IT HAD TO BE PART 3

Title                 : It Had To Be

Author            : Stirling Raintree ( pulpen_ijo@yahoo.com )

Type                : Part 3

Genre              : Romance, time slip

Rating             : PG – 21

 

PART 3

Desember 2012

Autumn menatap bayangannya sendiri didepan kaca lebar di kamar mandinya. Mencoba tersenyum tetapi entah mengapa bayangan dirinya di kaca itu malah menampakkan seorang perempuan yang tidak diragukan lagi, kucel. Telepon berdering menyadarkan dirinya.

“Halo ? “ tanyanya setengah hati.

“Autumn.!! Kalau kau berani memutuskan hubungan telepon ini karena kau menilaiku terlalu berisik padahal aku hanya bersikap peduli padamu karena kau menghilang dan bersembunyi seperti manusia gua selama seminggu, maka kau akan berhadapan denganku !” suara telepon itu membuat telinganya bordering. Autumn terkikik geli.

“Vero! Ya ampun! Aku kangen padamu..!” Autumn beranjak menuju  meja dapur untuk mengambil kopi sambil mengepit telepon portable nya. Ekspresi wajahnya sudah lebih rileks dibandingkan sebelumnya.

“Well, kurasa kau berutang penjelasan padaku, dear! Cepat jelaskan alasannya!” suara  Vero diujung telepon masih bernada keras. Vero sendiri baru berhasil menghubungi Autumn dan ia membutuhkan penjelasan. Sekarang juga kalau perlu.

Autumn memutar bola matanya. Merasa konyol ia melakukan itu padahal temannya itu tidak bisa melihatnya. “Ehem, yah, banyak yang terjadi.” Autumn berusaha berkilah. Merasa lelah tapi juga tersanjung dengan kepedulian Vero.

“Misalnya ? ayo jelaskan. Aku punya banyak waktu kok.”

Sadar dirinya tidak akan bisa berkilah menghindar lagi, Autumn berdehem, “ Yah.. awalnya begini… “

“Jadi kau dikhianati oleh teman masa kecil mu sendiri dan tunanganmu sendiri ??”

“Yahh… “

“Dan bertemu dengan hantu seorang pria tampan di salah satu ruangan di gedung resepsionis tempat pasangan brengsek itu menikah dan yang membuatku terkejut, mereka masih berani mengundangmu ?!”

“Ahaaha.. aku sudah tidak apa-apa, dan siapa tahu pria tampan itu bukan hantu walaupun pakaiannya..”

“Dan yang lebih buruk lagi,” potong Vero, “Kau, seorang wanita sukses berusia awal 25, dengan sederet pelamar yang akan bersedia meminum wine dari kakimu kalau perlu, malah mengurung diri diapartemenmu seperti remaja labil yang ditolak cinta ?? jelaskan kekonyolan ini !”

Autumn sedikit tersinggung karena disebut sebagai remaja labil. Vero masih menatapnya, menginginkan jawaban. Bicara Autumn. Apapun!

“Err.. apakah benar ada ?” tanyanya ragu-ragu.

“Apanya ?” tandas Vero, masih dengan nada tajamnya.

“Itu.. lelaki yang bersedia minum wine dari kakiku…. Eh?” Tanya Autumn ragu-ragu sambil nyengir.

BRAKK! “Bukan itu masalahnya sekarang, Autumn!!” puas menambahkan adegan-gebrak-meja untuk mendramatisir suasana di café, Vero mengibaskan rambut panjang pirangnya dan duduk dengan ribut sambil menyilangkan kakinya yang jenjang. Perilakunya yang seperti drama queen itu mengundang perhatian beberapa pengunjung café. Vero menundukkan kepalanya, memperhatikan buih di permukaan kopi hitamnya seakan-akan itu sesuatu hal yang unik. “Tapi… “ autumn mendongakkan kepalanya lagi, Vero sudah tersenyum kepadanya lagi. “Mungkin dia jodohmu.”

“Huh? Siapa ?” Tanya Autumn, bingung dengan pengalihan topic tiba-tiba ini.

“Diaa.. lelaki yang menemanimu saat kau sedih. Yang kau bilang bajunya berbeda itu.”

“Kenapa kau berpikir seperti itu ?” Vero menggeleng sedih dengan pertanyaan Autumn yang menurutnya konyol.

“Karena yang kita bicarakan ini kau Autumn, Kau ! Kau yang tidak pernah mengingat wajah orang terutama spesies berjenis lelaki dan bahkan hingga sekarang masih virgin. Coba kutanya, siapa lelaki yang satu kelompok dengan kita saat praktikum geologi di kelas sepuluh ? Siapa Autumn ? Haahh sudah kuduga kau lupa. Bahkan kau saja pasti sudah tidak ingat ciri-ciri pemuda yang membawakan pesanan kita. Tapi kau malah mengingat lelaki itu, bahkan hingga detail sedetailnya, padahal kau sedang dalam patah hati. Hebat sekali kan ?” Vero menyelesaikan penjelasan panjang lebarnya dengan dengusan puas. Autumn terpana menatap sahabatnya ini. Baru kali ini ada orang yang terang-terangan mengkritiknya.

“Yeah,, well, itu karena mereka tidak berkesan.” Balas Autumn ringan, berjuang menahan tawanya dari situasi seperti ini. Vero mengedip meremehkan. Dering telepon membuyarkan percakapan diantara mereka berdua. Vero beranjak keluar café untuk mendapatkan suasana untuk menerima telepon. Sementara itu, Autumn berpikir. Mengkaji ulang daftar pria yang diingatnya selama lima tahun terakhir. Ia mengingat semua yang perempuan, tapi kalau dipikir-pikir lagi, ia  hanya mengingat list pria nya hanya klien dan suami teman-temannya saja. Mantan tunangannya itu tidak dihitung karena mereka adalah teman masa kecil. Autumn menopangkan sebelah tangan didagunya. Tapi entah mengapa, ia masih mengingatnya. Rambut hitam, hidung mancung khas aristocrat, alisnya yang tebal membingkai bola matanya yang memabukkan. Apalagi pakaian yang dikenakannya benar-benar sesuai dengan bentuk tubuhnya dan dibentuk pas sekali. Kenapa ia mengingatnya ya? Bahkan saat mengingat lelaki itu mencium dan memeluk untuk menenangkannya, masih terasa jejak kehangatannya. Autumn mengelus lengannya, sedikit bergetar saat mengingat kejadian itu. Dan menghembuskan nafas keras sambil melihat Vero yang menutup ponselnya sedikit kasar dan berjalan menghentak menandakan aku-sedang-kesal kearahnya. Satu pikiran terlintas, doa lebih tepatnya atau pengharapan? Kapan aku bisa bertemu lelaki itu lagi ?

DESEMBER 1886

Matanya hijau sehijau  laut dengan dasar paling dalam. Rambutnya ? ah, hitam seperti warna mataku. Bibirnya sehalus sutra, bahkan ia sendiri yang menguji tekstur bibir itu pikir Drill. Drill membolak-balikkan pena diantara jari telunjuk dan jari tengahnya. Matanya terlihat menerawang, mencoba memperagakan postur seorang lelaki yang duduk melamun memandangi kumpulan bebek-bebek cerewet didanau. Buruannya terlihat sedang berbicara dengan seorang wanita montok dengan gaun atasan yang membuat payudara hamper kendornya tumpah. Disisi wanita itu ada seorang bocah lelaki dengan tampang kucel dan mata pipi lebam karena tonjokan.

Drill mendesah, banyak sekali bangsawan yang mengaku sopan dan berakhlak tinggi ternyata malah lebih rendah dari kotoran. Drill membuka lipatan kertas korannya, matanya dengan tidak kentara masih mengawasi. Buruannya sekarang sedang mengelus rambut bocah lelaki itu dengan sentuhan mesum. Hmm hmm… Drill mengecek jam sakunya. Lima detik lagi. Lima.. empat.. tiga.. dua.. DORR!! Suara ledakan pistol menggema. Bebek – bebek yang tadinya berenang dengan tertib tampak berenang kesegala arah karena kaget. Drill menjatuhkan kertas koran, memasang ekspresi terperangah yang wajar ditunjukkan orang dalam kejadian penembakan. Terkejut. Tapi matanya memicing, merasa puas saat tubuh Lord itu ambruk dengan noda darah semerah mawar membasahi bajunya. Wanita montok itu mulai menjerit, melepaskan pegangannya pada bocah lelaki itu. Bocah itu melihat kesempatan untuk kabur dan langsung lari tanpa menghiraukan wanita sialan itu. Drill bergegas memeriksa lelaki itu, berpura-pura peduli untuk menolong. Setelah yakin kalau lelaki itu sudah tewas, Drill mengungkapkan ucapan bela sungkawa dengan wajah sedih terlatihnya, dan meninggalkan tempat kejadian yang mulai ramai.

Panas. Huft. Autumn membuka matanya dengan lelah. Kamarnya terasa sesak, panas dan pengap. Ia mencoba memejamkan matanya sekali lagi, berusaha mengabaikan rasa panas. Menenangkan pikirannya dan menancapkan pikiran api jadilah air. Tidak berubah, udara tetap panas. Autumn menatap langit-langit kamarnya, menerawangkan pikiran. Dan tiba-tiba ia mendengar pintu kamarnya dibuka dan ditutup dengan bunyi pelan. Autumn membeku. Pikirannya berubah waspada. Suara langkah kaki yang teratur, samar dan nyaris tidak terdengar menjeritkan alarm yang kuat.  Autumn meraba lacinya, mencari pistol dan nihil. Pistol yang disimpannya dalam laci menghilang. Autumn mengerutkan dahi, keringatnya menetes,  dari udara panas dan ketegangan tiba-tiba ini. Ia mencari dibawah bantal dan menemukan sebilah pisau asing. Ia beringsut dari tidurnya, membuat gerakan tenang untuk duduk. Tanpa menimbulkan suara.

Seorang lelaki berjalan dengan santai dan nyaman, kancing kemejanya sudah terbuka seluruhnya, menampilkan pemandangan dada berotot tanpa lemak. Lelaki itu sedang membawa secangkir wiski disebuah gelas kristal dan menyesap perlahan sambil memandang keluar jendela. Bagus, bukan hanya mau merampok rumahku tapi juga ingin mencicipi wiskiku ya, pikir Autumn pedas. Autumn kembali beringsut dengan gerakan perlahan, yang dengan sukses menarik perhatian lelaki itu.

Drill terkejut, tertegun. Ia menahan keinginan untuk menggosok matanya untuk memastikan kalo ia tidak bermimpi. Sekali lagi ia bertemu dengan perempuan ini, dan lagi kali ini perempuan itu hanya menggunakan gaun tidur tipis yang dengan bantuan cahaya bulan pun, Drill sudah bisa melihat lekuk-lekuk tubuhnya. Drill beranjak menyebrangi kamar menuju  ranjang. Perempuan itu menatapnya tajam, ditangannya sudah siap dengan sebilah pisau. Drill tersenyum geli melihatnya.

“Kau. Apa yang kau lakukan di kamarku?” tanya Autumn tajam. Tangannya mengacung pisau yang didapatkannya dari bawah bantal, berharap terlihat menakutkan. Walaupun sebenarnya ia yang terlihat takut karena lelaki didepannya tampak tak mengacuhkan ancamannya. Mata lelaki itu menelusuri tubuhnya dengan kurang ajar. Autumn hanya dihadiahi senyuman kecil.

“Kamarmu? Yang kutahu, ini adalah kamarku.” Jawab Drill ringan sambil menaikan sebelah alisnya. Ia kembali menyesap wiskinya sambil tatapan matanya menimpa dada Autumn yang terlihat menggiurkan. Autumn tampak bingung, ia melihat sekeliling kamar dan seketika wajahnya pucat pasi. Autumn mengembalikan pandangannya ke lelaki didepannya.

“Kau.. kau kan yang saat itu… “ autumn kehilangan kata-kata.

“Drill Wolfgrind siap melayani anda, madam.” Drill membungkuk sopan. Ia menopangkan sebelah kakinya di ranjang, membuat ranjang melesak karena berat tubuh Drill. Drill meletakkan gelas wiskinya ke nakas. Ia mendekat kearah perempuan didepannya. “Dan siapa namamu madam? Aku tidak ingat kita pernah diperkenalkan secara resmi?” tanyanya ramah. Berbeda dengan sikapnya yang sudah siap menerkam Autumn dengan kilatan mata hitamnya.

“Uh.. jangan mendekat!” Autumn kembali mengacungkan pisaunya ke arah Drill yang semakin mendekat. Suaranya lemah. Pasti karena udara panas, pikirnya. Bukan karena dia.

Tangan drill menyelusuri jari jemari Autumn dan melepas pisau dari jari lemas Autumn dan membuangnya sembarangan. Bunyi berdenting menggaung di ruangan itu. Autumn tidak mampu mengalihkan pandangannya dari sosok didepannya. Mimpi. Ini pasti mimpi, pikir Autumn. Bukannya akan lebih baik kalau ia menikmati mimpinya? Pikir sisi dirinya yang nakal. Drill mendekat, tangannya mengalir bagai air, menelusuri betisnya dengan sentuhan ringan.

“Kau… “ tangan Drill menelusuri pipi Autumn. Ia mendekatkan bibirnya hingga hanya berjarak beberapa senti dari bibir Autumn. “…akan menjadi milikku..,” Drill melekatkan, memberi Autumn ciuman. Jenis ciuman yang dapat membuatnya gemetar dan mendamba. “…malam ini…” Autumn membuka sedikit bibirnya, menikmati dan membiarkan Drill melahapnya. “Benar sayang, biarkan aku menikmatimu malam ini. “ Tangan Drill dengan lincah membuka satu persatu kancing di gaun tidur Autumn, mengendus dan mengecap hingga Autumn mengeluarkan desahan. “Hanya malam ini…” lanjutnya.

Desember 2012

Autumn terbangun dengan perasaan rileks. Tangannya meraba-raba kesampingnya dan hanya merasakan bantal guling. Autumn menoleh, memandang kesekeliling kamar. Ini  kamarku, pikirnya. Selimut membelit rumit kakinya sehingga ia hampir terjatuh saat turun dari ranjang. Ia bergegas menuju kamar mandi. Semua goresan stres yang dialami sebulan terakhir menghilang, digantikan oleh wajah berseri-seri seorang wanita yang telah menghabiskan semalam suntuk untuk sex. Autumn mencubit ringan pipinya. Bukan mimpi, pikirnya. Tadi malam itu apa ya? Pertanyaan itu terus menggantung dipikirannya.

===

Desember 1886

Drill menatap langit-langit diatas ranjangnya. Wangi tubuh perempuan itu masih menguar di kamarnya. Ia masih dapat merasakan sentuhan malu-malu, keterbukaan, kehangatan, senyuman, desahan. Drill menutup mata dengan lengannya. Tubuhnya terasa keju, bahkan hanya dengan membayangkan kalau keadaan kusutnya seprai di ranjang yang ditempatinya karena perempuan itu… Drill menegang. Ia butuh mandi air dingin, putusnya melihat kearah salah satu anggota tubuhnya.

===

Drill sedang menikmati secangkir kopi pahit panas dengan omelet dan bacon saat Hawksword masuk dengan tiba-tiba. Dengan rambut acak-acakan, pipi kusut pertanda tidur lama tapi dengan mata bersinar, Hawksword langsung menyeduh sendiri kopi lalu mengambil sarapan dari nakas.

“Selamat pagi. Suatu kesenangan melihatmu Hawksword, walaupun aku yakin kalau aku  tidak pernah mengundangmu untuk sarapan pagi dirumahku. Maafkan kekasaranku bila aku melupakannya.” Ujar Drill sambil menyeruput kopinya dengan koran dipangkuannya. Hawksword mengacuhkan Drill, ia duduk disamping Drill dan makan dengan lahap.

“Well, kalau kau tahu apa yang kualami semalam, kondisimu pasti akan sepertiku,” ujar Hawksword dengan ceengiran jahilnya. Drill mengenyampingkan korannya.

“Kalau boleh kutahu..?” tanya Drill, menyendokkan omeletnya.

Hawksword mengunyah untuk beberapa lama lalu melanjutkan, “Aku bertemu dengan perempuan yang ditakdirkan denganku.” Singkat. Padat. Dan jelas. Drill menatap Hawksword tajam.

“Siapa? Jangan bilang salah satu kerabat dari target kita?”

Hawksword menggelengkan kepalanya, ia mengambil cangkir kopinya dan menyesapnya. “Bukan. Ia misterius sekali. Ia muncul secara tiba-tiba di ranjangku.”

Drill terkejut. “Apakah perempuan itu berambut hitam dengan mata hijau?” tanyanya keras. Emosi di pertanyaan Drill membuat Hawksword mengerutkan dahi.

“Tidak. Rambutnya sekuning sinar matahari dengan mata biru. Ada apa?” tanya Hawksword. Ia menatap penasaran pada Drill yang terlihat lega dan mulai santai.

Drill tersenyum, “Karena aku juga sudah bertemu milikku.” Ujarnya singkat.

==

Desember 2012

“Drill.. Wolfgrind…” Autumn menekan enter pada keyboarnya. Matanya menatap penuh perhatian saat Google memberikan hasil dari yang dicarinya. Ia terkejut, matanya lalu terpaku pada artikel yang tertera di layar laptopnya.

Tidak ada yang mengetahui sosok sebenarnya dari Drill Wolfgrind. Ia adalah seorang pembunuh berdarah dingin terkenal yang beroperasi disekitar Bristol pada tahun 1875. Bisa dibilang  ia adalah Robin Hood pada jaman itu. Kalaupun Robin Hood merampok dan membagikannya pada rakyat miskin, menurut catatan saksi mata yang mengakui sangat mengenal Drill Wolfgrind, Wolfgrind sendiri ini hanya membunuh orang-orang yang memiliki kecenderungan asusila  tinggi. Misalnya saja, Lord Abyss yang ditemukan dibunuh dengan cara ditembak, diduga merupakan salah satu korban Wolfgrind, adalah seseorang yang mempunyai hobi memperjual-belikan anak-anak perempuan maupun lelaki ke rumah bordil. Drill Wolfgrind mempunyai partner kerja bernama Hawksword yang sama misteriusnya.

Lembar berita Sunny Pos, 4 Januari 2011

Drill Wolfgrind adalah pembunuh?

still to be continued. terus ikuti kisah nya ya,, kekekekeee

Advertisements

7 Comments

  1. well walau menurutku kependekan tapi aku menghargai sekali kamu mau melanjutkan karena saya tahu rasanya bagaimana kalau karya kita dikatai “KURANG PANJANG” hahahahaha , ok :
    1 . aku suka tulisan ide dan daya imaginasimu yang kuat dalam pemaparan sebuah situasi nid hanya kekuranganmu yang ruin semua keindahan rangkain katamu adalah bahasa bahasa tidak baku yang membuatnya jadi “heh?” , ex :

    “Dan yang lebih buruk lagi,” potong Vero, “Kau, seorang wanita sukses berusia awal 25, dengan sederet pelamar yang akan bersedia meminum wine dari kakimu kalau perlu, malah mengurung diri diapartemenmu seperti remaja labil yang ditolak cinta ?? jelaskan guyonan ini ! –> kata jelaskan guyonan ini bisa diganti dengan yang lebih sesuai dengan ” Jelaskan maksud kekonyolan ini ” , dlll akan lebih enak dicerna dan dibaca , —> yang ngritik sok hahahaha

    2. kalo sudah TBC kasih tanda , biar kesan gak ngantung ini udah bersambung apa masih proses , OK !!!

    3 . Saranku tolong buat sebuah TBC yang membuat readermu ingin membaca part selanjutnya , ala drama dan telenovela gt dikasih sesuatu yang mencengangkan yang bisa bikin bertannya tanya , karena apa ,,,, gak semua reader setia dan penasaran , kalau kita gak kasih daya tarik untuk chap selanjutnya akhirnya chap selanjutnya yang gak tahu bakal lebih bagus akan dtinggalkan atau terlupakan ….

    4 . UPDATEE SOOON I LIKE ITTTTT

  2. hi aku new reader disini
    salam kenal ywh
    wahhh cerita yg ini keren bgt
    q suka ceritanya
    jadi nie ceritanya masa lampau n sekarang gto???
    wahh gak sabar sama part selanjutnya
    hope semoga part berikutnya dah lebih jelas lagi, cz konfliknya masih belum keliatan
    bener kata adaya part ini pendek
    wahhh kug Drill sama Hawksword sama” mimpiin hal yg sama
    hehehehheheheh
    ditunggu part selanjutnya Semangat!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s