One Shot Black Eyed Devil

Nyoba ngepost lagi ahhhh…… ;p

Title                 : Black Eyed Devil

Author            : Stirling Raintree ( pulpen_ijo@yahoo.com )

Main Cast       : Sooyoung–> herself, Siwon–> himself

Other Cast      : 

Type                : One Shot

Genre              : Romance, ghost

Rating             : PG – 16

Desember 2024

Siwon POV

Siwon itu kaya. Tidak diragukan lagi. Sebagai pemilik perusahaan yang membawahi banyak sector dari perdagangan hingga pendidikan, kekayaannya bahkan termasuk sepuluh besar dari daftar konglomerat di dunia. Semuanya bisa didapatkannya hanya dengan sekali lambaian. Makanan, pakaian, mobil. Segala sesuatu yang umum ditemui, dari yang mahal bahkan hingga yang eksotis. Bahkan wanita. Wanita seperti secara otomatis melemparkan diri ke Siwon. Ia hanya perlu melirik, mungkin disetai usaha sederhana seperti tersenyum dan beberapa menit kemudian wanita sudah berada dipangkuannya. Dan hal hal ini membuatnya bosan. Benar benar bosan. Ia seakan menjalani kehidupan yang monoton. Tidak mempercayai siapapun, tidak meminta bantuan siapapun. Yang bisa diandalkan hanya diri sendiri. Otak, pembawaan, pengetahuan,,.. itulah asetnya. Siwon memandang kosong kearah langit yang berwarna kemerahan. Matahari sudah mulai menuju tempat peristirahatannya. Kapal udara portable berseliweran dengan kecepatan konstan dengan jalur mengudaranya masing masing. Burung burung droid mengumandangkan lagu khas burung dengan nada yang sendu dan dikemewahan kantor utama perusahaan dengan 150 lantai ini, ia merasa kecil. Dan lagi lagi bosan. Demi Tuhan, ia membutuhkan sesuatu yang menarik atau tidak lama lagi ia bisa mati bosan.

Turn Back~~~`

Desember 2012

SooYoung POV

Baginya hidup itu ya hidup. Semuanya pasti ada timbal baliknya entah itu keuntungan atau kerugian. Prinsipnya soo young hanya satu, hidup itu hanya sekali, jalani dan sukseslah. Ia sedang berada dalam puncak kebahagiaan hidupnya. Mempunyai orang tua yang pengertian dengan kasih saying berlimpah, calon suami tampan lulusan Harvard University yang bahkan sudah dipromosikan menjadi direktur di salah satu perusahaan terkenal dan karirnya sebagai pengacara yang perlahan tapi pasti akan melejit dalam dua tahun ini. Semua sudah direncanakan. Tahun depan ia akan menikah, lalu punya anak, lalu merintis karir menjadi pengacara terkenal, bahkan SooYoung sudah merencanakan dimana ia akan berlibur bersama suaminya saat mereka sudah pension. Tapi hal ini yang tidak masuk kedalam rencananya.

Ia meninggal.

Well bukan bermaksud menghakimi ya,, tapi yang namanya meninggal dalam versinya itu bukannya ia harus menyeberangi sungai keadilan atau apapun. Bahkan ia merasa meninggal tidak ada rasanya. Terombang ambing di sisi satu ke sisi lainnya. Bisa mendengar, melihat tapi tidak bisa menyentuh. SooYoung melihat sendiri hari saat ia dimakamkan. Kesedihan, kepedihan, dan tetesan serta raungan kedua orang tuanya. Pacarnya yang sudah ia kenal seumur hidup menangis diam-diam yang mampu menyayat hati (Padahal SooYong tahu, pacarnya ini termasuk tipe keras). Soo Young terharu. Sedih apalagi. Tapi semuanya akan move on kan? Ayah ibunya juga pasti akan meninggal. Pacarnya akan menemukan perempuan lain yang sesuai dengannya. Dan teman-temannya dalam satu minggu juga pasti akan melupakannya. Hmphh.. SooYoung menghembuskan nafas dan menatap nanar pemandangan didepannya. Ia yang tergeletak dengan gaun baru terindahnya di peti mati. Ia tidak menyesal sudah meninggal. Karena hidup itu tentang pertemuan dan perpisahan. Kehilangan mungkin. Tidak, tidak mungkin tapi sudah pasti.

Tapi kenapa ia tidak menghilang? Apa ia mempunyai sesuatu yang mengganjal? Soo Young menatap jari jemarinya yang lentik karena manekure. Merenung. Setelah ini apa yang akan dilakukannya. Tidak bisa melanjutkan hidup. Tidak punya mimpi lagi. Sesuatu yang harus diraih. Ia akan mengambang, dipojok ruangan merenung. Tidak ada yang bisa diajak berbicara. Berbagi kesenangan. Berbagi kesedihan. Kosong. Seperti cangkang telur. Dilihatnya peti matinya mulai diarak untuk pengkremasian. Kosong. Pikirannya kosong. Dan SooYoung duduk di kursi beledu, menatap tubuhnya yang akan segera berubah menjadi abu.

Siwon POV

Mansion ini benar benar unik. Dengan susunan kayu ek nya yang sudah sulit sekali didapatkan dimasa sekarang, batu batu yang menurut perkiraan akuratnya akan masih bisa bertahan 100 tahun lagi. Jendela jendela menonjol antic, bahkan perabotannya pun sesuai dengan nuansa mansion ini. Tidak sia sia aku membelinya, pikir Siwon puas. Siwon mengalihkan pandangannya kesekelilingnya, ada pemanas ruangan yang didesain dengan gaya cerobong asap seperti masa lampau lengkap dengan kondisi kotor jelaga, sofa beledu warna hijau yang didesain untuk kenyamanan punggung saat membaca, lampu duduk penuh ukiran. Siwon bergerak perlahan melintasi ruang duduk. Di lorong lorong panjangnya dengan wallpaper indah yang dihiasi lampu dinding yang bertebaran setiap jarak satu meter, Siwon melangkah masuk menuju kamarnya. Dengan king size, seprai abu abu modern dan tempat tidur berkanopi. Siwon mencatat untuk memberi bonus kepada desainer rumahnya. Ringtone hp nya berbunyi nyaring memecahkan kesunyian diruangan itu.

“Yap hyung.” Jawab Siwon sambil berjalan menuju teras. Merasa sudah cukup memeriksa isi mansion. “Uh huh.. yap aku akan pindah.” Terdengar protesan di ujung telepon dengan jawaban barusan disertai debat. “Tidak. Aku tetap akan pindah. Aku butuh suasana baru. Mengertilah hyung.” Jawab Siwon sambil menggelengkan kepalanya, tersenyum kecil dengan jawaban disana. “Kau pasti bisa. Kau kan hyungku. Hahaha, baiklahh.. kirimkan sisa barangku diakhir minggu ya hyung. Aku hanya membawa sedikit koper.” Puas dengan jawaban diseberang Siwon tertawa. “Oke aku akan meneleponmu lagi hyung. Sampai nanti.” Siwon terkesiap puas, dan memandang ke belakang, kearah mansion barunya sambil bergumam senang, “Well, selamat datang di hidup barumu Siwon..”

Soo Young POV

Sekarang ia bisa memegang benda. Bisa menampakkan diri, walaupun dengan jangka waktu yang relative sebentar. Energinya terisi penuh saat tengah malam. Terkadang ia akan bertelanjang kaki mengitari taman labirin di mansion saat tengah malam, memandang rindu kearah bulan sambari berdoa semoga hidup-tidak-hidup-nya yang membosankan segera berakhir. Terkadang ia akan membaca buku di perpustakaan mansion dengan buku buku yang sudah dibacanya beratus-ratus kali. Tapi akhir-akhir ini banyak orang berseliweran di mansion. Mengecat ulang, membenarkan wallpaper, membawa keluar masuk perabotan, bergulung gulung seprai, karpet. Bukannya Soo Young benci, justru dia senang dengan hirup pikuk yang ada. Ia akan menggelayuti kaki salah satu staf yang sedang menggotong karpet hingga staf tersebut menjatuhkan gelondongan karpetnya, atau mencoel hidung cewek tukang perintah yang membawa pad berisi list hingga cewek itu bersin.

Dan disaat Soo Young sedang santai mengambang terbang sambil bergayut pada lampu candelir diruang makan ia melihatnya. Lelaki itu tinggi, mengenakan turtle neck yang menempel secara pas pada bagian depan tubuhnya yang ramping. Kakinya dibalut celana jins using yang kelihatannya dipakai karena kenyamanan bukannya mode. Soo Young melongo dan hampir saja selip dari lampu candelir dengan memalukan-walau SooYoung juga tidak merasa perlu malu karena lelaki itu toh tidak akan bisa melihatnya. Pokoknya Siwon-dari percakapan telepon yang dicuri dengar SooYoung- adalah lelaki paling tampan yang pernah ia lihat. Setara dengan pacarnya saat ia masih hidup, yang kalau boleh ia tambahkan, bahagia dengan sukses dan mempunyai istri dengan 8 orang anak.

Ia beranjak ke sisi Siwon. Mendekatinya. Hampir bersentuhan lekat. Siwon berbau sabun dan shampoo dengan aftershave ringan. Ia mencoba menyentuh struktur wajahnya yang sempurna. Bulu kuduk Siwon terasa merinding dibawah elusan tangan kasat matanya dan ia tahu, Siwon pasti berpikir kalau suhu ruangan sedang turun drastic yang merupakan hal yang umum di mansion tua. Ia menyentuh rambut halus dipelipis Siwon, dahinya, alis nya, membuat Siwon memejamkan mata sejenak, pipinya yang halus, hidung bahkan sudut bibir Siwon. Dan anehnya Siwon tetap diam tidak bergerak. Bahkan cenderung kilat matanya berubah penasaran. Bola mata Siwon menatap tajam padanya. Ia membeku, ujung jarinya berada di rahang. Apakah Siwon bisa melihatnya? Tidak mungkin. Ia mencoba melambaikan tangan didepan wajahnya Siwon dan Siwon tetap kaku berdiri didepannya sambil menatap tajam. Ia mundur, perlahan, takut hanya menimbulkan kerlip harapan yang sia-sia. Lalu menghilang.

Siwon POV

Sudah menghilang. Sentuhan itu sudah menghilang. Ia mengedarkan pandangan  kesekelilingnya. Mencari tanda-tanda gadis tadi yang menyentuhnya dengan rasa penasaran yang tinggi. Ia tidak bisa melihat dengan jelas, tentu saja. Hanya bentuk siluet cahaya. Yang ia tahu yang menyentuhnya berambut panjang dengan mata lembut. Mata itu menatapnya seakan ingin melahapnya secara menyeluruh. Ia merinding tentu saja, siapa sih yang tidak saat ada seseorang yang menyentuhnya dengan sosok tembus pandang begitu ?

THE END

Advertisements

7 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s