It Had To be Part 2

Title                 : It Had To Be

Author             : Stirling Raintree ( pulpen_ijo@yahoo.com )

Type                : Part 2

Genre              : Romance, time slip

Rating             : PG – 21

Perempuan itu hilang. Tidak mungkin Drill hanya berhalusinasi. Ia yang berprofesi sebagai pembunuh berdarah dingin sudah pasti dapat membedakan antara khayalan dan kenyataan. Dan Drill benar-benar yakin serta berani bertaruh kalau perempuan yang baru saja dipeluknya dengan pas di tubuhnya adalah nyata. Drill melihat bercak di jasnya yang penuh air mata. Dia nyata, putusnya. Tapi menghilang. Drill menghela nafas berat.

“Kau seperti melihat hantu, Drill” Drill membalikkan badan, menyipit dan melirik sekilas kearah sumber suara. Objek yang tanpa sadar diliriknya dengan tatapan tajam itu melangkah dengan tenang, mengambil dua gelas Kristal kecil sembari menuangkan cairan kuning keras. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya. Suaranya terdengar prihatin. Drill menggeleng pelan, dan menengguk habis cairan di gelas itu. Rasa pahit langsung mengalir dialiran tenggorokannya menyadarkan Drill.

“Apa urusanmu kesini Hawksword?” Tanya Drill ketus, tanpa sadar dalam hati mengumpat menyalahkan temannya karena gadis itu menghilang.

“Ya ampun.. apa kau sedang berada di fase mood-ku-sedang-jelek yang biasa dialami para gadis? Well, seharusnya kau memperingatkanku lebih awal Drill, mungkin dengan mengunci pintu atau memasang larangan jangan-ganggu-aku didepan pintu.” Hawksword menghempaskan tubuhnya disalah satu sofa, memutar bola matanya dengan lucu dan tangannya mengguncang-guncangkan brendi. Mata emas nya berkilau usil saat memandang Drill.

“Tolong maafkan aku.” Drill menghela nafas keras. Ia menyibakkan rambutnya yang hitam bak kayu mahoni dan menyeruput pelan gelasnya yang telah diisi ulang. “Tadi aku sedang mengalami sedikit… peristiwa yang pastinya diluar akal sehat manusia.”

“Hm ? Ada hal yang lebih diluar akal sehat lagi selain profesi kita? Kurasa tidak.” Hawksword menjawab pertanyaannya sendiri dengan nada skeptis. “Seringkali aku bertanya-tanya bagaimana aku bias menggeluti profesi ini. Menguras tenaga, kau tahu.” Sinar mata Hawksword meredup.

Drill memandang seksama Hawksword, partnernya selama 10 tahun itu. Cahaya api menerangi siluet tubuh pemuda itu. Hawksword, telah dianggap sebagai saudaranya sendiri. Semenjak mereka sama-sama bertahan hidup pada kejadian 10 tahun itu. Kenangan yang sangat menyedihkan, pikirnya. Diperbudak, dan hanya Tuhan yang tahu apa saja yang telah dunia lakukan pada mereka. Hal-hal yang hanya mereka berdua saja yang tau dan bahkan mereka sama-sama bertekat menjaga kerahasian peristiwa itu dari keluarga mereka.

“Jangan,,, “ ujar Drill lirih. Hawksword menoleh. Senyum kecil dibibirnya telah kembali walaupun rasa sakit kenangan itu masih terselip.

“Jangan terlalu serius, Drill. Yang penting lakukan pekerjaan kita. Ini demi kita sendiri.” Ujar Hawksword mantap. Ia beranjak dari sofa dan menepuk bahu Drill. “Sudah ya, aku pergi dulu. Sekarang giliranku.” Hawksword melambaikan tangannya dengan ceria pada Drill.

————

Dua sosok tubuh pemuda dengan kedua tangan mereka dirantai menancap pada dinding batu yang lembab. Gelap. Mereka tidak bias melihat. Tidak bisa mendengar. Rasanya bahkan mereka tidak bisa merasakan jari-jari mereka sendiri. Disaat para remaja berumur dua puluhan lain pergi ke Oxford, bermabuk-mabukan, berjudi dengan ria, mereka malah terperangkap di penjara bawah tanah. Entah sudah berapa lama waktu yang mereka habiskan penjara itu. Seminggu. Sebulan. Atau setahun.

“Drill..” suara lirih menyadarkan Drill dari tidurnya. Matanya lebam, mulutnya kering karena kurang minum.

“Hawk.. diam.” Drill memejamkan mata, berusaha menenangkan rusuknya yang sakit karena tendangan bertubi-tubi. Ia tahu Hawk juga merasakan hal yang sama. Semua siksaan ini bertujuan untuk menghancurkan mental mereka. Membuat mereka berjalan dan dapat diperintah seperti boneka.

“Kita… ha.uss.. lahrii..” Hawk berjuang berbicara. “Hnghh,,” pekiknya pelan merasakan rasa tertusuk dikakinya. “Siii… all”

Suara pintu terbuka. Secercah api obor menerangi penjara bawah tanah itu. Dua penjaga yang membawa api obor, dengan seringai buas mereka dan rasa kepuasan karena memukuli tubuh dua pemuda yang tidak berdaya. Seorang wanita dengan rambut emasnya yang berkilauan memasuki penjara lembab tersebut. Wanita tersebut memakai gaun yang benar benar menonjolkan lekuk tubuhnya, daripada menutupi malah lebih tepat membuka. Ia berjalan dengan gemulai dan percaya diri, mengusir dua penjaga yang bergegas keluar hanya dengan lambaian tangannya. Seketika penjara itu meredup dengan hanya satu obor penerangan.

“Jadi.. apakah ada kedua pemuda favoritku ini yang menyerah ?” nada khas yang membangkitkan bulu kuduk. Wanita itu berjalan menuju Hawk. Jari tangannya yang halus mengembara didada Hawk yang bidang. Wanita itu menggeram melihat wajah Hawk yang lebam. “Kedua orang bodoh itu. Padahal sudah kuperingatkan untuk jangan melukai wajahnya. Cih!”

Hawk membuka sedikit matanya dengan lelah. Wanita itu memiliki bola mata yang unik. Berwarna biru dasar laut, nyaris hitam. Mata itulah yang pada awalnya menjerumuskanku dan Drill, pikir Hawk. Bibirnya yang sobek terasa perih saat wanita itu menciumnya. Tidak ada kesan saying atau cinta dalam ciuman itu, yang ada hanya kesan menakutkan. Hawk mulai memberontak. Menggerak-gerakkan kepalanya dengan liar hanya untuk membuat wanita itu menjauhinya. Jauhi aku!! Jangan sentuh aku!! Jerit batinnya. Pipinya panas. Perempuan itu menamparnya.

“Dasar keras kepala!” wanita itu menjauhinya dan beralih menuju Drill. Drill hanya menatap dan kemudian membuat tatapannya menghujam kerang yang membuat ketakutan berkelebat sekilas. Tapi tamparan juga menerpa pipi Drill. Kanan. Kiri. Berulang-ulang. “Kau kira, siapa kau berani menatapku seperti itu?? HAH?!! Bocah sialan!! Rasakan!!” berulang-ulang. Hingga Drill hanya menelengkan kepalanya pasrah. Nafas ngos-ngosan wanita itu membuatnya muak. Sial! Sialaannnn!!

==

Keringat mengucur deras membasahi seprainya. Drill menatap dinding kamarnya dengan pandangan kosong dan mata nanar. Ia lalu mengusap keningnya yang penuh dengan keringat. Sialan. Mimpi buruk. Tanpa sadar tangannya mengusap pipinya. Mimpi buruh itu seakan mengingatkannya. Rasa panas yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Masih teringat sumpahnya sepuluh tahun itu. Sumpah yang didasari keinginan yang kuat. Aku pasti akan membunuh wanita jalang itu.

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s