikir Autumn dengan mata tertutup. Ia  mengeluskan telapak tangannya. Terdengar suara mengerang. Suara lelaki. Autumn perlahan membuka matanya, takut menerima kenyataan yang berusaha ditolak dan dimustahilkan oleh pikiran jernihnya. Autumn menahan badannya dengan sikunya, dan melihat kesamping dengan mata melotot sambil berusaha mencubit dan mengusap-usap kedua matanya. Sosok tubuh lelaki dengan punggung berotot dan berlekuk, tidur dengan posisi menelungkup, rambut hitamnya yang agak panjang menyebar dengan kekontrasan pada putihnya bantal. Autumn melihat sekeliling. Ini bukan kamarnya. Ini kamar yang selalu ada dimimpinya saat ia bertemu Drill. Ia melihat kondisinya yang telanjang, lalu secepat kilat membelitkan selimut dan mengempitnya. Autumn melihat Drill sekali lagi, kesempatan yang sangat langka karena ia selalu melihatnya dimalam hari. Autumn mempelajari profil punggungnya yang tajam dan berotot, ia menggulirkan ujung jarinya menelusuri lekukan lengan Drill, secarik perban yang melingkari lengan Drill. Lekukan jarinya berhenti di ujung pinggang Drill hampir menyentuh selimut yang berada diperbatasan antara pinggul dan punggungnya. Jari Autumn berhenti. Ragu-ragu.

“Tidak dilanjutkan ?” suara bariton mengejutkan Autumn. Ia langsung menarik kembali jari nakalnya dan berkonsentrasi menyelimuti tubuh telanjangnya dengan selimut. Drill tersenyum geli, menonton kepanikan Autumn dengan ketertarikan yang besar. Matanya berkilat-kilat. Jadi begini keadaan Autumn setelah bangun pagi. Ikal-ikal rambut yang berantakan, pipi yang merona, kulit seputih susu, bibir yang bengkak karena semalam. Hasrat Drill kembali lagi, ia ingin memeluknya, melumat dan menciumnya, mencicipi apakah rasanya manis atau…

“Ah Drill, kau tahu, aku sudah mendapat… “ Hawksword  tiba-tiba masuk dan berhenti berbicara. Ia menampakkan ekspresi terkejut saat melihat pemandangan didepannya. Seorang gadis diranjang Drill. Demi Tuhan. Ini keajaiban. “Ah maaf. Aku mengganggu. Permisi.” Hawksword langsung berbalik dan menutup pelan pintu. Dibalik pintu, Hawksword hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Autumn melongo, kaget dengan pria pirang yang tiba-tiba masuk. Ia kaku. Dan malu. Wajah dan lehernya mulai merona merah. Ia masih melihat kearah pintu, bertanya-tanya kapan mimpi ini akan segera berakhir. Autumn merasa wajahnya ditarik lalu dicium pelan-pelan, sentuhan ringan bibir Drill membuatnya melemas, dan rilex.

“Selamat pagi.” Jawab Drill masih dengan senyum nakalnya. Mata Autumn masih berkabut karena ciumannya  barusan, membuatnya geli. Autumn mengelus rahang Drill yang kasar karena jenggot yang baru tumbuh, lalu menarik kepala Drill lagi.

Autumn gugup. Dan tersiksa. Menyumpah pembuat korset karena telah membuat baju besi yang bisa membuat paru-paru wanita mengerut dalam sehari. Sesak. Pantas saja pemakai korset sering pingsan, pikirnya. Autumn mencoba menarik-narik korsetnya untuk melonggarkan sedikit, hanya saja pelayan dibelakangnya kembali mengeratkan tali korset dipunggung Autumn, membuatnya kembali sesak napas dan menelan udara kembali.

“Jangan melonggarkan korsetnya, Miss. Pinggang anda akan tampak ramping bila memakai korset ini. Akan lebih bagus lagi bila saya mengeratkannya sedikit lagi. Sudah cukup saya rasa.” Pelayan itu, Maggie, menyimpulkan tali korset Autumn. Autumn melihat tampilannya dicermin. Payudaranya seperti terdorong keatas karena ditahan oleh korset dan pinggangnya berkurang 2-3 senti. Ia meringis, melirik singkat Maggie yang sedang mempersiapkan gaun yang akan dipakai.

“Saya lah yang memilih dan mengangin-anginkan gaun ini miss, gaun ini sudah lama tersimpan diloteng. Sudah lama sekali tidak ada wanita yang singgah di rumah ini miss. Lord Drill itu… sedikit tidak antusias pada wanita.” Maggie berceloteh sambil memamerkan gaun itu, membawanya kedepan Autumn.

“Tidak antusias ?” Yang ia tahu, Drill memiliki gairah yang bisa dibilang berlebih, sudah terbukti Drill memperbolehkannya mandi setelah dua jam.

“Well, bukan maksud saya menjelek-jelekkan tuan Drill, Miss. Hanya saja Tuan sama sekali tidak pernah membawa wanita kerumah ini. Saya juga ragu ia pernah melangkahkan kakinya ke tempat pemuasan diluar. Hingga beredar gosip bahwa Tuan adalah seorang pertapa, tapi saya lega setelah kemunculan anda, Miss.” Jawab Maggie bersemangat. Ia mulai membantu Autumn memasukkan lengannya kedalam gaun. Cukup sulit untuk Autumn berpakaian gaun pas badan seperti ini. Ia yang biasanya memakai kemeja dan blouse ketat saja masih menyediakan ruang bernapas yang cukup luang. Gaun ini, adalah siksaan, putus Autumn. Autumn berbalik, menghadap kearah cermin. Dan terperangah. Gaun ini dipadukan dengan tataan rambut yang ditata Maggie dengan terampil menonjolkan lehernya yang ramping, dengan tulang selangkanya yang indah. Astaga, bahkan payudaranya kelihatan menggiurkan.

“Anda sudah siap, Miss.” Maggie melihat pantulan Autumn dicermin dengan rasa bangga.

Drill melangkah memasuki ruang kerjanya. Ia melihat Hawksword sedang duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya sambil membaca surat kabar pagi. Begitu melihat Drill, Hawksword langsung nyengir lebar. Kehadiran satu wanita benar-benar mempengaruhi Drill secara keseluruhan, pikir Hawk. Cara jalan Drill, auranya, ekspresi dan moodnya berubah. Berbeda dari hari-hari biasa.

Drill mengalihkan pandangannya dari Hawk. Ia beranjak duduk di sofa sebelah Hawk dan menuang secangkir kopi.

“Well, aku sungguh-sungguh tidak menyangkanya. Dan kaget.” Hawk menggelengkan kepalanya dengan dramatis. Ia menatap Drill dengan geli. Drill bersandar di mejanya, tersenyum dan geli saat teringat wajah pucat Autumn saat temannya mendapatinya di ranjang. Hawk sejenak tertegun karena Drill bisa tersenyum lembut seperti itu.

“Aku juga tidak menyangka akan seperti ini, Hawk. Perempuan itu adalah keajaiban.” Jawab Drill. Ia menelusurkan jarinya menatap cangkir yang di pegangnya. “Dan kalau boleh tahu, ada apa pagi-pagi hingga menerobos kamarku?” Drill meletakkan cangkirnya dengan pandangan serius.

“Ah ya, seperti yang ingin kusampaikan tadi pagi, ternyata seseorang yang berhasil menembakmu kemarin itu adalah suruhan dari Mr Pold. Walaupun aku belum menemukan nama aslinya, tapi Mr Pold ini adalah orang yang dikenal sebagai otak perancang penculikan para gadis dan lelaki muda untuk dijual dan disalurkan kepada cabang rumah bordilnya. Kelihatannya ia berhasil mengetahui identitasmu sebagai pembunuh ikan-ikan terinya, Drill.” Jawab Hawksword. Wajah Drill mengeras.

“Bila ia sampai mengetahui identitasku, berarti ada informan kita yang tidak berhasil menjaga mulutnya.” Ujar Drill ringan. Matanya menatap dengan dingin. Hawk mengangguk.

“Iya. Aku juga berpikiran sama seperti itu. Karena itu anak buahku sudah mulai melacak asal muasal darimana informasi tentang identitasmu berasal.” Jawab Hawk. “Lalu ..” ucapan Hawk terputus saat terdengar ketukan di pintu. Autumn masuk dengan langkah kaku karena gaunnya yang terlalu berat diiringi senyum cerah. Drill beranjak berdiri, terpana sejenak dengan kecantikan Autumn, lalu bergegas maju mendekatinya. Drill melingkupkan kedua tangannya ke dan mencium pelan tangan Autumn. Dengan sengaja membuat wajah Autumn merah lalu mencuri satu ciuman lama yang melibatkan kehabisan napas hingga Hawksword berdehem pelan.

“Maaf dengan ketidaksopanan saya tadi pagi, Miss. Perkenalkan nama saya adalah Hawksword.” Hawk membungkuk dengan sopan, dan perlahan mencium udara dipunggung tangan Autumn. Hawk baru melepaskan tangan Autumn setelah Drill melotot garang pada Hawk yang hanya membalas dengan senyum mengejek. Autumn tersenyum.

“Namaku Autumn. Senang sekali bertemu dengan anda Mr Hawksword.” Jawab Autumn. Ia melirik kearah Drill yang tersenyum bangga padanya. Autumn mengalihkan pandangannya lagi kearah Hawksword.

“Kalau boleh saya bertanya, bagaimana anda menaklukkan si pendeta keras kepala yang duduk disebelah anda ?” Tanya Hawk tanpa basa-basi. Autumn terkejut lalu tertawa lirih. Drill menatap Hawk dengan tatapan jangan-berani-ikut-campur.

“Tolong, jangan terpengaruh tatapan dingin Drill, Sir. Ia sebenarnya lembut bagaikan kucing.” Jawab Autumn jenaka, membuat Hawk tertawa. Belum pernah sekalipun ia bertemu orang yang mengatakan bila Drill itu lembut. Kecuali satu ini. Perempuan ini mampu membuka hati Drill. Sekarang saja Autumn sedang memutar-mutar jari Drill, mengelus, dan mencocokkan dengan jarinya. Benar-benar unik, pikir Hawk.

“Saya sebagai temannya memang sudah menyangkanya seperti itu, Miss. Jadi dulu Drill itu.”

“Hawk. Bukankah sudah waktunya kau pulang ?” Drill memotong percakapan Hawk sambil melontarkan isyarat jangan-ganggu-aku-hari-ini. Hawk nyengir.

“Baiklah Drill, Miss, saya permisi dulu. Ah Miss, saat kita bertemu lagi akan kuceritakan semua masa lalu Drill dari yang menyenangkan hingga yang memalukan.” Kata Hawk sambil berjalan kearan pintu. Senyuman tidak pernah lepas dari wajahnya.

“Anda berjanji, sir!” Ujar Autumn ceria, menghadirkan kerutan di dahi Drill. Autumn melirik kesamping, “Dan kau, sir, dilarang berkerut!” Autumn menyentuhkan ujung jarinya di kerutan didahi Drill.

“Hemm, kau kira kau siapa woman ?” Drill menelusupkan wajahnya keleher Autumn, ia ingin menghirup wangi siang Autumn. Autumn menyelipkan jari-jarinya ke rambut Drill yang hitam berkilau.

“Apa kau tidak mau membawaku berjalan-jalan, Drill ?” tanya Autumn lirih. Ciuman Drill dilehernya membuatnya lemah. “Karena aku sudah ada di sini, bukankah sebaiknya kau membawaku melihat-lihat sekitar ?” Drill mengangkat wajahnya, bola mata Drill sudah lebih gelap dari sebelumnya pertanda berputar-putar gairah.

“Aku punya beberapa tempat tujuan, lass.” Drill menelusurkan jari telunjuknya di telinga Autumn, terlihat bekas gigitannya semalam. “Kita bisa pergi berjalan-jalan ketaman yang penuh dengan bunga-bunga musim semi.” Drill mencium sekilas pipi Autumn. “Atau kita bisa tinggal di kamar, menikmati bunga satu sama lain.” Bisik Drill sambil menelusuri bekas gigitannya semalam.

“Tentu saja aku memilih berjalan-jalan, Drill. Taktikmu tidak akan berhasil mengelabuiku.” Jawab Autumn lirih. Ia mengelus rahang Drill dan menatap matanya, “Please.”

Mereka berjalan menyusuri padang rumput yang rimbun. Langit begitu biru dengan anginnya yang ramah membuatnya menelengkan kepalanya. Ia merasakan angin yang membelai pipinya.

Klik.

Autumn merasa tatanan rambutnya sedikit longgar. Ia melihat kearah Drill yang hanya tersenyum jahil. “Drill…”

Klik. Klik.

Lebih banyak jepit rambutnya yang lepas membuat sebagian rambut panjangnya melayang. Drill tetap berkutat melepas jepit rambut Autumn, mengacuhkan protes lemah Autumn.

“Aku tidak tahu komentar Maggie saat melihat maha karyanya hilang kurang dalam sehari.” Kata Autumn lirih, menyayangkan tatanan rambut satu jam nya.  Drill mengangkat bahu.

“Kau bisa menatanya lagi nanti.” Drill lalu menggandeng lengan Autumn dan mengajaknya kearah sungai dimana ia biasa memancing ikan trout. “Disinilah aku biasanya memancing saat kecil. Dengan Hawk.” Kata Drill. Ia sudah melepas cravatnya, menjadikan cravatnya sebagai tali pengikat rambut Autumn. Drill bergegas melepas sepatu bot dan nya dan merendam kakinya kedalam air sungai.

“Kau teman sejak kecil dengan Hawk ?” Tanya Autumn, sambil merendam kakinya disebelah kaki Drill. Aliran air sungai menyeruak diantara jari-jari kakinya, membuatnya kegelian. Drill mengangguk.

“Kami dulu tidak akrab. Kalaupun kami bersama memancing itu hanya karena kontes yang diadakan orang tua kami. Dulu kami sering berkelahi.” Ujar Drill, pandangannya menerawang, dan ia tersenyum. “Kau tahu, aku sebenarnya orang yang sulit.” Kata Drill. Autumn tersenyum.

“Aku sudah mengetahuinya. Sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Aku ini selalu tepat dalam menilai karakter orang. Well, hanya satu yang salah.”

“Mantan tunanganmu ? Lelaki yang sudah membuatmu menangis ?” Suara Drill dingin dan keras. Autumn menggeleng.

“Sudah tidak apa-apa Drill. Aku sudah mendapat penggantinya yang jauh melebihinya.” Drill menolehkan pandangannya, matanya bertemu dengan mata Autumn. Drill tertawa kecil.

“Kau ini perempuan aneh.” Kata Drill sambil menyatukan bibirnya. Rasa manis meledak dalam setiap gerakan. Ia menggigit pelan, meluncurkan lidahnya, membuat Autumn mengeluarkan desahan lirih. Drill memeluknya, lalu menggendongnya menjauh dari sungai.

“Drill ? Ada apa ?” Autumn mencengkram lengan Drill. Ekspresi Drill tegang seperti ada sesuatu atau seseorang. Pasti orang yang melukai lengan Drill.

“Psst. Diam.” Ujar Drill lirih.

======

To be Continued.

Advertisements

6 Comments

  1. HALLO nama saya Adaya … saya pembaca setia di WP ini , mau coba comment nihhhh !!

    Gini kak yahhhhh , aku sejujurnya suka sekali dengan ide Time Slip ini , but aku masih masih masih bertanya tanya kenapa Drill yang awal chapter itu cool dan kesanya The One Man Standing jadi Bitchy dannnnn malah di chapter ini dia jadi kayak Sule? Hahahhahaha maksutku pelawak kak , aku kurang suka dialog Drill dan Autumn waktu di depan perapian ” Aku tak tahu kenapa kau selalu ada , kau selalu muncul saat aku merindukanmu …… “, apa ya kesan machonya ilang , he is a bad boys but hemmm hemmm cara bertanya tanyanya kurang keren kakak , nanti kita bicarakan lagi lewat FB enaknya gimana . Untuk ukuran pembunuh bayaran si Drill ini dengan dialog “Aku menginginkanmu Autumn. Tidak peduli bahwa aku bahkan baru mengetahui namamu lima belas menit yang lalu. Walaupun aku tahu kalau aku tidak pantas untuk memilikimu. Tapi kenapa? Kenapa seluruh tubuhku menjerit bila aku melihatmu? Aku tidak sabar menanti malam tiba. Aku selalu mengumpat bila pagi tiba, karena itu artinya kau akan menghilang. Terus khawatir dan bertanya-tanya apa aku akan bertemu denganmu lagi.” ini terlalu mellow dan cengeng , jujur di HR aku tak suka Hero yang tiba tiba jadi marshaloowwwww , kalo sikap boleh , kalo dialog NO !!! , itu kelemahan HR yang menurutku paling besar , itulah kenapa aku lebih suka gaya konteporer yang gak romance tapi Chiclit model model single free itu kak , Cowoknya itu apa ya idamanku lah kesannya , aku suka pecinta dan dimanja tapi gakkk apa ya kesanya kok berlebihan , memang ada benar-benar lelaki kayak gt di dunia ?? Tapi tergantun sih dari selera juga .

    Kedua : Aku gak mau panjang lebar SOAL THYPO !! itu kamu banyak yang harunya di pisah kak , kearah itu adalah bahasa asing yang artinya wanita cantik , sedangkan ke arah itu menunjukkan tujuan . Di sana , bukan disana , dan benarlah waktu Autumn baru bangun apa tidak lebih enak diganti dengan benar saja? …. dan satu lagi kak kalimat kingsize dan kata asing itu di tulis miring kak plisss plisss dimarahin bu Sofi nanti wkwkkwkwkwkw . Wes gak akeh akeh aku juga lack in EYD soale hahahah …

    Maaf karena mata saya agak rabun jam segini tapi otak jernih , saya mau tanya juga dialog “Mengapa ya, mimpi kau selalu muncul dan menghilang tiba-tiba ?” , ini kak , aku kok kurang ngehhh bacanya , aku membayangkan ini adalah maha karya sekelas Lisa Kleypas kak , dan kata mengapa ya ? ini yang ruin semua keindahan paparannya . Jujur aku suka sekali paparanmu dan aku kasih nilai 89 dari 100 , kalo aku ngasih nilai diriku senri 56 looo jadi kamu masuk tinggi banget hahhahaha , tapi kamu lack di percakapan . Gak tahu kenapa kesan baku dan baratmu jadi ilang waktu masuk percakapan kak ! Jujur nih jujur .

    Sekarang masalah Story line …. Aku suka ide awal yang Autumn dihianati sama kekasih dan sahabatnya dan dia ketemu dengan drill di perpustakaan dan membuat mereka merasakan something yang aneh , tapi di sini semakin ke sini , kesannya Drill merindukan Autumn karena Sex kak , menginginkan ? Kalau kaka benar benar sudah pernah jatuh cinta , have sex dan keinginan untuk itu harusnya bisa di tahan kak , ini keliatan bangt kamu itu punya segudang ilmu soal cinta dari novel , tapi tak benar-benar pernah tahu saat bagaimana man and girls falling in love hahahahah , gak tahu ya kak , gak tahu …. tapi aku suka sekali adegan korset yang ditarik keras dan gaun yang diangin angini dan jepit yang klik klik klik , tapi kalo bisa itu di simpan di bagian akhir , sumpah bilahi story linenya kayak dikejar setan yang nyuruh mereka memuaskan hasrat kebutuhan untuk have sex !!! hahahahah

    Sementara itu dulu kak , kalo ada kata yang menyinggung dan ketaksempurnaan dari saya ADAYA MOHON MAAF #KABOOOOR !!!

    -TBC-

  2. Tapi kak bagusss loo semuanya hahaha asline sisi jahilku yang suka eroro sukaa dan aku menghargai usahmu agar mereka tak langsung cap cus yoi tarik buka korset kau …. Makasih kak makasih , kau tahu kak kenapa aku suka JQ karena kesan mendamba dengan tubuh dan bibir dan dada itu sedikit , JQ bisa menggambarkan bagaimana pria mencintai dengan dewasa , dengan tulus dan dengan lembut . Hhahaahha kau harus belajar kak , gak semua pembaca itu menanti have sexnya , kadang moment moment soal menatap saling menatap dari kejahuan dan tiba tiba senyum mereka terkembang seolah mereka bisa membaca pikiran masing masing itu lebih lebih hot dibanding dengan sexnya , karena dengan komunikasi non verbal dan tanpa adegan fisik cinta mereka jadi kerasa lebih riil dan murni kak , hahahah , maaf aku pecinta novel Laila I love you karangan Andi anak ITB , yang sweet bangt menurutku , yang ngarang cowok , dan dia gak pernah have kiss dnegan ceweknya walau sudah 9 tahon pacaran , aku nangis hahhaha , dan mungkin kamu bukan tipe pecinta novel seperti itu kembali lagi , dan novel kayak Chintapucino selalu jadi idolaku lebih dibanding novel LK lohh karena bener bener d gambarkan cinta gila itu seperti itu dan itu riiil bukan fantasy yang ingin didengar oleh semua wanita tapi kenyataan yang tertera dalam hidup , dan itu lebih kena kak jlebb di hati hahahahah .

  3. “Seandainya kau nyata… “ kata Drill lirih. Ia menelusurkan hidungnya ke cekungan antara leher dan telinga Autumn.

    “Aku nyata.” tukas Autumn. Ia membalikkan kepalanya. “Sama seperti perasaanmu, aku juga ingin kau nyata.”

    plingggg suka perckpn ini 🙂

  4. “Kalau boleh saya bertanya, bagaimana anda menaklukkan si pendeta keras kepala yang duduk disebelah anda ?” Tanya Hawk tanpa basa-basi. Autumn terkejut lalu tertawa lirih. Drill menatap Hawk dengan tatapan jangan-berani-ikut-campur. –> pendeta ?

  5. aye,, memang saya lack di percakapan kak.. HAHAHHA. makasihh komentar dan kritik tajam ini. iyaa aku bingunngggg,, dan butuh belajar lagiiiii… OMG!!! aku bakal nyari referensi dialog2 deh kak, dan belajar romantisme dalam menatap….!
    aku juga bertanya-tanya kok, sejak kapan si Drill jadi maniak sex ? sejak kapan novelku jadi eroro? AHAHHAHHAHAHA!
    oh iya, si Drill itu sejak ditahan si Mistress, dia jadi ga suka cwek, makanya Hawksword kaget banget pas tau ada gadis yang tidur di ranjangnya Drill. 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s