My Succubus For Me Part 2

Title                : My Succubus for me

Author            : pulpen_ijo@yahoo.com

Genre             : Fantasy, Romance, Heat

Rating             : 21+

Part                 : 2

Suhu ruangan sudah berangsur-angsur hangat. Kontribusi api perapian yang dibuat secara terburu-buru ini lumayan juga pikir Rafe. Dipalingkan muka, tatapannya mengarah ke gadis yang menggelung seperti bola bulu dikursi berbeledu hijau. Rambutnya tersebar dipermukaan kayu kursi yang masih hitam walaupun dimakan jaman. Pikiraannya mengembara, memilah satu demi satu, menyusun, menggabungkan lagi.

“Aku… kau tahu siapa aku.. ?” bisikan lirih keluar dari gadis itu. matanya mengarah ke Rafe dengan sorot mata memohon. Rafe berjongkok disebelahnya, menyisir rambut panjang yang lembut itu dengan jemarinya. Mau tak mau Rafe merasa kasihan, dan kaget sebenarnya karena eksperimen kakaknya yang dianggap keluarga sebagai orang gila itu ternyata berhasil. Memanggil succubus. Dari jaman dahulu kala, menurut berbagai macam kalangan, Succubus adalah makhluk sihir yang erotis dan terkesan menjurus pada tindakan sex. Rafe memperhatikan gadis didepannya yang mulai bisa menenangkan dirinya. Gadis polos ini hanya manusia biasa, putusnya. Tidak mungkin dia adalah seorang succubus, pikir Rafe.

“Kau ini calon istriku.” Jawab Rafe. Terkejut sendiri dengan kebohongannya yang menyedihkan. Seketika gadis itu membelalak. Mulutnya yang mungil membentuk kata o. “Ah, tolong jangan salah sangka, kau menjadi calon istriku karena kita dijodohkan. Kita tidak punya perasaan satu sama lain.” Ujar Rafe cepat-cepat. Demi Tuhan, sekalian saja aku dibakar di tungku panas karena membohongi gadis polos.

“Aku calon istrimu? Jadi siapa namaku?” gadis itu memperhatikan Rafe dengan ketelitian yang tinggi. Tidak menyangka sama sekali sosok didepannya adalah calon suaminya sendiri. Hatinya menjadi lebih tenang. Senyum mulai tersungging di bibir mungilnya.

Rafe tertegun. Benar-benar tidak menyangka gadis didepannya ini mempunyai senyum yang dapat membuat keseluruhan wajahnya menjadi berkilau dan merona. Dorongan untuk mencondongkan tubuhnya, mengulum dan menguasai bibir mungil itu hamper menjadi tidak tertahankan. Focus Rafe. Focus. Siapa nama yang tepat.. siapa.. mata Rafe berkelana pada patung malaikat yang diletakkan didepan perapian. Seketika nama itu terlintas. Ia berdehem, “Ah, namamu Angel” jawab Rafe lirih.

Angel tersenyum senang. “Oh! Aku tidak menyangka kalau namaku berarti malaikat. Ya ampunn..” pipi Angel merona merah. Senyumnya menular pada Rafe yang meyakinkan dirinya kalau semua kebohongan ini demi kebaikan Angel. Angel mengalungkan kedua lengannya pada leher Rafe yang kekar. Rafe tertegun sejenak. Menikmati kenikmatan pelukan dari Angel. Entah kenapa pelukan gadis ini terasa berbeda dari wanita lain. Aku pasti sudah gila, sergah Rafe sambil mulai melepaskan pelukan Angel dengan perlahan. “Lalu siapa namamu?” Tanya Angel polos, menatapnya dengan mata yang menghipnotis itu.

“Aku Rafe. Ah, iya kau mengalami kecelakaan, sayangku. Dan kelihatannya amnesia ya?.” ujar Rafe sambil merapikan bulir bulir rambut di dahi Angel. Entah kenapa Rafe ingin sering menyentuh Angel. Bukan menyentuh saja. Kalau bisa ia ingin menyentuh, meraba, mencium, menghisap.. demi Tuhan! Aku benar-benar sudah gila! pikir Rafe.

“Rafe ?” Angel memperhatikan Rafe. Merasa nyaman dengan Rafe yang menyentuh wajahnya dengan lembut. Dijarak sedekat ini, mau tak mau Rafe kembali memperhatikan Angel dengan leluasa. Gadis itu berambut hitam sehitam arang, dengan bola mata polosnya yang berkilauan tapi juga menghipnotis, hidungnya yang mungil, bibirnya yang mungil tapi ranum. Tatapan Rafe tertuju pada bibir Angel. Mungil. Lezat. Rafe mendekat perlahan, bayangan mencicipi bibir itu menancap kuat dipikirannya. Mata Rafe seakan berkabut. Rasa hangat dan aliran listrik seakan menyebar ketubuhnya saat mereka bersentuhan. Angel menggigil lembut. Tidak terbiasa dengan ciuman lembut dari Rafe karena walau ia amnesia, ia memang belum pernah dicium. Rafe menelusuri pelan bibir Angel, menggigit dan mencumbu dengan lembut, tidak terburu-buru dalam mencium, menunggu hingga Angel membuka bibirnya. Lalu menelusurkan lidahnya ke gigi Angel yang rata. Hentikan Rafe! Pikiran Rafe mulai melaju ke akal sehatnya tapi otak dan tubuhnya seperti tidak sinkron lagi. Yang dipikirkannya sekarang hanya mencumbu, mengecap dan menghirup aroma manis Angel. Milikku. Angel adalah milikku. Tidak akan kubiarkan seseorang merebutnya dariku. Dan Rafe menambah serangannya pada bibir Angel.

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s