It Had To be Part 1

Title                 : It Had To Be

Author            : Stirling Raintree ( pulpen_ijo@yahoo.com )

Type                : Part 1

Genre              : Romance, time slip

Rating             : PG – 21

Autumn tersenyum sedih. Berjuang menahan tetesan air matanya yang sudah pasti tidak mampu dibendungnya. Tapi ia tetap berusaha. Terus berjalan menyusuri lorong-lorong temaram. Lorong-lorong panjang sebuah gedung yang telah direnovasi kembali, dipugar dan dibuka sebagai gedung acara khusus.

Pernikahan misalnya.

Ia akan ikut senang bila temannya ada yang menikah. Sungguh! Bahkan mungkin Autumn akan meneteskan satu atau dua bulir air mata dengan cantik sambil membisikkan ‘sudah kuduga’ di pipi merona temannya yang menikah. Tersenyum dan memberi selamat serta mendoakannya dengan tulus.

Setidaknya itu yang akan ia lakukan pada awalnya.

Saat ini ia hanya ingin menghilang saja dari tempat ini. Menjauhi keramaian. Menelikung pandangan bertanya tamu-tamu yang diarahkan kepadanya, bertanya-tanya kenapa tunangannya selama 5 tahun terakhir malah menikah dengan sahabat dekatnya sendiri. Autumn benar-benar tidak tahu. Memang ia jarang sekali berkomunikasi selama setahun belakangan ini dengan Andre, tapi bukan berarti hubungan mereka sudah putus. Bukan berarti Andre bisa seenaknya putar balik menikahi sahabatnya tanpa penjelasan pada mantan tunangannya.

Autumn menghapus sia-sia lolosan air mata dipipinya. Menghapus sedikit riasan wajahnya. Ingin mencari ruangan kosong pencurahan kesedihannya. Perpustakaan. Autumn pernah mendengar gedung ini walau dioperasikan sebagai gedung pernikahan tapi pemiliknya ingin tetap mempertahankan esensi keasliannya.

Sedikit lagi. Langkah autumn sedikit terseok-seok, agak kesulitan dengan sepatu high heals merahnya. Derit pintu terdengar. Dikegelapan temaram itu, autumn menuju sebuah sofa hijau nyaman. bahkan atmosfer diruangan itu ikut berubah.

Tidak bisa lagi menahannya, air mata nya tumpah. Benar-benar meluluhlantakkan riasan wajah dandanan 2 jamnya.

Andre brengsek! Berani-beraninya lelaki sialan itu! hatinya sakit oleh pengkhianatan kedua orang yang disayanginya. Bibir mungilnya yang biasanya berbicara dengan ramah dan merdu, mulai mengumandangkan kata-kata umpatan. Menangis sejadi-jadinya. Matanya bengkak, gaunnya kusut, tatanan rambutnya mulai amburadul. Membuat hidupnya menjadi lebih sial.

Sudah setengah hari ia bersembunyi. Untuk waktu yang pas. Mudah sekali menjadi pemangsa. Cukup pilih incaranmu, permainkan ia untuk waktu yang lama, lalu bunuh. Selesai sudah. Dan sudah lama ia mengincar Lord tambun itu. dengan wajahnya yang ramah seperti kakek-kakek penyayang binatang memang mengklamufase semuanya. Tidak ada yang tahu, kecuali Tuhan tentunya, bila Lord Abbys memiliki kebiasaan memakai anak lelaki. Semakin muda semakin baik. Benar-benar penyimpangan yang bahkan membuatnya mengerutkan alis. Membuatnya mual.

Ia sudah bersiap-siap dengan sebuah revolver. Senjata modifikasi nya sendiri. Dengan ketepatannya dalam menembak, sudah dapat dipastikan korbannya akan mati. Mulutnya menyeringai, memamerkan sekilas giginya yang putih.

Sudah terlihat.

Sejenak diarahkannya moncong senjatanya dan diringankan tubuhnya. Semak pohon melindungi sebagian tubuhnya dengan sangat baik. Dengan satu tarikan nafas Lord Abyss terlempar pelan. Berbagai teriakan mulai membahana. Disembunyikan dengan lihai senjatanya dibalik jubahnya, dan berjalan dengan tenang menutup semua emosinya.

Keretanya berjalan dengan perlahan memasuki estate nya. Bangunan yang telah berdiri sekitar satu abad yang lalu itu menguarkan kemegahan kuno nya. Pagarnya menjulang tinggi, dengan batu yang disusun secara sistematis menghasilkan hasil akhir yang bahkan membuat seorang pangeran Inggris terpana melihatnya.

Drill menjejakkan sepatu botnya keluar kereta. Meregangkan tubuh tegapnya dengan cara yang sopan dan segera melangkah dengan langkah berat kedalam rumahnya.

“Selamat malam sir, air panas sudah menunggu diatas.” Salam Barnes seraya membuka dan membungkuk anggun. Kedua gerakan tersebut dialkuakn dengan keakuratan yang pas.

Drill menaiki tangga berputar dan sampai didepan kamarnya. Dengan segera dilepaskannya jas , kemeja dan celana botnya. Ia tenggelam dalam kenikmatan air panas. Uap menguar membentuk embun. Otot-ototnya yang tegang mulai mengendur. Perasaan puas mulai membanjirinya. Matanya menerawang mengulang kejadian beberapa saat lalu. Menikmati adegan-adegan ulang tadi.

Pintu ruang perpustakaan dibukanya. Kehangatan menguar didalamnya. Pelayannya telah memastikan untuk menghangatkan perpustakaan setiap malamnya. Karena disitulah biasanya ia akan melewatkan sebian malamnya untuk menenangkan pikiran dan menikmati secangkir sherry.

Ada yang berbeda. Imstingnya secara naluri beraksi. Telinganya dipertajam. Samar-samar suara cegukan seperti orang menangis terdengar. Drill waspada. Otot-ototnya menegang kembali. Suara menangis itu mulai jelas terdengar. Dihilangkan suara kakinya. Drill sudah ahli dalam hal seperti ini. Membunuh adalah keahlian ketiganya setelah bercinta dan investasi. Dengan perlahan dibukanya pintu kayu eek itu. mulus tanpa derit. Sofa hijau tempat biasanya ia menikmati malamnya ditempati oleh sesosok manusia. Perempuan mungkin, dilihat dari porsi kursi yang ditempati tidak sampai setengahnya. Rambut hitam panjang wanita itu beberapa helai terlepas dari gulungan. Suara tercekik menghiasi tangisan wanita itu.

Drill mendekat. Dengan perlahan. Di jarak yang dirasanya cukup untuk mengawasi dan melihat wanita itu.

Wanita itu mengangkat wajahnya dari sapu tangan basahnya. Cahaya api menerangi pipinya yang halus, lehernya yang jenjang, mata gelapnya yang berkabut karena menangis,  gaun terbuka nya yang khusut,menampilkan belahan kaki jenjang yang dinaikkan disofa.

Drill menegang. Menegang secara harafiah. Bahkan Drill yang selalu merasa muak melihat perempuan menangis tidak dapat mengingkari kecantikan gypsy ini. Ya, perempuan ini pastilah seorang gypsy. Ia terkejut dengan reaksi fisik ini. Lama sekali Drill sudah tidak pernah kehilangan control terhadap perempuan.

Drill menghampiri perempuan itu. benar-benar tidak terduga, padahal sudah banyak sekali perempuan-perempuan anggun yang menangis dengan cantik demi mendapatkan perhatiannya –dan ia tetap tidak tergugah. Tapi perempuan ini.. yang menangis dengan tidak anggun, bahkan kedua kakinya ditopangkan dikursi dan membentuk badannya seperti gumpalan bola… entah mengapa, benar-benar menggugahnya. Hatinya ikut sakit melihatnya. Ia samar-samar menghirup wewangian perempuan ini. Menyerapnya bagaikan wewangian surga. Ya ampun. Drill benar-benar sudah sinting.

“Madam… “ bisik Drill lirih. Berusaha mendapatkan sejentik respon dari perempuan itu. perlahan-lahan wajahnya terlihat dari jepitan kakinya. Drill tertegun. Demi Tuhan. Mata hijau yang berkaca-kaca ini benar-benar menyerapnya. Perempuan  itu masih menatap Drill dengan pandangan bertanya dan kaget tentu saja. Drill mengusap lembut jejak-jejak air mata di pipinya yang merah. Menikmati mengurai kekusutan rambut coklat perempuan ini. Tidak seperti Drill yang biasa, Drill yang ini dengan lembut menyingkirkan helai-helai rambut yang lengket karena airmata. Drill yang ini mencium perlahan untuk menghapus kesedihan yang ada di mata hijau laut itu.

Siapa lelaki ini ? ya ampun. Aku tidak mengenalnya. Tidak, siapa dia ? Autumn merasakan jemari kuat lelaki asing didepannya itu menyentuhnya dengan kehati-hatian saat menyentuh anak kecil. Mata hitamnya yang kuat. Tiba-tiba saja kecupan lelaki itu yang mendarat di kelopak matanya, membuatnya semakin tenang. Autumn berusaha mengendalikan diri. Sebenarnya bukannya ia sakit hati, karena memang ia tidak jatuh cinta pada Andre. Bahkan tidak ada reaksi meletup-letup seperti gunung meletus saat Andre mencium bibirnya. Benar-benar berbeda dari ciuman lelaki didepannya ini. padahal ia belum mencium bibirnya, tapi kenapa autumn merasa gemetar? Debar jantungnya seperti mau copot, badannya menghangat. Aku menyukai pelukan lelaki ini, putusnya. Dadanya yang bidang dan lehernya yang kuat. Andai waktu berjalan selamanya dan dia terus memelukku, tentu hidupnya akan benar-benar sempurna…

Advertisements

7 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s