My Succubus for me Part 1

Hmm… mau nyoba ngepost karanganku nih.. Ini sebenarnya sudah pernah aku post lewat WATTPAD.. Jadi karena aku authornya, gag ada salahnya kan ngepost di blog ku sendiri… hahaha…

Copy Right by me … Jangan Copy sembarangan loh ya.. hargai yang buat (saya),,

My Succubus For Me

by Nidya Stirling

genre : Fantasy, Romance, Occult

            PART 1

Takut. Gelap. Dingin. Dimana ini? Apa yang kulakukan ? mengapa aku bisa disini ? diraba-raba kedua tangannya. Terasa melepuh dan tebal. Matanya menatap pias kegelapan. Seperti dirinya diselimuti oleh kegelapan pekat. Diangkat kedua tangannya, mencoba menerapkan batas dan mengira-ngira dimana ia sekarang. Peti ? tidak, tidak mungkin. Seingatnya tinggi tubuhnya yang mecapai 165 cm tidak akan muat dimasukkan dalam peti. Tapi lain halnya kalau dia sekarang berada di peti mati. Kengerian merayap dibenaknya. Aku sudah mati ? dikonsentrasikan tenaga kekedua tangannya. Dicoba mengangkat tutup didepan matanya. Satu.. duaa… nafasnya tersengal-sengal. Kriett… akhirnyaa…. Seberkas cahaya…

Ia mengerjap. Bertumpu pada kedua sikunya, dia mengangkat tubuhnya keluar dari peti. Kepalanya terasa pening bagai dipalu. Dan dia melihat sekelilingnya, mempelajari, mengamati segala sesuatunya. Bertumpuk-tumpuk dus-dus dengan isi nya yang tumpah ruah, kertas-kertas kotor yang kelihatannya sering terkena air hujan, laba-laba yang dengan bebas membuat rumah dipojok-pojok dinding. Ia mempelajari kedua tangannya. Berusaha merenggangkan tiap otot dijarinya, lalu beranjak berdiri. Bibirnya kering. Tenggorokannya terasa haus seakan ia tidak pernah minum selama bertahun tahun. Apa iya ?

Ia berjalan menyusuri ruangan. Mencari pintu atau jendela atau tangga. Dimana tangga … ah disitu. Dengan hati-hati seraya berpegangan pada susuran tangga, ia melangkah selangkah demi langkah. Cahaya bulan yang terpancar disetiap jendela di bangunan ini mempermudah pengelihatannya. Sepertinya ini bangunan rumah lama, pikirnya. Gantungan lilin terpasang disepanjang dinding yang lapisan wallpapernya sudah kering dan agak koyak disemua sisi. Kayu yang ada dibawah lantainya butuh polesan tapi jelas masih kokoh karena bisa menanggung beban nya. Matanya masih menyebar kesemua detail ruangan yang perlahan dia lewati. Ruang makan. Ruang perpustakaan. Ruang kerja. Kosong. Dimana semua orang ? apa tidak ada orang disini? Ia sendiri. Teganya. Ia seperti ditinggalkan sendiri. Dibuang.

Pikir. Pikir. Siapa aku ? Mengapa aku disini? Tidak tahu. Amnesia? Entahlah. Jantungnya berpacu cepat. Ia bahkan merasa bisa mendengar bunyi detak jantungnya ditelinganya sendiri. Rambutnya lembab, membentuk tirai mengelilingi wajahnya. Suara langkah kaki. Sekejap rima kaku. Tegang. Mengantisipasi adanya tanda bahaya. Ada sinar yang mengarah ketempat dia bersembunyi. Ia memejamkan mata. Sembari menahan napas…

“Kau benar-benar kembali” suara bariton seorang lelaki mengayun tercekat ditenggorokan. “Tidak kusangka, benar-benar terjadi.,..” tambahnya. Ekspresinya ngeri dan tidak percaya. Shock lebih tepatnya. Perlahan ia membuka matanya, dengan takut-takut menatap sosok didepannya. Lelaki berumur akhir dua puluhan, memakai kaos dan celana jins yang sepertinya sering dicuci. Senter diarahkan tepat kearah wajah nya membuatnya silau. Untunglah lelaki itu cepat tanggap, segera dialihkan sinar lampunya. Ekspresinya menjadi lebih waspada.

Rafe tidak percaya. Tidak percaya walaupun gadis ini benar-benar ada didepan matanya. Kelihatan rapuh dan tidak berdaya. Rambut hitamnya mengalir lembut disepanjang pundak kecilnya. Tubuhnya yang ramping seakan-akan bisa luruh dalam sekali terpaan angin. Dan gadis ini ketakutan. Rafe mengumpat dalam hati, tidak habis pikir pada kakaknya yang eksentrik. Mencoba membangkitkan sesuatu diluar kuasa Tuhan, dan demi tuhan, aku yang harus menyelesaikannya. Rafe mengumpat dalam hati. Menjaga ketenangan dan berusaha membuat ekspresi wajahnya terlihat tanpa emosi walau kelihatannya tidak berhasil.

“Sayang, kau bisa berdiri ?” tanyanya dengan suaranya yang paling lembut. Diulurkan tangannya yang tidak memegang senter. Mata gadis itu membelalak ketakutan dan berkaca-kaca. Ngeri. Takut. Rafe memaksakan senyum. “Tidak apa-apa. Kau sudah aman” bisiknya seraya mencoba menyentuh wajah rapuh dan mungilnya. Basah. Tetes-tetes air mata perlahan mengalir dikedua pipi gadis itu. tidak tahan lagi, Rafe memeluk gadis itu. memberi bisikan-bisikan menenangkan sambari mengelus rambut hitam panjangnya. Dan tangisannya semakin keras. Gadis yang malang, pikir Rafe pedih. Dan semuanya karena kakaknya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s