HIM PART 1

GENRE          : FANTASY, ROMANCE

RATING         : 20+ ^^

AUTHOR       : pulpen_ijo@yahoo.com

BLOG             : lembarandaunhijau.wordpress.com

 

PART 1

DECEMBER 1888

Bukan salahku bila ia merenggang nyawa. Bukan salahku bila ia mati. Ya Tuhan! Aku bahkan tidak bermaksud mencelakakannya! Sumpah!

Aku hanya mengundangnya ke gudang belakang gedung opera. Bermaksud menyatakan cintaku. Anggapan dan harapanku yang berharap ia akan menerima pernyataan cintaku lalu ternyata kami saling jatuh cinta, seperti di novel yang kerap kali kubaca. Memang sih, kami janjian jam 7 malam. Dan memang pula aku terlambat, tapi aku terlambat itu pun tidak disengaja. Aku sudah terburu-buru, membuat kusir melarikan kereta kuda secepat yang ia bisa.

Suasana sepi saat kusampai di belakang gedung opera. Hanya terlihat lalu-lalang pasangan yang puas setelah menyaksikan pertunjukan malam itu. .Aku cepat-cepat berjalan ke tempat janjianku dimana kami seharusnya bertemu. Saat itu udaranya dingin sekali. Terdengar suara kodok yang bersaut-sautan seakan menambahi konsel acara malam itu. Kakiku kelu, tenggorokan ku kering seakan aku belum pernah mengenal air.

Ia disana.

Lelaki itu ada disana, menunggu dengan menyandarkan bahunya yang bidang sambil menghisap tembakau yang dilinting. Aku tersenyum senang, lalu menaikkan sedikit gaun yang kupakai agar dapat berjalan lebih cepat. Ia melirikku dan tersenyum tipis. Entah kenapa, tatapannya malam itu tidak bisa aku lupakan. Terkesan sedih dan…   tiba-tiba kaca berukuran besar meluncur jatuh. Menimpanya dengan kecepatan yang mengejutkan. Aku bahkan tidak sempat berkedip. Membatu kaku. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk mencegah peristiwa itu terjadi. PYARR!! Serpihan-serpihan kaca membentur tanah, tubuhnya roboh, bersimbah darah.

Suara teriakan mengejutkanku, mengalahkan simfoni suara alam. Aku tidak menyadari kalau itu suaraku. Yang kutahu, pikiranku mendadak kosong. Mataku gelap. Tapi sekilas aku mendengar suara orang-orang yang tergopoh-gopoh karena teriakanku. Aku pingsan.

Pemakamannya diadakan hari ini. Aku tidak berani kesana. Tidak dengan kondisiku ini. Aku takut kalau aku akan menangisi ia seperti orang gila. Takut ada orang yang tidak mempedulikan perasaanku dengan menanyakan pertanyaan bertubi-tubi saat kronologis saat kejadian malam itu. Aku takut mereka menyalahkanku karena menyebabkannya mati. Diusia semuda itu, ia masih dapat berkeliling dunia, mungkin ke India, Amerika atau berlayar, menikah,dan  punya pewaris untuk gelarnya. Semua itu hanya angan semu sekarang.

Mataku benar-benar bengkak. Apa yang bisa kau harapkan dari menangis 3 hari penuh? Rambutku berantakan. Sepraiku basah semua. Selalu seperti ini. Aku yang biasanya kuat, ceria dengan panccaran mata berbinar menjadi makhluk muram dengan mata cekung dan hidung merah. Aku berani taruhan bila beratku sudah turun secara drastis. Aku menolak makanan yang dibawakan pelayanku. Menolak bujukan orangtuaku. Mereka benar-benar khawatir akan diriku. Mungkin pada awalnya mereka memaklumi kesedihan saat ditinggalkan teman. Tapi mereka bahkan tidak mengetahui apa arti lelaki itu bagiku. Aku tidak pernah menceritakannya pada mereka.Aku terbuka hanya untuk hal yang umum, bukan untuk hal yang pribadi. Setelah 3 hari mengurung diri itu, mereka pasti bertanya-tanya.

Jendelaku diketuk. Tidak mungkin rasanya ada yang mengetuknya. Kamarku ada di lantai 3, dan tidak ada pohon yang menjulang dijendela ku. Dengan asal-asalan kupalingkan mukaku dari bantal yang mulai berbau apak kearah jendela. Tubuhku masih lemas akibat efek dari shockku karena kejadian malam itu. Aku membuka jendelaku, seketika angin malam masuk, bau hujan, bau dedaunan merasuk dihidungku. Sinar bulan menyorot tajam, menggantikan sang matahari disaat malam.

Aku mengalihkan pandanganku kesekeliling, ke bawah-ke halaman rumah. Nihil. Aku tidak menemukan sesuatu ataupun seseorang. Bulu ditengkukku seperti berdiri. Meremang. Seperti ada yang meniup belakang telingaku. Aku perlahan berbalik.

Dan aku melihatnya.

Benar-benar melihatnya.

Tetap tampan seperti sebelumnya, hanya lebih pucat. Pucat yang menakutkan. Kulit tangannya seperti bersinar dibelai sinar bulan. Dengan rambut yang digaya acak-acakan. Bedanya ia memakai kemeja yang sudah dikeluarkan asal-asalan dari celana panjang kain hitamnya.

“Gareth? “ aku terbata-bata. Mengerjap-ngerjapkan mata, terancam air mataku turun lagi. Gareth hanya tersenyum. Senyum menenangkan yang selalu ia berikan padaku saat aku berusaha membuatnya marah.

“Kenapa kamu menangis seperti itu? Jelek sekali. “ Kata-kata itu meluncur keluar dari mulutnya. Benar-benar khas Gareth. Aku berlari ke tangannya yang terbuka lebar, seakan-akan bersiap memelukku. Kedua tanganku mendekap erat punggungnya.

“Ya ampunn..! Gareth..!! aku tidak tahu kalau kau masih hidup. Terima kasih Tuhan!.” kata-kataku berantakan saking kagetnya aku. Menangis, tertawa, bicara yang dilakukan secara bersamaan. Gareth hanya tertawa lembut. Aku masih dipeluknya erat, seakan ia tak mau melepaskanku. Hangatnya dan dadanya yang bidang mendekapku erat.

“Bukannya kau membenciku? Itukan yang selalu kau katakana dulu?” nada suaranya menyiratkan kalau ia menggodaku. Tangan mengelus-elus punggungku yang dibalut gaun tidur dengan lembut.

“Yah. Memang kadang aku sedikit kesal denganmu, tapi… “ bicaraku dikalahkan oleh tangisku. Air mataku mengalir tanpa hentih.

Gareth merenggangkan pelukannya hingga ia bisa melihat wajahku yang pastinya merah dan tampak bengap. Dihapusnya jejak air mata dipipiku. Otomatis tatapanku terarah pada matanya. Bening. Aku selama ini tidak pernah membayangkan keindahan menghipnotis seseorang dari hanya menatap matanya. Wajahnya yang semakin mendekat membuatku perlahan menutup mataku. Aku merasakan sapuan ciumannya dikelopak mataku, turun ke pipiku, diantara kedua alis, dan akhirnya menyapu bibirku. Ringan dan lembut. Ciumannya beralih lagi ke ujung bibirku, dan kembali lagi ke bibirku. Sapuan lidahnya dibibir bawahku dan gigitan lembutnya. Aku tak kuasa menahan suara eranganku, membuatnya memperdalam ciumannya. Dadaku terasa berat. Nafasku tertahan ditenggorokan, rasanya panas sekali hingga keujung jari kaki. Aku tenggelam. Aku mengalungkan kedua tanganku dilehernya, menyentuh rambutnya yang halus saat ia menguasaiku. Lidahnya menyentuh atap mulutku, memberiku kenikmatan yang tak terkira. Membuatku ingin membalasnya. Aku puas saat ia juga mengeluarkan erangan yang sama. Aku tidak ingin berhenti. Ingin selamanya begini. Kami bernapas seperti telah lari marathon saat ia melepaskan ciumannya. Tersengal-sengal. Ia memberiku ciuman terakhir sebelum ia menghilang. Bagai kabut, ia menghilang.

“Gareth? Kamu kemana?” aku bingung. Mataku mencari kesekeliling kamarku. Sebelum aku menyerah dan tak tahan dengan kelelahan, tidur dengan setetes air mata mengalir.

Gareth berdiri disudut kamar. Menatap dengan mendamba sosok perempuan yang telah merebut hatinya sejak saat pertama mereka bertemu dan berdebat. Vyan yang selalu dirindukannya. Ciuman tadi benar-benar tak terkirakan. Membangkitkan hasratnya  dengan sangat mengejutkan. Seharusnya ia, yang sudah lama hidup didunia ini tidak dapat begitu saja terpengaruh. Tapi, Vyan dengan kepolosan ciumannya benar-benar menggugahnya. Galih berjalan menuju tempat tidur dimana Vyan berbaring. Pipinya yang basah oleh airmata karena menangisinya. Sudah lama sekali tidak pernah ada yang bersedih untuknya. Aku benar-benar terpikat padanya, pikir Gareth.

Advertisements

5 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s